Skip to main content

Featured Post

Yang Pemimpin Harus Prioritaskan

Padahal semua pekerjaan pagi sudah beres. Rampung bersih-bersih. Minuman sedia di tiap meja. Tapi pramukantor kami masih wara-wiri tak menentu. Sampai sempat kami bertabrakan di pintu masuk. Tampak gelisah menggelayut wajah. Tak sulit menebak ada yang mengganggu pikiran Sugiono.

PARIWISANTAI #1 | Ranger WP Jelajah Cisarua




Kawan yang tertaut doa senantiasa,

Kita mau ke mana? Mau ke mana kita? Ke mana mau kita. Selama masih bisa bebas meski sekilas, dari rutinitas berposisi tugas, berpolusi buas, menuju hamparan segar hijau luas. Keluar, bubar sebentar, untuk nanti kembali berputar, memutar ke arah yang mengantar kita, ke lokasi menawan rekomendasi kawan, untuk wan dan puan sepanjang mata memandang. Sebab lama di kandang menumpulkan kuku, tak lagi kokoh dan kukuh, limbung terhuyung, tak sedang teguh, melemahkan paruh, membuncitkan perut, pengap, kerap menguap, menjadi gagap lantas tak siap, hingga terlupa sigapnya sayap. Maka terbanglah, bujang, terbang. Jemput jamanmu. 





Manusia berkata, manusia adalah mikrokosmos di makrokosmos. So, sebelum gembos, mendekompos, akibat terlalu los di medsos nge-post, kita yuk temukan  kembali diri, fisik dan mentali, temali tali erat saling simpulkan jadi. Kita yang  menyempil, kecil tak berdaya di jagat raya, bisa membesar, tak berhenti di selasar, bila kita mau, belajar, sinau cahaya yang menerang penyelam alam, malam direguk, di lekuk udara, salam saudara yang mengudara zikir, pikir, mikir misi manusia di atas bumi yang tak lagi merekah malah makin membelah.



Terserah mau searah atau berpisah, nyatanya tah kita masih betah. Sudahlah selama ini sempat kita hanya berkumur lalu kabur, lompat ditunggang waktu langsung ke jalur, mengumpul umur, membuang ke jalan, di jalan digiring bergelung tas, padahal bisa bebas kita meski sekilas, dari rutinitas berposisi tugas, berpolusi buas, menuju hamparan segar hijau luas.   



Kita sama sadar, hanya belajar di kampus hingga papan dihapus, sampai malam ditutup belumlah cukup. Satuan Kredit Semester, email-blaster bahan master,  disalin-pilin, sejauh ini belumlah cukup, memang tidak kan cukup. Kan kita menuntut dari buaian hingga maut menjemput. 

Jadi perlu ditambah dari yang ditetapkan sudah. Tambah "SKS", dapatkan puncak di cisarua, vila nan sejuk merasuk, pohon-pohon tinggi, taman luas pas plus kolam renang lagi. Yang kerap dihujani kita datangi, songsong matang inspirasi. Esensi yang luar biasa, di luar beda dari yang biasa datang dari sebatang dua batang di samping pantri. 



Ini adalah catatan pendek sepanjang perjalanan untuk akhirnya tunai di puncak asri. Ini merupakan kegiatan mengisi “KRS”; belajar, bermain, berdoa, dan memberi. Waktu kita berkupas gagas. Altar kita melingkar api, menyala hidup di unggun kayu, yang menghangatkanmu juga diriku. Sampai saling terbuka hasrat yang ingin, berdingin gerimis, ditulis tangis di bawah bulan, hidup kan bukan sekadar jalan. 


Maka mari bergantian, berikan yang terbaik untuk malam, selama kobar masih membakar, sepanjang kayu masih untukmu juga untukku, Seakan esok tak kembali pagi. Jadi mari berdiri separuh malam, bersimpuh melangit kalam, memohon ampun, dituntun di lapis demi lapis lantun.
   



Adakah yang paling yummy dari hanya semangkuk mi yang lekas basi, karena dimasak bersama ceria, disantap dengan tawa? Adakah yang lebih bebas dari sekadar mandi bola lempar tendang main hujan? Agak berlebihan ya kawan? Tapi andai kau di sini, kami tak sanggup menutupi, degap degup riang di hati. Terima kasih sudah berkenan dan mengijinkan kami. Lain kali, mungkin kami menjemputmu, dan aku dalam kita bercerita lagi.   

Cisarua, 28 Agustus 2016



Comments