Pengembangan berorientasi transit (Transit-
Oriented Development/ TOD) makin
membentuk pasar properti Jakarta.
Konektivitas, Kualitas, dan Efisiensi
Head of Research & Consulting, CBRE Indonesia Anton Sitorus menyampaikan, pertumbuhan properti ibukota ke depan sangat terkait konektivitas.
"Fase berikutnya dari pertumbuhan properti Jakarta akan sangat terkait dengan konektivitas. Seiring kota ini memperluas jaringan transportasi masalnya,” sebut Anton dalam Media Briefing CBRE "Jakarta Property Market Update Q2 2026", Rabu 22 Juli 2026, WTC 3 Jakarta.
Tidak lagi sekadar menjadi infrastruktur transportasi, TOD juga berkembang menjadi platform pengembangan perkotaan multifungsi (mixed-use urban development), dan penciptaan nilai jangka panjang (long-term value creation).
Anton melanjutkan, proyek-proyek besar yakni MRT Fase 2A, dan Stasiun Dukuh Atas, yang baru diluncurkan, diharapkan dapat memperkuat aksesibilitas sekaligus menciptakan peluang baru bagi pengembangan perkantoran, hunian, ritel, dan kawasan multifungsi.
Peningkatan mobilitas makin memengaruhi keputusan lokasi penyewa maupun sebagai strategi investasi di seluruh wilayah kota.
Pasar properti Jakarta, imbuh Anton, tetap berada pada posisi yang kuat, meski menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan global.
Konektivitas, kualitas, dan efisiensi operasional menjadi pertimbangan utama penyewa.
"Kinerja pasar mencerminkan fundamental yang meningkat serta perubahan prioritas penyewa. Konektivitas, kualitas, dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama penciptaan nilai,” beber Anton.
Penguatan di Perkantoran, Industri/
Logistik, dan Ritel
Laporan pasar terbaru CBRE Indonesia mengungkapkan, pasar properti Jakarta terus menunjukkan kinerja pada kuartal kedua tahun 2026.
Performa ini didukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatnya kepercayaan penyewa (occupier), serta permintaan yang makin tinggi terhadap aset properti berkualitas tinggi dengan konektivitas yang baik.
Laporan terkini CBRE Indonesia menunjukkan penguatan fundamental di sektor perkantoran, industri/ logistik, dan ritel.
Sedangkan pengembangan berorientasi transit (Transit- Oriented Development atau TOD) muncul sebagai katalis penting untuk pertumbuhan nilai properti di masa depan.
Anton Sitorus membeberkan kinerja pasar saat ini yang terus didukung permintaan riil.
"Saat ini, penyewa makin selektif
dengan memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, dan
nilai jangka panjang (long-term value),” ujarnya.
Di berbagai sektor, penyewa dan tenant tetap aktif, dan CBRE melihat minat yang makin besar terhadap pengembangan yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas transportasi yang kuat, terutama di sekitar lokasi hub transportasi.
Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia Judy Sinurat, dan Albert Dwiyanto membagikan updates di sektor perkantoran.
Mereka melaporkan keberlanjutan momentum penyewaan di kawasan CBD maupun Non-CBD. Di kawasan CBD Jakarta, penyerapan bersih mencapai sekitar 16.800 meter persegi pada kuartal kedua, dengan tingkat okupansi meningkat menjadi 76,3%.
Permintaan tetap didorong tren flight-to-quality, di mana penyewa makin mencari gedung Premium Grade dan Grade A yang menawarkan spesifikasi modern, fitur keberlanjutan (sustainability), dan fasilitas yang lebih baik.
Terbatasnya pasokan baru turut berkontribusi terhadap meningkatnya kondisi pasar serta prospek pertumbuhan tarif sewa.
Albert memaparkan, tren pasar ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara perusahaan mengevaluasi lokasi kantor.
Meski alamat prestisius tetap memiliki peran penting, konektivitas dan aksesibilitas kini makin menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pengambilan keputusan terkait real estat korporat.
"CBD masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh alamat atau lokasinya. CBD tersebut akan ditentukan seberapa baik kawasan tersebut menghubungkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai peluang,” tandas Albert.
Dalam kondisi pasar saat ini, lanjut Albert, konektivitas bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong daya saing bisnis dalam jangka panjang.
Untuk pasar perkantoran Non-CBD Jakarta mencatat penyerapan bersih sekitar 12.900 meter persegi, sehingga tingkat okupansi meningkat menjadi 73,3%.
Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung berkualitas tinggi, dan lokasi dengan aksesibilitas yang berkembang. Relokasi penyewa dan strategi optimalisasi ruang kerja terus mendukung aktivitas pasar.
Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia Ivana Susilo menyampaikan, pasar industri dan logistik tetap menjadi salah satu sektor dengan kinerja paling baik.
Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 62 hektare selama kuartal kedua, mendorong tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek menjadi 91,2%.
Operator pusat data (data center) terus memainkan peran yang makin signifikan dalam permintaan lahan, khususnya di Cikarang, di mana persaingan untuk mendapatkan lokasi dengan infrastruktur utilitas yang kuat telah berkontribusi pada peningkatan nilai lahan.
Di sektor logistik, tingkat okupansi mencapai 97,4%, mencerminkan permintaan yang tetap kuat dari pelaku e-commerce, manufaktur, cold-chain, dan penyedia jasa logistik 3PL.
Pasokan baru yang masih terbatas, membantu menjaga fundamental pasar agar tetap sehat serta mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor-koridor logistik utama.
Di sektor ritel, pasar pusat perbelanjaan Jakarta kembali mencatat kinerja positif pada kuartal ini. Tingkat okupansi mal meningkat menjadi 86,4%, didukung penyerapan bersih yang melampaui 20.000 meter persegi.
Mal kelas premium terus mencatat kinerja
terbaik dengan tingkat okupansi di atas 95%, sementara mal kelas menengah atas
dan mal kelas atas juga mencatat aktivitas penyewaan yang sehat. Pelaku usaha
ritel internasional, konsep kuliner premium, lifestyle brands, dan
operator hiburan tetap menjadi kontributor utama permintaan.
