Pelangi di Mars, Film Hibrida Pertama Indonesia

  

Film fiksi ilmiah yang menggabungkan live action, dan animasi dengan memadukan motion picture dan virtual production

Tayang Lebaran 2026   

Secara nasional, belum ada patokan, dan referensi sebelumnya untuk film berteknologi hybrid. Penulis sekaligus sutradara Upie Guava bersama tim harus mulai dari nol dalam menghadirkan film bergenre sci-fi "Pelangi di Mars".

"Karena belum ada benchmark-nya, kita harus tebas hutan, kita komit bersama melakukan semuanya dari nol. Kita siapkan infrastrukturnya, segala sesuatunya,” ungkap Upie dalam pemutaran Official Trailer dan Press Conference Pelangi di Mars, Jumat 13 Februari 2026, CGV, Grand Indonesia, Jakarta.  

Pelangi di Mars menghidupkan mimpi anak Indonesia menjelajahi antariksa. Pelangi di Mars dikembangkan selama lima tahun dengan teknologi Extended Reality (XR) untuk memperkuat imajinasi visual. 

Pelangi di Mars merupakan kolaborasi dari rumah Produksi Mahakarya Pictures, bekerja sama dengan MBK Productions, RANS Entertainment, Guava Film, DossGuavaXR Studio, dan A&Z Films. 

Turut andil menyukseskan Pelangi di Mars, Produser Dendi Reynando menuturkan bagaimana mengatasi segala tantangan teknis yang dihadapi. 

Dalam konteks teknis, dalam satu adegan saja, akan ada gambar yang diambil secara virtual production, animasi, dan motion capture yang di-assembly dalam satu scene. Ibarat bangunan tinggi yang dibangun dari bawah, lantai 1.2,3, dan seterusnya. Tidak bisa langsung menjulang.  

Di sinilah pentingnya peran rekan-rekan tim yang saling menguatkan dan yakin berhasil mencapai puncak bangunan.   

“Tidak ada alasan untuk mundur. Ketika trust level cukup tinggi, dipertemukan sama orang-orang luar biasa, naturally tanpa kita rencanakan, jadi saling menguatkan,” sebutnya. 

Diakui Upie, kendala utama dalam pembuatan Pelangi di Mars adalah technical difficulties. Ada proses teknologi yang harus ditunggu untuk matang, karena butuh waktu lama men-develop

Mengingat tim kreatif pertama kali mengerjakan film berteknologi hybrid, ada proses adaptasi, dan pembelajaran, barulah dibuat.   

“Tiap shot ada sekitar 12 steps dari 0 sampai ujung; proses animasi, CGI, dan lain-lain. Jadi satu shot harus melewati 12 divisi. Yang membuat proses produksi tetap berjalan, karena kita butuh film ini. Kita butuh karya ini diselesaikan, dan kita menikmati prosesnya,” pungkas Upie. 

Upie berharap, Pelangi di Mars menjadi pembuka jalan lahirnya film-film hybrid berikutnya dengan lebih mudah.   

Pelangi di Mars berkisah tentang Pelangi, anak Indonesia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Pelangi memimpin robot-robot dari berbagai belahan dunia untuk mencari Zeolit Omega, mineral langka yang diyakini sebagai satu-satunya harapan menyelamatkan masa depan Bumi. 

Pemutaran Official Trailer dan Press Conference Pelangi di Mars juga menghadirkan Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) Riefian Fajarsyah (Ifan Seventeen), penulis naskah Alim Sudio, dan Eksekutif Produser dari MBK Productions Rendy Gunawan.   

Pemeran dan para pengisi suara robot yang hadir antara lain; Messi Gusti (Pelangi), Bimo Kusumo (Batik), Gilang Dirga (Petya), Kristo Immanuel (Yoman), Vanya Rivani (Kimchi), dan Dimitri Arditya (Sulil). 

Pelangi di Mars tayang perdana di bioskop Indonesia pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan libur Idulfitri (Lebaran).        

Posting Komentar untuk " Pelangi di Mars, Film Hibrida Pertama Indonesia"