Skip to main content

Featured Post

Destinasi Banyak Dikenal dan Didatangi. Bagus Sih. Tapi...

Selain menemukan The Beach (2000), Leonardo Di Caprio (Richard) juga mendapati persekutuan pelancong radikal yang tidak rela surga dunia itu diketahui banyak orang. Mereka kuatir, main banyak yang datang, sisi natural pantai dan pesona pulau itu akan terkikis. Tapi itu hanya kisah fiksi yang diangkat dari novel Alex Garland dengan judul yang sama (1996). Faktanya, makin banyak yang tahu ada satu destinasi ciamik, tingkat ekonomi sekitar destinasi jadi naik. Berbagai fasilitas disediakan untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.

IDEALEKTIKA #3: BPJS Kesehatan Mismatch Bukan Defisit

healthcare forum


Kebiasaan merokok adalah mata rantai kemiskinan paling akut di Indonesia. Karena konsumsinya justru lebih banyak terjadi di rumah tangga miskin. Makin miskin dan rendah pengetahuan seseorang akan kesehatan, makin tinggi risiko rentan penyakit. Demikian disampaikan Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono dalam Idealektika Forum #3 "(Mimpi) Jaminan Kesehatan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia", Gerakan Kesehatan Masyarakat dan Review Menuju Universal Health Coverage Indonesia 2019, Jakarta (11/4/18).



Naikkan Harga Rokok

Menurut Yusuf, hal ini sangat mengenaskan. Rokok sama sekali tidak menambah investasi kesehatan sedikit pun. Tapi justru dominan dalam pengeluaran rumah tangga miskin. 

Masih terseok urusan ekonomi, masalah lain muncul. Si perokok jatuh sakit akibat kebiasaanya itu. Ia butuh layanan kesehatan yang tidak membuatnya makin susah.

Di sinilah hadir peran Negara dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Apakah kebiasaan yang bisa disebut perbuatan menyakiti diri sendiri ini masuk tanggungan BPJS Kesehatan?   

“Ini jadi masalah ketika orang sakit gegara rokok. Apakah pantas di-cover BPJS? Peran BPJS Kesehatan tentu kita sangat appreciate. Tapi mengherankan ketika BPJS diluncurkan, konsumsi rokok tidak terkendali dan terus berlanjut,” tandasnya.  

Asisten Deputi Bidang Pengelolaan Fasilitas Kesehatan Primer BPJS Chandra Nurcahyo menanggapi pernyataan Yusuf. Dia setuju perlu ada langkah strategis mengatasi budaya merokok. Misal, menekan industri rokok bertanggung jawab dengan menaikkan tarif cukai rokok.  

“Harusnya ada tanggung jawab dari industri rokok. Kalau perlu harga rokok dinaikkan. Supaya persentasi biaya rokok masuk untuk membiayai kesehatan,” usulnya.




Bahkan, lanjut dia, hal tersebut dapat menjadi salahsatu solusi dari kondisi ketidaktepatan perhitungan BPJS Kesehatan yang banyak berita menyebutnya sebagai defisit dan merugi.  

“Defisit sih tidak. Lebih tepatnya mismatch. Kurang tepatnya perhitungan antara kebutuhan pendapatan dengan apa yang harus dibayarkan,” ungkap Chandra  

Mismatch terjadi karena besaran iuran dalam Perpres No. 19 dan 28 Tahun 2016 yang tidak sesuai dengan perhitungan aktuaria. Hal ini menjadi salahsatu tantangan penerapan Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN –KIS).


Tantangan JKN

Tantangan lainnya adalah pendapatan yang belum optimal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan membayar (ability to pay) dan kemauan membayar (willingness to pay). Masih banyak peserta informal yang masih belum secara rutin membayar. Kebiasaan mereka membayar iuran ketika jatuh sakit saja.

Tantangan berikutnya adalah terjadi transisi epidemiologi yaitu jumlah peserta penyakit kronis yang terus meningkat. Akibatnya biaya naik 26, 33% dari realisasi biaya 2014-2016. 

Selain itu juga terjadi transisi demografi dari kelompok tertinggi risiko penyakit. Peningkatan kelompok umur usia lanjut (60 tahun ke atas) sebesar 21, 4 juta jiwa atau 12%.

Kemudian prevalensi penyakit katastrofik mencapai 27,62 % dari total anggaran yang dialokasikan. Kelima faktor inilah disebut sebagai pendorong terjadi mismatch atau kekurangan finansial dalam membiayai JKN.

GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa (DD) dr. Rosita Rivai memaparkan, kehadiran Dompet Dhuafa sebagai jembatan bagi kelompok masyarakat yang belum disentuh BPJS Kesehatan.

“Kami membantu para dhuafa yang tidak terakomodir BPJS Kesehatan untuk dilayani tanpa dipungut bayaran. Bukan hanya kesehatan. Karena kadang masalah kesehatan hanya bagian kecil. Sehingga kami juga ada program integrasi,” tuturnya.

DD hadir dengan inovasi gerakan kesehatan masyarakat. Di antaranya dengan menjalankan program Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC). 

Ada klinik gerai sehat yang tersebar di 13 wilayah di Indonesia meliputi Aceh, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Papua.

DD juga mendirikan Pos Sehat Pembinaan Terpadu Penyakit Menular (BINTU PTM) yang tersebar di 12 wilayah di Indonesia mencakup Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur,  dan Papua.

Program unggulan LKC lainnya adalah Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Program Anak Indonesia Sehat (PAIS), Program Kebun Sehat Keluarga, dan Program Siaga Bencana. 

