Skip to main content

Featured Post

Kota Layak Anak, Kenali Ciri-cirinya

Hari ahad datang lagi. Saatnya seharian menikmati jalan raya bebas mobil lalu lalang(Car Free Day). Di jalan utama depan gerbang komplek kami sudah ada CFD. Tak perlu lagi ke Senayan atau Bundaran HI. Sayangnya, hari minggu ini tidak digelar. Ya sudah, terlanjur ke luar rumah, kami balik badan, main di lapangan komplek saja.

Ahli IT Badan Bahasa Hanya 5 Orang

seminar leksikografi indonesia 2018
foto: badanbahasa.kemdikbud.go.id

Tantangan Badan Bahasa dalam menghasilkan produk-produk leksikografi adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Demikian sebut Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, Hurip Danu Ismadi, dalam Penutupan Seminar Leksikografi Indonesia 2018 “Leksikografi Pada Era Digital”, Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta (3/8/18).

Latih SDM Baru

“Bukan anggaran. Kalau anggaran, insya Allah kita siap. Tapi SDM ini, bagaimana mengembangkan, terutama SDM substansi tentang perkamusan dan IT,” imbuhnya.

Hurip mengaku, tenaga ahli teknologi informatika sangat terbatas. Badan Bahasa kesulitan memperoleh SDM andal. Karena kewenangan perekrutan Pegawai Negeri Sipil (PNS) berada di tangan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.  

“Terus terang, ahli IT Badan Bahasa tidak lebih dari 5. Sedang untuk merekrut tenaga PNS sangat sulit. Karena semua PNS yang merekrut adalah Menpan. Semua di-drop dari sana,” ungkapnya.  

Badan Bahasa hanya menerima dan tidak bisa memilih, apalagi melakukan proses wawancara calon pegawai.

“Pokoknya semua dari Menpan. Tahu-tahu kita menerima. Seperti sekarang. Kami menerima  42 PNS baru. Tidak ada yang konsentrasi leksikografi, hanya peminatan saja,” beber Hurip.  

Maka Badan Bahasa harus melatih lagi semua SDM yang baru masuk. Untuk itulah, Hurip berharap pihaknya bisa bekerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi. Terutama dalam upaya menggali ide agar leksikografi berkembang pesat.

badan bahasa kemendikbud
foto: badanbahasa.kemdikbud.go.id

Romantisme Buka Kamus

Perkembangan big data membuat Badan Bahasa juga melintas ke dunia digital menjawab kebutuhan terkini. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan (daring) menggunakan KBBI edisi ke-5 dan pertamakali diluncurkan pada 28 Oktober 2016. KBBI daring dimutakhirkan tiap 6 bulan sekali. Untuk tahun ini, KBBI edisi kelima dimutakhirkan. Terhitung pada April 2018, ada 1000 kata atau lema baru yang sudah masuk ke KBBI daring.

Pemanfaatan teknologi kamus digital ini membuat Badan Bahasa membatasi pencetakan kamus. Sekarang dicetak baru sebanyak 500 eksemplar dan dibagikan secara terbatas. Apalagi kini pun sudah jarang orang buka kamus cetak. 

“Sekarang orang buka kamus juga malas. Berat 3,2 kg. Tebalnya 2011 halaman. Sekarang sudah kita tipiskan jadi setipis ponsel. Kamus (cetak) itu paling hanya dikoleksi di perpustakaan. Paling romantisme saja buka kamus,” tandas Hurip.

Namun bagi daerah Indonesia Timur, misalnya. Di mana koneksi internet belum mencapai pelosok. Keberadaan kamus cetak masih diperlukan. Badan Bahasa pun menjajaki kerjasama dengan IKAPI dalam pencetakan kamus dan diperjualbelikan. Aturan yang digunakan adalah Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2016 tentang penerimaan negara bukan pajak.

Untuk mencetak 500 eksemplar saja, lanjut Hurip, butuh kurang lebih 200 juta rupiah. Belum termasuk ongkos kirim. Sedang kini jumlah minimal untuk cetak sebanyak 3000 eksemplar. Akan sulit jika hanya mengharapkan APBN dengan mengajukan ke Direktorat Jenderal Anggaran. Karena kita akan bicara efisiensi dan pemotongan. 

Maka perlu bekerjasama dengan para penerbit dalam pencetakan dan penyebarluasan kamus. Saat ini, Badan Bahasa masih menunggu penetapan harga eceran tertinggi agar terjangkau semua kalangan.

Hurip juga sebutkan solusi lain yakni dengan memanfatkan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pemerintah bisa berikan subsidi pembelian kamus, selain pembelian buku dan peralatan sekolah.

Comments

  1. Semoga ya ... Semoga mempermudah masyarakat Indonesia untuk mengerti kata dalam bahasa kita sendiri.

    ReplyDelete
  2. Nah ini dia khusus untuk SDM leksikografi harus ada pembaruan, agar para pemuda mau belajar lagi dan membuat perubahan bahwa baca kamus itu asyik lho

    ReplyDelete
  3. Kecintaan pada bahasa negeri sendiri perlu ditumbuhkan sejak dini ya.
    Agar saat dewasa ngga terlalu banyak menemukan hambatan

    ReplyDelete
  4. Tapi nya itu lho judulnya hehe..., dari masa kanak kanak sih kita udah bisa membangun rasa cinta ini. Jadi ke sini sininya nggak terlalu jomlang juga kalau ada masalah

    ReplyDelete
  5. Waduh, segitu ya? Iya juga sih ya, lihat kenyataan di sekitar kita, minat terhadap dunia bahasa sendiri rasanya masih rendah. Semoga ke depannya semakin banyak yang peduli. Sedih sekali dengan kenyataan ini. :(

    ReplyDelete
  6. Nyata banget ya kebutuhan tenaga IT di Badan Bahasa. Secara terhitung pada April 2018, ada 1000 kata atau lema baru yang sudah masuk ke KBBI daring.

    ReplyDelete
  7. Bentar, istilahnya jadi yang betul sekarang ini pakai KBBI atau EBI? Atau KBBI masih dipakai untuk istilah kamus yang sebenarnya?

    ReplyDelete
  8. Wah mestinya ada sinergi ya dengan Badan Bahasa saat rekrutmen jd tahu kebutuhannya pegawai yg seperti apa. Beruntung kita yg di kota ya tinggal onlen aja buka KBBI. Moga2 area Timur segera lbh baik koneksi inetnya jd gk tertinggal lg dalam hal bahasa. Trus kita yg di kota jg mestinya bnyk belajat, krn mumpung ada fasilitasnya #ntms

    ReplyDelete
  9. Gimana ceritanya banyak PNS baru tapi ga sesuai kebutuhan. Apa ada yang salah dengan ini semua

    ReplyDelete
  10. Tetapi di pelosok masih banyak tenaga PNS sesuai dengan skill masing-masing. Kalau dilihat-lihat dikota malah bertaburan tuh PNS.

    ReplyDelete
  11. wah perbendaharaan kata dikamus KBBI itu ternyata bertambah terus ya, baru tahu aku, karena jarang juga buka kamus KBBI.

    ReplyDelete
  12. Saya nih, perbendaharaan kataku masih terbatas, jadi harus rajin buka kamus KBBI

    ReplyDelete

Post a Comment