Featured Post

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosakata Sunda

Image
Tantangan pelestarian dan pengembangan bahasa salahsatunya adalah istilah bahasa asing. Hanya satu kata asing saja sudah bisa menggusur puluhan kosakata satu bahasa daerah. Demikian Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dadang Sunendar sampaikan dalam Kuliah Tamu Leksikografi: Lanskap Leksikografis Tahun 2018 dan Perihal Penyusunan Kamus Mutakhir”, Aula Sasadu, Gedung Samudra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta (3/5/18).    

Tingkatkan Kebersihan dan Imunitas, Tangkal Virus Corona


press conference about corona virus

Bertambah lagi pasien di Indonesia yang tertular novel coronavirus (COVID-19) atau virus corona. Konferensi pers juru bicara pemerintah dalam penanggulangan virus corona Achmad Yurianto ungkapkan ada 19 pasien kasus COVID-19. Konferensi pers berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat (Senin (9/3/2020) pukul 17.45 WIB.

Konfrensi Pers IABIE

Untuk memberi edukasi dan perkembangan terkini mengenai virus corona kepada khalayak ramai, Pengurus Pusat Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) menggelar press conference: “Virus Corona (Covid 19): Waspada & Jangan Panik”, Jumat, 6 Maret 2020, Sekretariat Pusat IABIE, Menteng, Jakarta Pusat.

Salah satu narasumber, Dokter Konsultan Paru Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dr. Telly Kamelia, SpPD, KP, FACP, FCCP, FINASIM, menjelaskan lebih lanjut. Virus corona adalah penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Binatang kelelawar, tikus, babi, sapi, musang, monyet, punya virus corona secara alami. Ketika terjadi mutasi, virus tersebut tidak lagi menjadi virus corona alami. Saat binatang itu kontak dengan manusia, virus corona darinya yang bermutasi itu menjadi patogen dan menyerang manusia yang menjadi inangnya.

COVID-19  hidup dalam reseptor; 97% di saluran pernafasan, dan 3% di saluran pencernaan. Kalau berada di udara dalam posisi yang lama, tidak mempunyai zat biologik dan inang untuk hidup, virus itu akan mati. Apalagi jika terpapar sinar matahari. Kita patut bersyukur tinggal di negeri yang disinari matahari hampir sepanjang waktu.

Yang kita khawatirkan adalah posisi virus tersebut yang masih hidup ketika kita masak daging yang tidak matang. Virus yang masih hidup itu akan masuk di mukosa, saluran nafas, dan hidup berkembang biak.

Rempah Dukung Imunitas  

Para ilmuwan dari tiap negara dunia berlomba melakukan serangkaian eksperimen untuk menciptakan vaksin dan obat. Cina mengklaim akan sudah menghasilkan vaksin virus corona untuk penggunaan darurat pada April mendatang. Sifat dinamis dari virus corona membuat proses penciptaan vaksin memakan waktu lama. 

Kata dr. Telly virus corona adalah tipe RNA (ribonucleic acid), kalau bakteri tipe DNA (deoxyribo nucleic acid). DNA punya jalur agak lambat berubah, maka obatnya bisa tetap. Sedangkan RNA bersifat cepat sekali berubah. Sehingga kalau sekarang bernama COVID-19, maka 10 tahun lagi virus tersebut bisa bermutasi lagi.

Meski vaksin belum ditemukan, dr. Telly sebutkan, saat ini sudah ada rekomendasi pemberian obat yakni dengan cloroqueen (klorokuin), yang kita kenal sebelumnya sebagai pil kina, obat malaria. Kekayaan varitas tumbuhan tropis di Indonesia merupakan potensi yang mendukung pembuatan vaksin berbahan dasar alami yang perlu digali secara penelitian ilmiah lebih luas.

Sambil menunggu penemuan vaksin khusus virus corona, dr. Telly berpesan agar kita selalu menjaga kebersihan dan meningkatkan imunitas dalam upaya menangkal virus corona. Misal, dari pengolahan makanan, selain faktor kebersihan, penggunaan rempah-rempah disebut dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Rempah berfungsi sebagai antioksidan dan antiseptik yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Misal; kunyit, jahe, bawang putih, cabai merah, dan lada hitam.  

Tips lainnya untuk mencegah terinfeksi virus corona adalah mencuci tangan dengan benar, menggunakan masker, tidak pergi ke negara terjangkit, dan menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi menularkan virus corona.

Indonesia Gagap Corona?

Dunia menilai Indonesia lamban dalam merespon outbreak virus corona yang merebak dari Wuhan Cina pada akhir Desember 2019. Virus corona menyebar cepat. Pada tengah Januari 2020, negara-negara lain mengumumkan pasien pertama mereka yang terinfeksi virus corona. Sebut saja Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. Amerika Serikat mengumumkan pasien virus corona pertama yang baru saja pulang dari perjalanan ke Wuhan.     

Negara lain meragukan Indonesia yang dianggap santuy dalam penanganan merebaknya virus corona. Mereka tidak yakin jumlah korban corona di tanah air masih sedikit. Mengenai hal tersebut, dr. Telly berkata, kita sedang melihat fenomena gunung es. Jadi jumlah pasien yang dilaporkan adalah posisi yang kelihatan. Anggota Dewan Pakar IABIE ini yakin ada yang tidak periksa karena penderitanya di rumah saja, dan tidak memberitahu, atau sudah di rumah sakit atau pusat pelayanan tapi tidak diperiksa standar identifikasi COVID-19 .

“Karena periksa harus ada bukti real time dari PCR (polymerase chain reaction-red) virusnya dan dirujuk ke Jakarta di Balitbangkes Laboratorium Utama. Saat ini sudah bisa di Surabaya. Ke depan, Kemenkes akan membuat 10 laboratorium satelit,” beber Staf Ahli Divisi Respirologi & Penyakit Kritis Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ada dua metode pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terjangkit virus corona. Pertama metode PCR di mana kita bisa mengetahui hasilnya dalam wakru 24 jam. Kita akan cepat mengetahui apakah dalam spesimen pasien ategori suspect itu terkandung virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 .

Kedua, genome sequencing. Metode ini membutuhkan waktu lama karena melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Metode yang membutuhkan waktu hingga tiga hari ini bukan hanya mendeteksi virus corona saja tapi juga virus-virus lain. Untuk itu, dr. Telly berharap ada kit diagnosis yang setara standar baku, yang bisa mendiagnosis lebih cepat, rapid test, tanpa perlu dirujuk ke laboratorium utama. 

Dalam pengantarnya, Ketua Umum IABIE Bimo Sasongko, BSAE, MSEIE, MBA berharap, konferensi pers ini dapat menyajikan jawaban yang kredibel dari sumber yang kompeten di tengah kesimpangsiuran informasi terkait wabah virus corona. Hadir pembicara lainnya; Anggota Dewan Pakar IABIE/ Chairman ICEP ( International Community for EFT Practitioner) Dr. Eddy Iskandar, M.Eng., Ph.D., dan  Anggota Dewan Penasehat IABIE/ Unsur Pengarah Masyarakat Professional BNPB 2009-2014, Dr. Ir. Agus Hasan Sulistiono Reksoprodjo, DIC.

Popular posts from this blog

Tangkas SEO dan Cerdas Keuangan

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosakata Sunda

Kembalinya Satu Paket Kocak di Film Preman Pensiun