Skip to main content

Featured Post

Ordering Food is Like Choosing Netflix Show

Every company has this same question they asked themselves everyday: How can we provide the most unique offering to our costumers? How can we win our cuctomers’ mind and heart? The type of question Grab also have. The Singaporean transportation network company has been expanding in Indonesia eversince it’s appearance in 2014. 

Kata itu Netral, Persepsi Tidak

badan bahasa seminar leksikografi indonesia
foto: badanbahasa.kemdikbud.go.id

Sebagian pegiat mengganti kata asli dengan kosa kata baru untuk istilah sensitif dan tabu. Kata asli dianggap bernilai rasa rendah. Contoh: 'Cacat' dipadankan 'Tuna'. 'Jamban' disesuaikan 'Toilet'. Sebenarnya, langkah apa yang diterapkan untuk pemadanan kata? Ivan Lanin dari Komisi Istilah ungkapkan dalam Seminar Leksikografi Indonesia 2018 “Leksikografi di Era Digital”, Hotel Santika Slipi , Jakarta (2/8/18).   


Pedoman Umum Pembentukan Istilah

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta, Kenia A. Saptiti dari Universitas Airlangga bertanya. Bagaimana proses pemadanan yang diberlakukan untuk kata atau istilah yang dianggap tabu dan sensitif.    

Menurut Ivan, kata itu bersifat netral. Persepsi manusialah yang menganggap sebaliknya. Namun ada kriteria yang dapat diterapkan dalam menentukan istilah. Kita dapat mengacu pada Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI).    

“Saya beranggapan kata itu netral. Yang tidak netral itu persepsi manusia. Tapi memang kita mengakui, kita punya rambu-rambu yang mesti dipatuhi,” sebutnya.

Dalam PUPI, lanjut Ivan, ada 5 kriteria istilah yang baik. Dua di antaranya menjamin kata yang dipilih itu akan bagus, baik secara makna konotatif maupun bunyi (eufonik). Proses pemadanan bisa subjektif.

“Bagaimana itu diterapkan? Dua faktor itu subjektif. Penilaian dari satu orang dengan orang lain bisa saja beda. Yang paling sering dikemukakan itu pemilihan antara ‘lokalisasi’ dan ‘pelokalan’,” bebernya.

Namun, di sisi lain, masukan sebagai pertimbangan bisa saja datang dari para pengguna istilah itu sendiri. Contoh, istilah Tuna Rungu.      

“Dulu diusulkan ‘Tunarungu’. Tapi orang Tunarungu memilih kembali ke istilah ‘Tuli’. Karena menurut mereka, ‘Tunarungu’ justru tidak menggambarkan diri mereka,” tutur Ivan. 


ivan lanin sidang komisi istilah
foto: badanbahasa.kemdikbud.go.id

Ada Dua Mazhab

Selanjutnya, apakah semua istilah baru atau asing yang mengemuka perlu dipadankan? Terutama oleh Komisi Istilah. Ada dua aliran, jawab Ivan. Pertama, aliran yang menganggap istilah tidak perlu dipadankan. Kedua, aliran yang menganggap perlu memadankan istilah. Komisi Istilah menganut aliran yang kedua.

“Alasan utamanya adalah untuk memudahkan kita melafalkan dan menuliskan. Proses memadankan ada dua: penerjemahan dan penyerapan,” imbuhnya.

Tapi ada saat di mana tidak perlu memadankan istilah baru. Yakni ketika istilah asal sudah bisa diserap dengan mudah. Contoh: kata ‘Vegan’. Semua orang Indonesia mudah melafalkan dan ingat cara menulisnya

“Tidak usah kita capek-capek memadankan dengan ‘Pengonsumsi Sayuran Mutlak’. ‘Vegan’ saja cukup,” ujarnya.  

Untuk kata semisal Hoax dan Bungee Jumping perlu dipadankan kosa kata baru. Ini adalah contoh kosa kata asing yang sukar dilafalkan dan dituliskan bagi sebagian orang. Berita Bohong untuk Hoax. Terjun Lenting untuk Bungee Jumping. 

Jika sudah dipadankan, langkah selanjutnya adalah pembiasaan lewat sosialisasi  dan diseminasi. Suatu istilah padanan bisa disebut berhasil bila sudah digunakan meluas para penutur bahasa. Contoh kata ‘Warganet’ kini lebih populer dipakai ketimbang istilah Netizen.

