Featured Post

Ini Dia 10 Keterampilan Komunikasi dan Bahasa ala Ivan Lanin

Gambar
  Memiliki anak lelaki yang duduk di bangku sekolah Kelas I SMU, membuat Pendiri Narabahasa Ivan Lanin perlu merumuskan 10 keterampilan komunikasi dan bahasa untuk generasi muda.  Generasi Z dan Y harus dapat menguasai serangkaian skill ini jika ingin berhasil mengakses sumber-sumber ilmu pengetahuan. Apa sajakah kesepuluh tips tersebut?

Kolaborasi, Supaya Kita Selalu Relevan

  


Untuk kesekian kali saya tercenung di salah satu informasi peluang kerja sama. Sempat semangat mengeklik pranala, kalau saja tidak tersandung butiran terakhir dari rangkaian syaratnya. 

 

Kegelisahan Kreator Senja 

Sang jenama mencantumkan syarat usia tidak lebih dari 35 tahun. Aduh, mak. Makin kecil saja peluang bagi kreator senja ini. Padahal, kecuali batasan usia, semua kualifikasi sudah saya miliki. Saya antusias sekali dengan event konser yang bakal diulas itu. Saya mungkin paruh baya, tapi selera musik selalu update dan mengikuti perkembangan terkini. Oh, iya, kisah ini terjadi sebelum negara api menyerang. Sebelum corona datang. 

Terbayang konsep dasar yang bakal diolah menjadi konten. Kelompok musik yang akan bertengger di kanal saya itu berpotensi menyedot banyak pengunjung. Lumayan menambah jam tayang menyongsong target memenuhi syarat monetasi. Ah, sayang beribu sayang. 

Sempat terpikir, apa sudah waktunya saya hentikan langganan sewa domain dan hosting? Atau saya fokus saja kerja di kantor tanpa perlu wara-wiri cari peluang paruh waktu. Saya memang tergolong terlambat terjun ke dunia konten kreatif. Tapi atmosfer konten kreatif kadung mencuri hati saya. Bidang yang saya idamkan selama ini. Ranah yang memungkinkan saya menuangkan gagasan lewat posting  dan uploading menjangkau banyak orang. Habitat sejati saya memang di sini. 

Apakah kreator konten sama seperti profesi lain pada umumnya? Akan tiba di waktu senja dan pensiun? Saya gendong pertanyaan ini ke mana-mana, menembus lalu-lalang kreator-kreator muda yang lebih cemerlang. Hingga saya berkesempatan log in di selebrasi BloggerDay 2021 Komunitas Bloggercrony Indonesia.

 

Sapardi Djoko Damono x Rintik Sendu  

Saya menyimak pengalaman Penulis dan Pegiat Literasi Maman Suherman di bidang konten kreatif. Ia mengaku jungkir balik bertahan agar tetap relevan di era dengan tren yang terus berubah. Namun, prinsip yang ia pegang tetap sama, selalu menghidupkan nilai-nilai jurnalistik dalam karya, dan konsisten pada spesialisasi di dunia literasi.  Dan satu lagi, jangan malu berkolaborasi dengan yang muda.   

“Saya tahu, saya sudah berusia 55 tahun. Saya tidak bisa mengejar perkembangan teknologi. Bahasa saya bukan bahasa anak muda. Saya membuka peluang seperti yang dilakukan Sapardi Djoko Damono, guru besar saya: tidak malu berkolaborasi dengan anak muda,” ungkapnya dalam BloggerHangout: Senjakala "Content Creator", Virtual 6th Anniversary Bloggercrony Community (BCC), Sabtu, 6 Maret 2021 via Zoom Meeting. 

Pak Sapardi, yang berpaut usia 60 tahun, berkolaborasi dengan Rintik Sendu menciptakan kumpulan puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang? Dari delapan buku Kang Maman yang terbit di 2020, empat di antaranya hasil kolaborasi. Jadi, lanjut Kang Maman, kemampuan berkolaborasi menciptakan networking yang bagus. 

Itulah kata kuncinya, jika  kreator konten tidak ingin tenggelam. Kita tidak bisa berdiri sendiri. Justru kalau kita mengaku mampu melakukan sendiri, imbuh Kang Maman, kita sedang membangun  senja kala sendiri. Tapi kalau kita mau terbuka dan bekerja sama dengan siapa pun, kita akan menciptakan karya dan dunia baru. 

Narasumber kedua, Pegiat Media Sosial Shafiq pontoh memaparkan, senja kala akan menghampiri content creator yang tidak memahami bagaimana menavigasi platform yang digunakan. Konsep Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) sudah tidak relevan di era extended reality. Shafiq justru rekomendasikan formula klasik yang tak lekang oleh zaman, yakni Analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT), dan 5 W (What, Where, Who, When, Why) 1 H (How). 

Shafiq juga mengingatkan para content creator membedakan mindset media arus utama yang terlanjur melekat di media sosial. Misal, mainstream media menganggap jumlah followers di media sosial sebagai oplah. Padahal, media sosial dipengaruhi algoritma yang hanya mengizinkan sepesekian persen audiens melihat posting-an kita di lini masa. Jumlah pengikut tidak selalu berbanding lurus dengan paparan yang diperoleh si empunya akun. 

Jadi bagaimana? Jadilah unik dengan konten khas hingga follower yang mencari sendiri ke feed kita lalu berinteraksi.  Jadilah spesialis yang konsisten di satu niche hingga menguasai ceruk pasar dengan baik.    

Pada agenda webinar berikutnya, hadir Pisikolog Klinis Ifa Hanifah Misbach, dan Mom Infuencer Kania Safitri. Kedua narasumber ini membagi tips pengasuhan dalam BloggerHangout: "Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh", Virtual 6th Anniversary Bloggercrony Community (BCC). 

Postingan populer dari blog ini

Tangkas SEO dan Cerdas Keuangan

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosakata Sunda