Skip to main content

Featured Post

Ennichisai 2018; Festival Budaya Jepang di Blok M Square

Acara tahunan yang paling ditunggu: Japanese traditional festival, Ennichisai kembali digelar, sebagai rangkaian acara peringatan 60 tahun Persahabatan antara Indonesia dan Jepang.
Ennichisai kali ini mengusung tema Passion-9th. Festival diadakan di area Little Tokyo Blok M Square, Jakarta pada sabtu 30 Juni hingga ahad 1 Juli 2018.
Di sini, pengunjung bisa merasakan suasana festival seperti di Jepang. Ada berbagai pertunjukan menarik yang dimeriahkan bintang tamu dari dalam negeri maupun dari Jepang.
Selain pertunjukkan panggung, di Ennichisai juga terdapat ratusan booth makanan dan minuman khas Jepang. Menarik, bukan?

BukaTalks: Jangan Suruh Hafal, Ajak Anak Alami

BukaTalks BukaLapak Pendidikan Untuk Semua

Macgyver lumpuhkan penjahat hanya lewat rakitan alat yang ditemui di sekitar. Dalam versi remake, di satu episode, cowok panjang akal ini bilang ayahnya yang mengajarkan dia science (sains) sejak kecil. Co Founder Ilmuwan Muda Indonesia (IMI) Kartika Oktorina membawa keseruan sains untuk anak di BukaTalks by BukaLapak: “Pendidikan Untuk Semua”, Plaza City View, Jakarta (2/5/18).

Experiential Learning

Menurut Kartika, sains penting karena dari situ logika dibangun. Ketimbang menghafal rumus, anak-anak lebih efektif diajak mengalami sendiri proses ilmu pengetahuan lewat praktek. Penguasaan konten penting, tapi ia hanya bagian kecil dari keseluruhan tujuan sains.  

Jadi sebelum mempelajari rumus dan menghitung, yang diajarkan pertama adalah memahami apa itu sains. Ada nilai yang harus diperoleh dari pendidikannya. Terdapat rangkaian analisis berpikir yang dilatih. 

“Anak belajar sains untuk melatih sikap dan keterampilan. Kritis, bertanya, berpikir logis, mampu melakukan verifikasi. Termasuk sadar ketika melakukan sesuatu, ada konsekuensi," tandasnya.

Kita memahami dengan ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Dari situ tahapan pendewasaan mulai terbentuk.

inilah metode experiential learning yang diadopsi IMIAnak-anak memaknai dan mengalami hal tak terlupakan dalam pembelajarannya. Bahwa belajar tidak hanya di dalam tapi juga di luar kelas. 

Tempat  Cuci Otak

Menurut penelitian, planetarium jadi ajang jatuh cinta pertama anak terhadap sains. Maka sejak 2015 IMI hadir dengan Mobile Planetarium, yaitu studio portabel simulasi bintang dan benda langit yang berkeliling ke pelosok negeri. Program ini dijalankan  bukan tanpa sebab. IMI mendapati, ternyata jumlah studio planetarium masih kurang untuk populasi anak Indonesia yang tersebar di 34 provinsi.

Kartika sebutkan, hanya ada 5 planetarium di Indonesia. Yakni dua di Jakarta dan masing masing satu di Surabaya, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur. Menurut data BPS tahun 2016, ada 20 juta lebih anak Indonesia dengan tingkat SD.

Jadi planetarium portabel membuka peluang bagi anak daerah yang belum pernah mengunjungi studio simulasi benda-benda langit. Hingga saat ini, IMI sudah mengunjungi 20 kota, memboyong bintang dan planet dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Bertemu anak dari berbagai latar belakang budaya.

Terselip cerita menarik saat kunjungan ke satu kota besar di Pulau Sumatera. Kartika menuturkan, ia bertemu seorang anak yang dilarang masuk planetarum oleh orangtuanya. sedangkan  700 temannya diperbolehan. ketika ditanya alasannya, ia tidak diperbolehkan masuk karena planetarium dianggap tempat cuci otak. 

"Kita tidak bisa menyalahkan orangtuanya. Karena mereka pun belum pernah masuk ke planetarium. Tidak ada planetarium di kota yang kami tuju," sebutnya.

IMI juga menyediakan laboratorum berpindah dengan 100 eksperimen berbahan sederhana sehari-hari yang bisa dicoba seluruh anak..

“Kami ingin membuat mereka mau belajar, mencoba, tanpa harus takut merusak peralatannya,” ujar Kartika.   

Dengan mengalami sendiri, melakukan percobaan di lab, anak merasa berhasil memenangkan sains.

Lewat fasilitas-fasiltas ini, anak mendapati belajar sains itu menyenangkan.  Dengan membekali lengkap sejak dini generasi penerus bangsa,  masa depan Indonesia makin tampak cerah dituju.

Hadir juga sebagai narasumber Director of True Creeative Aid Achmad Ferzal, dan Founder Clevio Coder Camp Aranggi Soemardjan.



Comments

  1. Ada baiknya jumlah Planetarium yang ada di Indonesia, sama dengan jumlah provinsi. Nanti tinggal kasih keunikan masing-masing aja. Jadi kan tambah tahu, tambah banyak ilmu

    ReplyDelete
  2. Klo dengar saina berasa pusing tapi ada sebagian orang suka. Salah satu cara memperkenalkan ya sedari dini

    ReplyDelete
  3. Wah wah jadi diingetin kalau harus ajak anak ke planetarium. Kalau di Jakarta yang di komplek TIM itu kan ya? Sebelah perpus Cikini?

    ReplyDelete
  4. Planetarium portabel? Wow, keren. Jangankan anak2, aku aja pengen bisa merasakan dan melihat sains secara langsung. Seru banget pasti. Semoga semua anak di pelosok bisa merasakan fasilitas ini.

    ReplyDelete
  5. wah keren ini inovasi baru, jadi keingetan juga kalau anak2 belum pernah ke planetarium nih :)

    ReplyDelete

Post a Comment