Perhutanan Sosial Baru Terkelola 2,8 Juta Hektare dari 8,3 Juta Hektare

 

 Diberikan akses kelola kepada masyarakat setempat, program Perhutanan sosial masih belum terserap optimal. 

 

Solusi Ketahanan Pangan Nasional 

Program di bawah naungan Kementerian Kehutanan ini menyediakan total 8,39 juta hektare lahan perhutanan sosial hingga 2024. 

Melansir BPS, Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2024, lahan yang sudah terkelola sebesar 2,86 Juta ha. Sedang lahan yang belum terkelola sebesar 5, 53 juta ha. 

Berarti baru sekitar 34,17 persen lahan yang dioptimalkan, dan masih ada sekitar 65,83 persen lahan yang belum dimanfaatkan. 

Pendiri Yayasan Habitat Rimba Tropis (YHRT) Liza Fitriani mengajak generasi muda untuk menyambut program perhutanan sosial. 

Namun masih banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menarik, dan kurang bergaya.   

“Saya berharap ketahanan pangan jadi mindset baru anak muda. Kami membangun 10 KTH (Kelompok Tani Hutan-red). Satu kelompok sekitar 100-200 orang. Percontohan di Aceh dan Sumut. Kami keliling, mulai pendanaan, pendampingan, penanaman, hingga hilirisasi produk,” ungkap Liza dalam Rembuk Ekonomi Nasional ICMI, Jumat 4 September 2026, JIEXPO, Kemayoran Jakarta. 

Kendati demikian, Liza yang juga Pengurus Pemuda ICMI mengakui, pekerjaan besar hari ini ialah seberapa signifikan dukungan pemerintah terhadap anak-anak muda yang tergerak bergelut di bidang pertanian. 

“Di Riau, Aceh, Sumut, banyak anak muda yang mau terjun ke pertanian. Tapi mereka ngasih saran, bagaimana pertanian kita didukung inovasi lapangan kerja berbasis skala besar. Bukan menanam pisang hanya beberapa pohon, tapi ribuan hektar, misalnya,” jelas Liza. 

YHRT berperan melakukan pendampingan menyeluruh, yakni perencanaan dan penyediaan bibit, penanaman, pemeliharaan, panen, pengolahan, serta pemasaran dan hilirisasi. 

YHRT membantu mengoptimalkan lahan hutan dengan menanam berbagai komoditas unggulan. Hasil perhutanan sosial berupa kakao, kopi, aren, dan kelapa yang berpotensi memiliki nilai tambah.   

Rembuk Ekonomi Nasional menjadi bagian dari agenda kegiatan China (Indonesia) International E-commerce Industry Expo (CIEIE), 3-5 September 2026, JIEXPO Kemayoran Jakarta.  

Kegiatan CIEIE meliputi pameran dan sourcing produk langsung, pameran beragam kategori produk, pencarian produk dan jejaring bisnis (business matching), serta kolaborasi dan transfer teknologi.