Perilaku informasi kritis bermanfaat untuk kita berpikir kembali terkait keputusan yang akan diambil setelah mencerna informasi.
Ilmu Pengambilan Keputusan
Hal ini penting dalam tindakan kita menyaring informasi yang membanjiri dunia maya. Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia Rahmi S.Hum, M.Sc., Ph.D. membagikan kiat menerapkan literasi kritis lewat “Siklus Perilaku Informasi Kritis”.
“Siklus perilaku informasi kritis antara lain; menyadari, mencari, menilai, memahami, dan menggunakan. Tahapan ini bukan memperlambat, tapi untuk berpikir kembali terkait keputusan yang kita ambil,” tandas Rahmi dalam Seminar Bermartabat dengan Buku “Menguatkan Literasi di Era Digital: Memahami hingga Bertindak”, Selasa 19 Mei 2026, Perpustakaa Nasional Medan Merdeka Selatan Jakarta.
Perilaku ini, kelakar Rahmi, cocok diterapkan kaum perempuan, terutama bagi yang ingin membeli sesuatu agar menghindari impulsive buying.
Kemampuan menentukan suatu keputusan berhubungan dengan penguasaan decision science atau ilmu terkait pengambilan keputusan.
Rahmi membawakan presentasi bertajuk “Perilaku Informasi Masyarakat Digital, Buku sebagai Jangkar Berpikir Kritis: Dari membaca, memahami, memverifikasi, hingga bertindak bermartabat”.
Siklus Perilaku Informasi
Rahmi menjelaskan tiap tahapan yang terjadi dalam Siklus Perilaku Informasi.
Pertama, menyadari kebutuhan informasi. Contoh, saya ingin mengetahui cara merangkai bunga. Buku apa yang saya butuhkan?
Kedua, cari sumber yang beragam. Jangan hanya satu sumber saja. Variasi sumber membangun perspektif yang lebih lengkap, dan seimbang dalam pengambilan keputusan.
Contoh, rekan-rekan mahasiswa yang menulis tugas akhir atau skripsi mencari jurnal yang update terkait hasil atau gap penelitian. Dalam buku terdapat teori, dan diskusi pakar yang bisa digunakan. Jadi, sumber-sumber mana saja itu perlu diidentifikasi.
Selanjutnya, menilai kredibilitas. Ini yang paling sering, dan sulit dilakukan, terutama di universitas. Sulit menilai kredibilitas mengenai siapa yang harus diundang menjadi pembicara. Untuk melihat kredibilitas, bisa dari konferensi atau jurnal mana yang predator atau tidak, kita harus cek dari domain, dan reviewer-nya.
Keempat, memahami konteks. Untuk memahami konteks, kita harus melihat apakah ada kontra argumen, dan jangan terburu-buru dalam pengambilan keputusan.
Dengan demikian, kita melihat informasi secara utuh, bukan hanya dari permukaan. Kita juga harus melihat sudut pandang yang berbeda, dan mencegah kesimpulan terburu-buru yang sering menyesatkan.
Terakhir, menggunakan informasi dengan bijak. Bukan hanya untuk diri sendiri, informasi itu juga bermanfaat untuk orang lain. Bagaimana kita menggunakan informasi dalam citasi atau dalam penulisan karya ilmiah itu harus dicermati.
Seminar Festival Hari Buku Nasional 2026 juga menghadirkan narasumber Pakar Ilmu Perpustakaan Prof. Sulistyo Basuki dan Ketua Dewan Pertimbangan IKAPI DKI JakartaHikmat Kurnia, Bersama Moderator Widyaiswara Perpustakaan Nasional RIDr. Dian Novita Fitriani, S.IIP., M.Hum.

Posting Komentar untuk "Kiat Pelajar Terapkan Literasi Kritis di Era Banjir Informasi"