Featured Post

Hanya Satu Cara Lestarikan Bahasa Daerah: Wariskan!

Image
Bagi rekan pembaca yang pemerhati bahasa Indonesia, mungkin familiar dengan slogan Badan Bahasa Republik Indonesia: “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Mantap Hadapi Industry 4.0 Bersama Neo Study


Menteri Perindustrian Republik Indonesia Airlangga Hartarto punya tips sukses hadapi Industry 4.0. Kita harus kuasai setidaknya tiga bahasa, ungkapnya. Ketiga bahasa itu Bahasa statistik, Bahasa coding, dan terakhir yang tetap digandrungi adalah bahasa Inggris. Ah masa’ sih? Teknologi aplikasi terjemahan sudah canggih. Masih relevan belajar cas cis cus?

Revolusi Industri

Sebelum bicara Industry 4.0, mari sejenak kita mundur ke rentang perjalanan revolusi industri dari awal. Revolusi dalam sektor industri terjadi pertama kali pada abad ke 18 (Industry 1.0). Saat itu sistem industri tergantikan mesin uap dan penemuan alat tenun.

Seabad kemudian terjadi revolusi Industry 2.0 ketika tercipta listrik dan perakitan masal. Pada 1970, terjadi lagi revolusi Industry 3.0 saat otomatisasi bertenaga komputer diperkenalkan untuk menggantikan mesin dan jaringan.

Tibalah hari ini era revolusi Industry 4.0 yang mengubah sepenihnya tiap sendi kehidupan manusia. Industry 4.0 merupakan penggabungan antara otomatisasi dan teknologi siber dalam sektor industri. Industry 4.0 memiliki 4 sistem yang bekerja saling berkesinambungan yakni sistem fisik siber (cyber physical system), Internet of Things (IoT), komputasi awan (cloud), dan komputasi kognitif.

Jadi, Pak Menperin tepat sekali mengimbau kita untuk memberi perhatan kepada ketiga jenis bahasa itu. Sekarang semua geliat industri serba otomisasi berbasis bahasa persandian. Siapa yang kuasai coding pasti dibutuhkan dunia kerja. Kawan-kawan budiman mungkin sering dengar istilah peretas (hacker), perusak (cracker), dan pemanipulasi kartu  (carder). Ketiga skill ini bisa dikuasai kalau kita mahir bahasa coding. Tergantung niatnya. 

Pun penguasaan bahasa statistik. Kini kita bicara harus pakai data,  kalau tidak mau disebut penyebar hoax atau mengada-ada. Apalagi Pemerintah sedang menggalakkan gerakan satu data untuk keberaturan negara. Tantangan hari ini adalah menyajikan data statistik dalam produk komunikasi yang renyah dan mudah dipahami semua kalangan.

Seperti kita ketahui bersama, kiblat utama teknologi adalah Amerika dan Eropa. Sebagian besar sumber ilmu  di bidang statistik dan coding mengunakan bahasa Inggris. Jadi, mau menganalisis data, ingin memanfaatkan big data untuk pengambilan keputusan cepat dan tepat, harus lebih dulu memahami bahasa Inggris. 

Kuasai bahasa coding itu hebring, akrab bahasa statistik itu lebih baik. Tapi bahasa Inggris masih tetap jadi kunci pembuka gerbang. Perusahaan-perusahaan masih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa universal dalam berkomunikasi. Apalagi jika kita berinteraksi dalam suatu lingkungan lintas latar belakang budaya dan bangsa. Bahasa Inggris jadi kesepakatan bersama sebagai alat komunikasi global.

Bila bekerja di depan layar ponsel atau laptop, kita masih bisa bergantung pada peranti atau aplikasi terjemahan. Tapi bagaimana jika tiba saat kita berinteraksi secara nyata dengan para pengguna bahasa Inggris?

belajar bahasa inggris dengan neo study


Cara Praktis Belajar Bahasa Inggris

Bagi yang perlu mengasah bahkan harus mulai dari awal belajar bahasa Inggris, bisa mengikuti kursus atau mendatangkan guru les privat. Mungkin perlu sisihkan waktu dan tempat untuk bertatap muka. Tapi kini ada cara mudah belajar bahasa Inggris kapan pun di manapun. Neo Study menyediakan solusi belajar bahasa Inggris yang mudah, cepat, dan efektif. 

Neo Study merupakan platform untuk belajar bahasa Inggris berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang aktif dalam ponsel pintar kita. Neo Study adalah aplikasi berkonten adaptif berbasis cloud yang tersedia dalam 5 level sertifikasi lengkap berbasis Common European Framework Reference for Languages (CEFR) Uni Eropa: level A1, A2, B1, B2, dan C1 (untuk usia 12+). 

Neo Study menerapkan sertifikasi CEFR yang telah digunakan sebagai pengajaran bahasa asing di Eropa sejak 1990. CEFR juga memiliki korelasi dengan berbagai tes internasional lain seperti International English Language Testing System (IELTS), Test of English as a Foreign Language (TOEFL), dan Test of English for International Communication (TOEIC).  CEFR berfungsi untuk memberikan keseragaman standar yang jelas dan objektif tentang kemampuan bahasa Inggris seseorang. 


Dengan teknologi AI, aplikasi ini beradaptasi terhadap kebiasaan belajar kita dan memberikan tantangan sesuai tingkat kemampuan selagi pemelajaran mesin (Machine Learning) menganalisis data untuk meningkatkan kefasihan dan penguasaan bahasa dalam kurang dari 6 bulan per level. 

Perkembangan dicatat dengan meraih poin belajar; raih setidaknya 6,500 poin per minggu untuk mendapatkan peningkatan tercepat. Lalui Mastery Test dan lakukan sesi berlatih daring dengan pengajar yang telah diakui.

Sistem pengenal suara di Neo Study memiliki akurasi tinggi sehingga pembelajaran bahasa Inggris kita tidak terpaku hanya terhadap penalaran namun juga bisa membentuk pengucapan yang tepat. Neo Study bikin kita seperti punya guru virtual yang bisa digenggam ke mana-mana. Keren, ya, mirip Tony Stark dengan JARVIS atau FRIDAY. Jadi, ayo tunggu apa lagi, Industry 4.0 sudah di depan mata.

So, ingin coba langsung tes bahasa Inggris dengan sertifikasi CEFR dan mencari tahu seberapa jauh kemampuan bahasa Inggrismu? Silakan kunjungi situs resmi Neo Study dan unduh aplikasinya di Play Store. Selamat mencoba!

Popular posts from this blog

Kembalinya Satu Paket Kocak di Film Preman Pensiun

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosa Kata Sunda