Ivan Lanin sebagai pembicara kunci menyampaikan makalah bertajuk "Pengembangan Aplikasi Pendukung Kerja Komisi Istilah". 

Tentang Komisi Istilah

Sidang Komisi Istilah (SKI) merupakan kegiatan penyusunan padanan istilah suatu bidang ilmu yang dilakukan pakar bidang bersama dengan ahli bahasa. Komisi di SKI dibagi menjadi: Komisi Istilah, Komisi Penyelaras Istilah, dan Komisi Pertimbangan Istilah.

Komisi Istilah melakukan pemadanan istilah baru. Sedangkan Komisi Penyelaras Istilah melakukan penyelarasan berdasarkan hasil kerja Komisi Istilah. Komisi Pertimbangan Istilah dibentuk sesuai kebutuhan untuk memberikan pertimbangan kepada Komisi Istilah dan Komisi Penyelaras Istilah.



Comments

  1. Awalnya saya membaca berulang ulasan ini karena saya belum terlalu paham yang dibicarakan, ternyata ini mengenai pemadanan istilah yang dipakai oleh orang. Pengetahuan baru untuk saya mengenai bahasa Indonesia. Apalagi pematerinya Bapak Ivan Lanin yang udah dikenal dalam istilah2. Keren.

    ReplyDelete
  2. Wah, ilmu banget nih, baru tahu bungee jumping itu terjun lenting, makasih ilmunya, memang benar kata netral sering berubah makna karena persepsi

    ReplyDelete
  3. Aku baru tau kalau ternyata menentukan istilah melewati sidang kaya gini.

    ReplyDelete
  4. Bukan sekedar ketemu kata langsung post ya kayak status. Sumpah bingung awalnya apaan nih hahaha

    ReplyDelete
  5. Wah keren bisa belajar bareng Ivan Lanin. Selama ini saya hanya mantau di twitternya saja. Banyak ilmu kosa kata yg wajib blogger tahu.

    ReplyDelete
  6. Memang iya sih, manusianya sendiri yang menjadikan kata-kata memiliki banyak persepsi, atau tergantung sudut pandang yah

    ReplyDelete
  7. Pengen juga nih berguru pada Ivan Lanin hahaha. Aku tu kadang kalau nulis suka cek2 di KBBI juga lhooo. Kalau gak yakin aku miringin :D

    ReplyDelete
  8. naaah ini diaaa.. kadang2 kita ngga tau, tapi beberapa bloggers yang konsen disini suka ngasih tau. Jadi trims hihi.. kalau gw sendiri kadang suka-suka kalau nulis yg penting pembaca blog paham.

    ReplyDelete
  9. Jadi kepikiran, sebetulnya sudah ada belum sih aplikasi untuk di hp yang bisa digunakan sebagai kamus untuk hal-hal seperti ini? Kan kalau ada enak ya, kita bisa lebih mudah tahu dan membiasakan diri untuk menggunakannya, terutama untuk para blogger seperti kita ini.

    ReplyDelete
  10. Berat bnget klo dah masalah bhs Ind lebih detai ya aplg ada mazhab2nya jadu tambah ilmu ini

    ReplyDelete
  11. Pengetabuan baru banget niih..baru tau, sempat bingung agak berat juga bahasannya hahaha...

    ReplyDelete
  12. Untuk istilah-istilah saya sendiri sering bingung menggunakan kata yang mana yang tepat Misalnya saja yang disebutkan di atas yaitu tunarungu Kita sebagai orang biasa sering lebih sering menggunakan tunarungu tetapi ternyata lebih baik tuli

    ReplyDelete
  13. Seriusan gini? Baru tau euy. Panjang juga ya prosesnya.

    ReplyDelete
  14. Note nih buat tambahan referensi saya untuk lebih banyak belajar tentang kosakata dan padanannya

    ReplyDelete
  15. aku baru tahu mengenai hal demikian, dan ini penting juga yah, apalagi kayak yang tunarugu dan tuli tadi, dua istilah yang sangat beda..

    ReplyDelete
  16. Iya lebih enak sebut warganet daripada nitizen. Ternyata bisa ya kita mengajukan ketidak sukaan kita dgn kata tersebut. Seperti kata tunarungu yg ditolak dan lebih memilih tuli.

    ReplyDelete

Post a Comment