Featured Post

Kita Tidak Bhineka Tunggal Ika... di Media Sosial

Image
“Bhineka tunggal ika”, berasal dari bahasa Jawa kuno berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Semboyan yang sudah bersemayam di sanubari sejak pertama kali kita mengisi kemerdekaan. Nusantara yang terdiri dari ribuan suku yang tersebar di belasan ribu pulau ini telah sejak lama memegang teguh semangat toleransi dalam bingkai persatuan.  

Marak Jurnalisme Warga, Jurnalis Pikir Ulang Peran


Marak media sosial mendorong berkembangnya citizen journalism (jurnalisme warga). Warga bisa memproduksi berita dan langsung mengunggah ke akun masing-masing. Media sosial secar aotomatis kerap jadikan tiap pengguna sebagai wartawan sigap melaporkan dari tempat dia berdiri secara real time. Citizen Journalism berkembang pesat.

Jurnalisme Data



“Media sosial membuat semua orang bisa memproduksi berita, dan informasi. Warga di tengah jalan melihat kebakaran, tabrakan, bisa menggunakan hape untuk memotret, merekam, dan mengirimkan ke media sosial,” tandas Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO Wahyu Dhyatmika dalam Indonesia Data Driven Journalism (IDDJ) 2017: “Pemanfaatan Data Terbuka untuk Kemajuan Energi Nasional dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat”, Jakarta (21/4/17).

Perkembangan pesat teknologi ponsel memungkinkan pengguna merekam, mendokumentasi, dan  mengirim lekas berkas digital berupa foto, audio dan video. Warga pun bisa melakukan kerja jurnalistik seperti wawancara, dan menulis berita. Hal tersebut mengharuskan para jurnalis berpikir ulang terkait perannya di tengah publik.

“Itu membuat wartawan harus memikirkan ulang perannya di publik. Dia tidak bisa lagi hanya mengandalkan wawancara untuk menulis berita, karena itu sudah dilakukan citizen reporter, dan blogger. Bahkan banyak pejabat, narasumber, memilih berkomunikasi lewat medsos. Lewat twitter, menteri bisa langsung melaporkan apa yang dikerjakan,” imbuhnya.

Maka insan pers mesti ambil peran lain yang lebih luas dalam menyajikan berita, menggali lebih dalam untuk manfaat yang lebih besar.

“Jadi wartawan harus bisa punya peran yang lain. Salahsatunya lewat jurnalisme data. Ketika dia bisa memotret tren, bisa menggali dari data, maka liputan-liputannya akan lebih fokus dan lebih berguna untuk publik,” jelasnya.  

Wahyu melanjutkan, di Amerika  dan Eropa sudah sejak awal 80an, jurnalisme data berkembang dan banyak digunakan. Sedang untuk di luar Amerika dan Eropa baru 10 tahun terakhir. Teknologi digital mengakibatkan ledakan data, menuntut media untuk mengolahnya menjadi berita.

“Yang paling mendorong perkembangan jurnalisme data adalah teknologi digital. Ketika internet hadir dan hampir semua data bisa di-upload ke internet, maka ada ledakan jumlah data. Ada ledakan informasi yang menuntut media untuk bekerja dengan informasi-informasi baru ini,” pungkasnya.

Aktivitas jurnalisme warga termasuk dalam kegiatan blogger dan vlogger. Berbekal ponsel pintar dan akun medsos, mereka mencari sumber berita untuk update, mengisi konten blog dan kanal video mereka. Proses kreatif ini sangat mengandalkan koneksi jaringan internet yang cepat, sehingga konten bisa langsung tayang dan dilihat banyak orang saat itu juga. 

Paket Internet XL memberikan kebutuhan dan kemudahan bagi pekerjaan mereka. Dengan koneksi ngebut 4G, si operator biru masih memberi berbagai keuntungan termasuk bonus kuota, Youtube tanpa kuota, gratis nelpon ke operator lain, dan gratis langganan Genflix, Yonder, dan Tribe. 

Popular posts from this blog

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosa Kata Sunda