Skip to main content

Featured Post

Ordering Food is Like Choosing Netflix Show

Every company has this same question they asked themselves everyday: How can we provide the most unique offering to our costumers? How can we win our cuctomers’ mind and heart? The type of question Grab also have. The Singaporean transportation network company has been expanding in Indonesia eversince it’s appearance in 2014. 

Sepatu Lokal, Tuan Rumah di Negeri Sendiri


Adityalogy dan Yoshi Setyawan


Bicara sepatu kets, kita langsung ingat Converse, Nike, atau Adidas. Jenama asal luar negeri ini melekat di benak kita sudah sejak lama. Sehingga nama-nama inilah yang pertama kali menyembul di kepala ketika bahas alas kaki berkualitas tinggi.

Empat Ratus Ribu Jadi Empat Juta

Tapi tahukah rekan pembaca, kini makin banyak anak muda gandrung sepatu merek lokal? Jadi kalau ngobrol sneaker paten, generasi milenial juga tak lupa sebutkan satu nama yakni Compass. Compass adalah sebuah brand lokal yang membuat sepatu vulkanisir sejak 1998. Rentang harga sepatu mulai dari Rp 278.000 hingga Rp 508.000. Harga yang terjangkau dibanding harga sepatu sejenis bermerek asal negeri Paman Sam.

Yang menarik ialah eksistensi sepatu Compass mencapai puncak seiring terus meningkat permintaan. Reseller berlomba-lomba dapatkan Compass, karena sudah jaminan sepatu laris terjual habis. Menjelang buka, konsumen sudah antre mengular di depan toko di mana Compass umumkan produksi baru. Jumlah pembelian pun dibatasi, satu orang hanya boleh membeli sepasang sepatu di hari yang sama. 

Sneaker Youtuber Anugrah Aditya tuturkan fenomena ini lebih lanjut. Hype terjadi karena produsen asal Bandung itu adalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Jumlah  produksi jauh di bawah angka permintaan pasar. Compass hanya mampu produksi 3.000 pasang sepatu per bulan. Sedangkan permintaan mencapai 21.000 per bulan. 

Compass juga menggelar penjualan secara raffle atau diundi demi memenuhi permintaan konsumen. Tapi apa daya yang ikut undian mencapai 4 ribu orang, sedangkan sepatu yang tersedia hanya 180 pasang.

Tak heran bila keberadaan sepatu jadi limited hingga hampir mustahil ditemukan di produsen langsung apalagi reseller. Mengendus peluang, banyak pembeli yang berhasil mendapatkan sepatu Compass menjualnya lagi dengan harga yang lumayan fantastis. 

“Ada momen di mana sepatu Compass seharga 400 ribuan laku dijual dengan harga hampir 4 juta rupiah,” sebut Aditya dalam obrolan How To Monetize The Hype, DCODE “Age of Pridea Fest 2019”, Ahad 6 Oktober 2019, Jakarta Convention Center.

Menurut pemilik kanal Adityalogy, hal ini menunjukkan orang Indonesia sebenarnya memiliki nasionalitas yang tinggi dalam mendukung produk lokal. Hype yang  sekaligus menggelorakan gairah optimistis kita akan keberadaan brand lokal yang bersandingan dengan Yeezy atau Air Jordan. 

Di samping itu, Aditya menganggap sepatu Compass juga memiliki strategi pemasaran yang efektif, narasi yang tepat, dan konten instagram yang bagus.  Menggapai anak zaman now lebih akrab lewat komunikasi bahasa visual. Compass identik dengan nuansa vintage, terutama nostalgia masa keemasan sepatu kanvas. 

Tapi Compass sudah sejak akhir 90-an eksis, kenapa baru sekarang hype-nya? Untuk soal ini Aditya punya teori tersendiri. Para peminat sneakers sudah sampai pada titik jenuh terhadap kehadiran model-model sepatu kets luar negeri. Indonesia juga sedang menapaki semangat kebanggaan menggunakan produk lokal. Apalagi pemerintah sedang giat menggerakkan industri ekonomi kreatif. Belum lagi menyebut idealisme si pemilik Compass, Aji Handoko. 

“Orang-orang Singapura yang bikin acara sneaker, ingin banget sepatu Compass ada di event mereka. Aji tidak mau. Gue pengen nguatin roots di Jakarta. Gokil, man. Makin pengen orang ke sini. Itu baru satu brand,” ungkap Aditya. 

Youtuber “Berapa Harga Outfit Lo” Yoshi Setyawan ceritakan pengalaman berburu Compass yang jarang membuat sepatu dengan ukuran kakinya. Ukuran sepatu Compass biasanya antara 41, 42, dan 43. Sedangkan ukuran kaki Yoshi adalah 45. Dia rela merogoh kocek dengan jumlah rupiah besar demi mendapatkan sepatu lokal idaman. 

“Gua pernah ngeluarin uang 1,7 juta untuk sepasang sepatu Compass kolaborasi dengan Bryan Notodiharjo. Enggak rugi, karena gua beli sepatu Nike 2 juta, kenapa untuk brand lokal enggak begitu juga,” sebutnya.

Makin bangga lagi ketika pemilik kanal Yoshiolo ini memperoleh informasi dari pelaku industri brand lokal. Menurut penuturan mereka, perkembangan brand lokal yang disambut konsumen dalam negeri ini turut menekan keberadaaan produsen-produsen sepatu palsu atau KW.

Selain mengikuti diskusi seru seputar dinamika konten kreatif, penulis juga sempat mengikuti Sneaker Custom workshop bersama Bernhard Suryaningrat dari Never Too Lavish. Seniman di balik desain jaket denim yang dipakai Presiden Joko Widodo ini membagikan tips dasar seputar memadukan warna dan mengukir kuas di atas kanvas sepatu. Yang paling menyenangkan, para peserta boleh membawa pulang sepatu yang sudah dijadikan eksperimen berkesenian itu.     

Comments

Post a Comment