Sedangkan untuk layanan unggulan LKC yaitu layanan ambulan terapung dan layanan pengobatan ala Nabi atau thibbun nabawi.

Hadir juga sebagai narasumber Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar  Ikatan Dokter Indonesia dr. Prasetyo Widi Buwono Sp.PD-KHOM.












Comments

  1. Sayang banget ga bisa hadir 😖...
    Cukup beralasan sih kalau yang jadi titik kritisnya ada di masalah rokok. Tapi kalau yang lagi ramai, kasus miras oplosan, mereka pakai bpjs juga ngga tuh..? 😁

    Kira-kira akan ada penerapan sistem secara hukum ekonomi islam ngga ya, utk bpjs ini ? Supaya konsepnya lebih berkeadilan dan berkah utk semua. (Pengen nanya itu tadinya kalau aku ikut dateng)

    Anyway, Tfs Bang.. 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Yusuf info soal tetangganya yg meninggal akibat miras oplosan, yg mmg tdk ditanggung bpjs

      Delete
  2. berarti untung cari jodoh yang tidak perokoknya..selian masalah kesehatan, cuma penghematan ekonomi :D

    ReplyDelete
  3. Jadi inget temenku cerita ada temen bulenya borong rokok karena di sini harganya murce..

    Maju terus Dompet Duafa, semoga program LKC-nya terus berkembang, amin!

    ReplyDelete
  4. Sayang banget ya, perokok itu kadang udah tahu sakit, masih tetap merokok. Iya pengobatannya mahal, ayahku dulu juga perokok soalnya. Dari tumor paru jadi kanker paru. Udah pasti biaya pengobatan juga besar.

    ReplyDelete
  5. Dompet Dhuafa selalu mengupayakan yang terbaik untuk kesejahteraan masyarakat. Mudah-mudahan makin banyak dukungan yang datang.

    ReplyDelete
  6. Warga di tempat saya tinggal masih banyak yg belum masuk BPJS. Mereka masih banyak yang merasa berat dengan pembayaran per bulan dikali jumlah anggota keluarga. Padahal petani di kampung saya banyaknya penghasilan gak sampai ratusan ribu per minggu.
    Kalau bayar minimal 100 ribu per bulan saja. Masih banyak yg keberatan.

    ReplyDelete
  7. Dilema banget kalau udah bahas masalah rokok. Rokok bisa dikatakan sebagai sumber penyakit utk penggunanya, tapi penyerapan tenaga kerja Indonesia ya dari rokok juga. Duh 😥

    ReplyDelete
  8. Semoga program LKC bisa terus berkembang, semangat Dompet Dhuafa!!

    ReplyDelete
  9. Dompet Dhuafa emang terus menunjukkan kontribusi yang amat signifikan untuk umat. BRAVO!
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  10. DD luar biasa memang buat kemaslahatan umat. Akhirnya yang belum tersentuh dengan adanya BPJS dapat tetap menikmati fasilitas layanan kesehatan ya

    ReplyDelete
  11. Rokok memang salah satu penyebab banyaknya penyakit yang diderita masyarakat. Karena efeknya yang bikin nagih itu bikin penggunanya tidak bisa lepas, padahal efek rokok bukan hanya untuk perokok aktif saja. Justru perokok pasif yang lebih terancam kesehatannya.

    ReplyDelete
  12. Aku setuju dengan usulan harga rokok harus dinaikkan. Terutama produsen rokok harus memiliki tanggung jawab itu bener banget kak, sementara korbannya ya rakyat kita.

    ReplyDelete
  13. benarrrr sekali. apalagi terkadang perokok malah merugikan sekitar, kita yang gak merokok jadi perokok pasif. harusnya lebih bertanggung jawab para perokok. cari calon suami yang gak merokok kali ya biar gak kesulitan ekonomi hahaha.. XD

    ReplyDelete
  14. Penting banget nih untuk diketahui para perokok aktif dan pasif. aktivitas merokok bukan hanya merugikan nagi yg merokok tetapi juga lebih meruvikan bagi yg ada disekitar alias perokok pasif

    ReplyDelete
  15. Bingung juga ya soal rokok ini. Pasalnya kalau ditutup total pabriknya ntr banyak pengangguran, dinaikkan harganya msh aja ada yg beli. Yg beli jg org2 miskin, yg lbh baik beli rokok ketimbang beliin anaknya susu :(
    Tapi ya setidaknya biar megap2 itu beli rokoknya, kalau bisa naikkan setinggi langit :P

    Bagus juga ide Dompet Dhuafa membantu pemerintah, moga sukses semua program2nya :)

    ReplyDelete
  16. Wuih, ngagetin banget. Segitunya ya dari rokok. Miris banget memang kasus rokok ini. Tetanggaku yang, maaf, kurang berkecukupan, lebih mentingin rokok dibandingkan makanan sehat. Padahal sudah batuk2 parah. :(

    ReplyDelete
  17. Semoga program Dompet Dhuafa didukung semua pihak. Dan semoga perokok berkurang, soalnya gak bagus untuk kesehatan

    ReplyDelete
  18. semoga sukses program Dompet Dhuafa ini, amiiin

    Saya ka lo masalah rokok, no komen deh soalnya suami saya perokok, hiks :(

    ReplyDelete
  19. Program Dompet Dhuafa makin keren aja ya mbak. Semoga perokok pada insyaf gak merokok lagi

    ReplyDelete

Post a Comment