Alisa Khadijah ICMI Jadi Charger Anggota Tingkatkan Skala Bisnis

 

foto: Oki (Alisa Khadijah ICMI Pusat) |

Ketua Umum ICMI arif Satria mengapresiasi Alisa Khadijah ICMI sebagai institusi yang progresif, dan menjadi tulang punggung ICMI.


 Riset dan Inovasi     

Karena, tidak sekadar perkumpulan, Alisa Khadijah adalah asosiasi perempuan berdaya yang memiliki daya transformasi ekonomi. 

Maka, Arif menekankan peran Alisa Khadijah ICMI sebagai wadah energi positif bagi anggotanya. Ibarat charger, Alisa mengalirkan inspirasi, saling mendukung, dan menguatkan sesama anggota.   

”Saya berharap suasana di ICMI, suasana di Alisa Khadijah, penuh energi positif. Yang terus membesarkan, menginspirasi, menyemangati untuk belajar,” sebut Arif dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Alisa Khadijah ICMI “Kedaulatan Pangan dan Industri Halal sebagai Fokus Utama Menuju Indonesia  Emas”, Rabu 29 Juli 2026, Ballroom Masjid Agung Trans Studio, Bandung, Jawa Barat.   

Arif menyemangati Alisa Khadijah untuk tangguh eksis di antara usaha yang besar-besar. Karena yang besar itu dulunya juga kecil. 

”Apa yang bisa membuat mereka besar? Karena punya willpower. Kekuatan kemauan. Bukan kesempatan yang membuat kita maju, tapi kemauan besar. Kemampuan bisa diasah, dan kesempatan bisa diciptakan,” jelasnya. 

Arif menyebutkan salah satu role model yakni pendiri ParagonCorp Nurhayati Subakat dengan brand unggulannya, Wardah. 

”Dulu Wardah juga UMKM. Mengapa Wardah menjadi besar? Karena ia merespons, belajar, kerja keras, imbuhnya.   


Selanjutnya, Ketum ICMI menyebutkan, riset dan inovasi merupakan langkah strategis untuk mencapai usaha yang maju dan berkembang. 

”UMKM menjadi besar karena strateginya hebat. Strategi hebat, karena pengembangan produk, dan teknologinya hebat. Datanya akurat. Pengambilan keputusan berbasis hal itu menjadi sangat penting,” beber Ketum Arif. 

Negara-negara maju memiliki basis riset dan pengembangan (Research and Development) yang kuat. Arif memberi contoh, Tiongkok belum diperhitungkan di industri Electric Vehicle di kancah global pada 2009. Namun dalam waktu 15 tahun, ia berhasil menjadi market leader. 

Masih soal R&D, Arif menyontohkan, Kodak (berdiri di Amerika pada 1800-an) merupakan perusahaan kimia yang membangun industri roll film.  

Pada 1975, R&D mereka berhasil menciptakan kamera digital pertama. Namun, meski pelopor, lantaran tidak mengoptimalkan R&D, mereka gagal bertahan sehingga kalah bersaing. 

Contoh lagi, Ketum ICMI memaparkan, awal Android keluar pada 2008. Saat itu penjualan Nokia hampir 250 juta ponsel, sementara  smartphone baru 200 ribu ponsel. Tapi, dengan R&D berkelanjutan, dalam kurun 3 tahun, kondisi tersebut berbalik.     

Maka, Arif mengajak Alisa Khadijah untuk senantiasa mengasah sensitivitas terhadap sinyal-sinyal perubahan yang sangat dinamis. 

”Ada perubahan sedikit, kita belajar lagi. Kemampuan kita menerawang, mendengar, melihat, mencium sinyal-sinyal perubahan, itu yang paling penting,” ungkapnya.