Featured Post

Ensiklopedia Pernikahan Sajikan Terminologi Yang Komprehensif

Gambar
  Muharam Marzuki, Ph.d  Direktorat Bina Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah, Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI melanjutkan kegiatan penyusunan Ensiklopedia Pernikahan . Pembahasan bertajuk “ Penguatan Sinergitas Kelembagaan Bimbingan Perkawinan”   yang digelar pada 9-11 November 2020 di Bandung, Jawa Barat

Agar User Kembali Pakai Kita Lagi

foto. EV Hive

Bagaimana cara mendapatkan traction (daya tarik) hingga memperoleh user setia? situs donasi dan penggalangan dana, kitabisa.com membeberkan tipsnya. Targetkan pemasaran ke berbagai kategori pengguna untuk akhirnya menemukan satu kategori pengguna yang paling potensial lalu fokuskan dan perkuat. 



Bukan Drama Tapi Kisah Sukses

 “Selama dua tahun ini fokus di campaigner atau orang yang menggalang dana. Dulu kita coba ke berbagai kategori. ke teman-teman social enterprise, NGO, mahasiswa. Terus kita segment by category pemberdayaan masyarakat, edukasi, program-program yayasan, biaya medis. Kita coba satu-persatu,” ungkap CMO kitabisa, Vikra Ijas dalam diskusi panel “Introduction to Social Entrepreneurship: Can We Create Impact and Money at Same Time?”, EV Hive The Maja, Jakarta (23/3/17).

Ternyata segmen terkuat adalah users yang mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan.

“Akhirnya ketemu, kita menemukan satu sektor di medical bills category. Ternyata banyak orang yang mau membantu, rekan, sahabat, kenalan, yang lagi sakit, pengen mengajak orang lain juga bantu biar lebih gede bantuannya. Users ini yang paling bagus feedback-nya ke kita, dari kualitatif juga data. Dari situlah terus kita amplify,” jelasnya.  

Pendekatan pemasaran yang diterapkan adalah mempromosikan kisah sukses dari upaya penggalangaan dana tersebut.

“Approach marketing kitabisa selalu tidak mempromosikan drama tapi lebih ke success story-nya. Cerita ketika si A membantu B dan alhamdulillah B sembuh. Atau ketika ada komunitas yang akhirnya membuat orang jadi punya pekerjaan,” imbuhnya.

Ketika kita mengoptimalkan upaya ke segmen terkuat ini, pertumbuhan perusahaan pun menjadi stabil. Setelah itu barulah tercipta kunci untuk membuka pintu-pintu segmentasi lainnya.

“Ketika fokus ke satu kategori ini, baru pertumbuhannya mulai stabil. Dari situ barulah meng-unlock new markets, Bukan hanya fokus bikin produk tapi kepada siapa kita komunikasikan. Bahasanya pun spesifik, ketika kita ke sektor orang-orang yang butuh bantuan medical bills. User-nya kita fokuskan untuk mereka. Ketika sekarang NGO, baik yang lokal dan internasional mulai pakai, bahasanya kita sesuaikan lagi kepada mereka. Mulailah terbuka pintu baru,” bebernya.

Hal seperti ini yang menjadi pendongkrak suatu Social Enterprise. yaitu ketika kita menemukan dan fokus ke pengguna terkuat kita. Agenda selanjutnya adalah bagaimana memelihara hubungan ini agar user kembali menggunakan produk kita lagi.  

"Hal-hal yang kayak begitu sebenarnya bisa menjadi leverage buat Social Enterprise. Ketika kita menemukan power users kita. Di situ baru kita melihat, kuncinya adalah user retention. Tidak hanya akuisisi yang perlu kita fokuskan, khususnya yang di tech platform, tapi juga retensinya. Bagaimana orang yang sudah pakai, dia akan kembali pakai, dan pakai lagi," pungkas Vikra.   

Diskusi juga menampilkan pembicara CEO Temoo App, Maral Dipodiputro dan Co Founder Platform Usaha Sosial (PLUS), Augustine Merriska 

Postingan populer dari blog ini

Tangkas SEO dan Cerdas Keuangan

Kembalinya Satu Paket Kocak di Film Preman Pensiun

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosakata Sunda