Featured Post

OMEN by HP, Laptop Gaming Tampil Layar Ganda

Image
Yang gemar Counter Strike Global Offensive, sering gregetan ketika laptop lagging. Salahsatunya, saat musuh melempar 4 buah granat bersamaan. Kita tak berdaya untuk bereaksi cepat karena didera lag akibat minim spek perangkat keras di laptop. Ya sudah, pasrah dan tawakal.  

Wahai Milenial, Pilih Perusahaan Besar atau Kecil?


deddy corbuzier gramedia matraman

Hampir dipastikan, setelah lulus kuliah, kaum milenial menyodorkan surat lamaran ke perusahaan-perusahaan besar. Bekerja di perusahaan bonafid tentu idaman semua orang. Siapa yang tidak mau memperoleh gaji besar, tunjangan lengkap, bonus menggiurkan, dan sederat fasilitas lainya.

Kesempatan Belajar

Tapi bagaimana jika saya katakan pola pikir demikian sudah usang. Selain makin kecil peluang diterima bekerja, mengingat banyak pelamar berpikiran sama dengan kamu, bekerja di perusahaan besar tidak akan memberi kesempatan milenial untuk berkembang. Penulis sotoy, ah. Kata siapa? Tahu dari mana?

Alih-alih berbondong mendatangi perusahaan besar, lebih baik mengajukan diri untuk bekerja di perusahaan kecil. Selain lebih besar peluang diterima, kita akan memperoleh banyak manfaat dengan berkarya di perusahaan yang sedang merintis dan berkembang.  Kita jadi punya banyak kesempatan untuk belajar.     

“Cari perusahaan kecil, karena masuk ke perusahaan kecil kamu tahu apa goals perusahaan itu. Kamu belajar langsung dari perusahaan itu,” ungkap persona serba bisa Deddy Corbuzier dalam peluncuran buku Millennial Power, Rahasia Milenial Kaya dan Mandiri”, Sabtu 8 Februari 2020, Gramedia Matraman, Jakarta.

Menurut mentalist yang beralih jadi youtuber ini, perusahaan kecil memungkinkan kita bisa langsung berinteraksi dengan orang-orang penting yang notabene adalah pemilik perusahaan tersebut. Berbeda dengan bekerja di perusahaan besar di mana kita bahkan tidak kenal direkturnya. Jangankan sempat ngobrol, foto bareng saja belum tentu bisa, dan bila bertemu pun kamu sungkan menyapa.

Tapi kalau bekerja di perusahaan kecil, kita bisa belajar langsung dari kepalanya dan apa saja tujuan perusahaan itu. Deddy Corbuzier lalu menyontohkan tim Youtube channel-nya yang berjumlah 5 orang.

“Saya yakin tim saya akan belajar lebih banyak dibandingkan bekerja di televisi besar. Kalau tim kecil, mereka serabutan, belajar, bahkan tahu dapat berapa, uangnya dari mana,” beber penerima Penghargaan Merlin dari International Magician Society.  

Peluncuran buku Millenial Power merupakan karya kolaborasi Deddy Corbuzier bersama entrepreneur sukses Erik ten Have. Acara peluncuran buku dirangkai talkshow dan mini workshop di mana Deddy Corbuzier dan Erik ten Have membeberkan rahasia untuk menjadi kaya bagi generasi milenial. Salah satu tipsnya dengan mengenali mana yang passion dan mana yang sekadar hobi. Lalu langkah apa yang dilakukan selanjutnya dalam rangka "follow your passion"

Jebakan Gaya HIdup

Erik ten Have melengkapi dengan memberikan tips dasar mengelola keuangan bagi milenial yang terkenal konsumtif. Pendiri platform Millennial Power ini menawarkan konsep Parkinson’s Law di mana penghasilan harus selalu diupayakan lebih besar dari pengeluaran. Salah satunya dengan mengenali apa saja jenis-jenis pengeluaran yang tidak perlu dan tergolong pemborosan yang biasanya bersifat gaya hidup.       

Sepakat dengan Erik, Deddy mengingatkan akan jebakan-jebakan gaya hidup di antaranya shopping demi memuaskan keinginan, hingga harus berurusan dengan kartu kredit. Deddy lantas menyampaikan wejangan yang mirip kutipan dari novel Fight Club (1996) karangan Chuck Palahniuk: “We buy things we don’t need, with money we don’t have, to impress people we don't like”. 

“Kadang kita pakai baju bukan karena kita nyaman, karena kita mau dilihat sama orang. To impress people we don't know, with money we don't have. Berapa banyak orang belanja menggunakan kartu kredit,” tandas pencetus Obsessive Corbuzier Diet (OCD).   

Buku “Millennial Power, Rahasia Milenial Kaya dan Mandiri” terdiri dari 9 bab dengan tebal 224 halaman. Tiap  bab berisi uraian khas Deddy Corbuzier yang selalu gritty, menggugah, menantang kemapanan, dan antitesis dari banyak pola pikir yang kita yakini sebelumnya. Tulisan dijahit rapi dan runtut oleh Erik ten Have yang biasa menangani konten motivasi, kelas online, seminar, pelatihan karyawan perusahaan dan podcastBab menarik dari buku terbitan Bhuana Ilmu Populer ini di antaranya mempertanyakan pentingnya sekolah, bagaimana meyakinkan orang tua akan passion yang kita pilih, hingga menyusun rencana hidup. 

Popular posts from this blog

Kembalinya Satu Paket Kocak di Film Preman Pensiun

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosa Kata Sunda