Skip to main content

Featured Post

Yang Pemimpin Harus Prioritaskan

Padahal semua pekerjaan pagi sudah beres. Rampung bersih-bersih. Minuman sedia di tiap meja. Tapi pramukantor kami masih wara-wiri tak menentu. Sampai sempat kami bertabrakan di pintu masuk. Tampak gelisah menggelayut wajah. Tak sulit menebak ada yang mengganggu pikiran Sugiono.

Bangun Personal Branding? Temukan Keyword-mu!


blogger and influencer

Langkah yang harus dilakukan seorang narablog saat membangun personal branding adalah memahami talenta yang dimiliki, mengasah skill, dan tetap passionate. Dalam perjalanannya, temukan daya pikat yang khas hingga muncul value. 

Talenta, Keahlian, Gelora

Co-Founder & Chief Content Officer Zetta Media Aulia Halimatussadiah mengungkapnya dalam Kumpul Blogger BPK “Blogger Kawal Harta Negara”, Auditorium BPK, Jakarta (15/3/18).    


Dara yang akrab dipanggil Ollie kini LLIA mengingatkan, jangan memaksa lekatkan suatu citra tertentu ke diri. Jika memang itu bukan karakter kita. Apalagi hanya karena ia sedang tren. Llia membawa tema "Personal Branding dengan Social Media dan Blog".

Knowing who you are itu penting banget. Jangan ikut-ikutan. Misal, Raditya Dika lagi ngetren. Gue lucu-lucu juga ah, kayak dia. Tapi kalau Anda orangnya lempeng dipaksa lucu ya susah,” imbuhnya.  

Talent adalah sesuatu yang sudah given, teranugerahkan dalam diri masing-masing. Kalau skill adalah level kemampuan hasil dari kegigihan berlatih. Sedangkan passion adalah gelora menghidupkan suatu bidang yang kita cintai hingga bernilai.

“Mengetahui tiga hal itu penting. Yang tampak ya value. Value kita apa?,” pantik penulis 29 buku di depan audiens yang sebagian besar narablog dan influencer ini.

Llia kemudian membagi pengalamannya. Ia membangun personal branding sampai menemukan satu keyword yang melekat di dirinya. Hanya dengan satu kata kunci sudah menjelaskan siapa dirinya.   

Penerima "Kartini Next Generation Award 2013 -  Inspiring Woman in ICT” ini gemar membaca sejak kecil. Kebiasan yang ia lakukan usai membaca adalah menempelkan post it dari buku-buku yang dibacanya. Catatan-catatan kecil itu pun mewarnai seluruh dinding kamar.

Ketekunan menyesap saripati dari banyak buku itu, membuatnya selalu terinspirasi dan produktif dalam menulis. Maka “produktif” menjadi salahsatu kata yang identik dengan Llia.  

“Begitu Anda tahu semua talent, skill, value, anda akan menemukan keyword. Salahsatu keyword saya ‘productivity’. Itu banyak saya masukkan dalam media sosial dan blog saya,” aku pendiri startup tulisbuku.com. Usaha rintisan yang membantu penulis menerbitkan karya. 


personal branding untuk blogger dan influencer


Tentukan Rate Card

Jika seorang narablog sudah mantap dengan personal branding-nya, selanjutnya jangan ragu untuk menentukan “harga diri” kita dalam rate card (daftar tarif). 

Pembicara berikutnya mengusung tema "Cara Menghasilkan Uang Dengan Menjadi Influencer di Blog". 

Influencer Dimas Novriandi memaparkan, tidak ada patokan pasti dalam menentukan tarif. Tergantung pendekatan si blogger kepada klien atau penerima jasa. Kadang bisa lebih personal. Kawan sesama influencer malah menganggap rate Dimas terlalu rendah.  

Memang jika kita mengikuti standar tarif umumnya, indikator rate card menyesuakan besaran pengikut (followers) si influencer. Instagram dihitung per posting, dan Twitter dihitung per paket cuitan. Namun satu hal yang selalu dicamkan Dimas. Apa itu?   

“Jangan pernah pelit sama brand. Kita di-hire untuk 5 twit. Saya akan cerita 5 twit sebelumnya sebagai bridging. Itu tidak dihitung,” tukas Dimas. 

Hadir juga Farchan Noor Rachman membawakan tema "Tips Menjadi Blogger, Dari Gagasan Menjadi Tulisan". Kumpul Blogger merupakan satu dari rangkaian acara Diskusi dan Penganugerahan Pemenang Lomba Menulis Blog bertema "BPK Kawal Harta Negara".

Comments

  1. Nah, menentukan rate card itu gampang-gampang susah ya, Mas, cuma masih bisa kita fleksible harusnya, kalo berdasarkan kata Mas Dimas. Kan berjejaring dan tak melulu hitung-hitungan untung rugi sebenarnya malah lebih memperlancar kerjaan. Bener, kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, kita belajar banyak resep dari influencer sekelas Mas Dimas yg makin moncer ya

      Delete
  2. suka bahasannya knowing who you are dan be your self itu emang penting ga bole ikut2an ya kang..

    dan aku juga masi bingung nentuin rate card secara masih unyu2 dalam dunia blog :)

    ReplyDelete
  3. Narablog itu sama aja sebutan buat blogger ya? Banyak baca itu emang jadi modal buat nulis ya..banyak tips sukses jadi personal blogger ya di acara ini..bagus banget

    ReplyDelete
  4. Reminder banget nihh, jangan ikut-ikutan. Harus menonjolkan ciri khas diri sendiri.

    ReplyDelete
  5. Sharing session tentang personal branding ini perlu banget di kalangan para blogger dan influencer. Kadang masih bingung mau nge-branding diri seperti apa.

    ReplyDelete
  6. Saya juga berpikir yang sama, tidak pelit kalo sedang jadi influencer. Kalo bilang ngasih 5, tidak persis 5, saya suka melebihkan jadi 10, misalnya. Kalo kata saya, sih, berikan lebih. Moga2 seperti yang dimaksud Mas DImas. Soalnya menurut saya, dengan demikian, kita memperlihatkan dedikasi dan integritas kita dalam bekerja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar bang Mugniar, pakai prinsip "anda puas, kami berintegritas" :)

      Delete
  7. sebenernya nggak susah membranding diri di untuk blog, asal punya etika yang baik. Branding itu cepet naiknya , ini menurut kata blogger expert yah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat kak.itu yg luput dari catatan saya. Faktor "Attitude" pun disebutkan oleh para narsum. Terima kasih masukannya, kakak expert :)

      Delete
    2. lebay deh :p aku jg masih belajar kok

      Delete
  8. Membangun personal branding itu penting. Tapi memang tidak ada yang instan. Termasuk ketika membranding sebagai blogger. Kalau gak rajin nulis, juga gak tepat dipanggil blogger.. Thanks sudah berbagi mas.acaranya keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, jangan abaikan yg esensial, menulis, menulis dan menulis.. makasih kak Sara :)

      Delete
  9. Sependapat dengan apa yang dikatakan kak Llia, kalau menulis itu sesuai karakter pribadi.
    Jangan memaksakan jadi karakter seperti orang lain.

    ReplyDelete

Post a Comment