Ritual Rambut Sewu: Tujuh Malam di Kamar 307

 


Namaku Dira. 

Dan aku nulis ini bukan buat nakut-nakutin siapapun.

Aku nulis ini, karena kalau nggak aku keluarin dari kepala, aku takut bakal gila duluan.

Awal kupindah ke Jakarta dua tahun lalu buat kerja. Dapat kos di daerah Mampang. Bangunan lama, tapi murah. Kamar 307 — lantai tiga, ujung koridor, tepat di pojok yang nggak kena angin sama sekali.

Waktu pertama masuk, ibu kos bilang satu hal yang waktu itu kuanggap basa-basi orang tua.

"Mbak, kalau malem-malem nemu rambut di lantai, sapu aja. Jangan ditanyain dari mana." 

 

Aku ketawa.

Aku bilang, "Siap, Bu."

Aku nggak tahu waktu itu bahwa kalimat itu adalah satu-satunya peringatan yang bakal kuterima. 

 

Minggu pertama semua normal. Kerja, pulang, makan, tidur.

Sampai hari keempat, aku mulai ngerasa ada yang aneh.

Bukan aneh yang bisa kujelasin. Lebih ke… perasaan bahwa setiap kali aku mau tidur, ada yang duduk di pojok kamar. 

 

Aku nggak pernah lihat wujudnya jelas. Cuma bayangan yang terlalu gelap buat jadi bayangan biasa.

Dan setiap pagi, tanpa gagal, di lantai depan kamar mandiku ada rambut panjang.

 

Bukan sehelai dua helai.

Puluhan helai. Hitam. Panjang. Berserakan kayak sengaja ditaruh.

Aku pikir mungkin rambutku sendiri. Rontok waktu keramas.

Tapi rambutku pendek sebahu. Rambut itu panjangnya hampir semeter. 

 

Tentang Wisnu 

Di lantai yang sama ada cowok namanya Wisnu.

Kamarnya 301 — tepat di ujung lorong sebelah sana.

Kami kenalan waktu sama-sama nunggu lift. Dia ramah. Terlalu ramah, mungkin. Dalam seminggu, dia udah sering ngajakin makan bareng, nganter aku pulang kerja, dan sesekali nongkrong di depan kamarku sambil ngobrol sampai tengah malam. 

Aku nggak ngerasa terganggu. Wisnu orangnya menyenangkan.

Tapi ada satu hal kecil yang aku notice dari awal — Setiap kali kami ngobrol, sesekali matanya ke bawah, ke arah lantai.

Kayak lagi ngecek sesuatu. 

 

Dan setiap kali dia ngelakuin itu, ada sesuatu di ekspresinya yang berubah.

Bukan tersenyum.

Bukan cemas.

Lebih ke… lega. 

 

Telepon dari Ibu 

Sekitar minggu kedua, Ibu nelpon dari kampung. Kami ngobrol biasa. Nanya kabar, nanya makan, nanya kerjaan. Tapi di akhir telepon, tiba-tiba Ibu bilang sesuatu yang aku nggak expect. 

"Dira, kamu baik-baik aja kan? Ibu tadi mimpi kamu berdiri di tengah sawah malem-malem. Sendirian. Dan rambut kamu… panjang banget. Padahal rambut kamu kan pendek."

Aku diam.

"Mimpi aja, Bu."

"Iya… tapi di mimpi itu ada perempuan duduk di pematang sawah. Mukanya nggak keliatan. Tangannya megang sesuatu. Kayak… benang atau tali. Dan ujungnya… nyambung ke rambut kamu, Dira."

Aku tutup telepon dengan alasan baterai mau habis. Malam itu aku nggak bisa tidur. 

 

Yang Aku Temukan di Balik Lemari

Seminggu kemudian, aku nggak sengaja nggeser lemari buat ambil charger yang jatuh ke belakang.

Dan di balik lemari itu —

Di dinding —

Ada goresan.

Bukan coretan biasa.

Itu tulisan. Kecil-kecil. Rapi. Tapi penuh. Memenuhi hampir seluruh permukaan dinding yang tertutup lemari. 

 

Aku foto pakai HP.

Zoom-in. Sebagian besar tulisannya nggak aku ngerti — campuran bahasa Jawa kuno, dan simbol yang nggak aku kenal.

Tapi ada satu kalimat yang jelas dan bisa terbaca : "Rambut Sewu sudah tertanam. Dia tidak akan pergi" 

 

Dan di bawah kalimat itu —

Ada nama.

Nama perempuan.

Bukan namaku.

Aku Cari Nama Itu. 

 

Malamnya Aku googling nama yang tertulis di dinding itu. Nama lengkap. Ditambah kata "Jakarta" dan "kos Mampang."

Hasil pencarian pertama yang keluar adalah sebuah artikel berita lokal.

Judulnya: "Wanita Ditemukan Meninggal di Kamar Kos, Diduga Sudah Tiga Hari"

Tanggalnya dua tahun lalu.

Kamarnya — 307. 

 

Aku Tanya ke Ibu Kos

Paginya aku turun dan langsung tanya ke ibu kos soal penghuni kamar 307 sebelumku. Ibu kos diam lama banget.

Mukanya berubah.

"Mbak tau dari mana?"

"Saya nemu artikel berita." 

 

Ibu kos narik napas. Terus duduk. Katanya, perempuan itu namanya Sari. Usianya 26 tahun waktu meninggal. Kerja di perusahaan swasta, sama kayak aku.

Sari punya pacar — cowok yang tinggal di lantai yang sama.

Kamar 301.

Nama cowok itu — Wisnu.

Ibu kos bilang, hubungan Sari dan Wisnu awalnya baik-baik aja. Tapi setengah tahun sebelum Sari meninggal, Wisnu mulai berubah. Dingin. Sering pulang malam. Dan katanya, Wisnu mulai dekat sama perempuan lain. 

 

Sari hancur.

Katanya Sari sempat pulang ke kampungnya di Jawa Tengah selama beberapa minggu.

Dan waktu Sari balik ke Jakarta —

Dia berubah.

Lebih cantik. Lebih tenang. Tapi matanya beda. 

 

"Mbak tau yang paling bikin ibu nggak bisa lupa?" kata ibu kos pelan.

"Waktu jenazah Sari ditemukan… lantai kamarnya penuh rambut panjang. Bercampur sama abu kemenyan dan bunga-bunga layu. Ibu sendiri yang lihat."

Aku ngerasa dingin menjalar dari kaki sampai ke leher.

"Wisnu sekarang masih di sini, Bu?"

Ibu kos menatapku aneh.

"Wisnu nggak pernah pergi, Mbak. Dari dulu sampai sekarang masih di kamar 301." 

 

Ritual Rambut Sewu 

Yang Aku Pelajari Setelahnya, malam aku mulai cari tahu.

Ritual Rambut Sewu — dalam kepercayaan Jawa kuno — adalah salah satu ritual pengikat paling gelap yang pernah ada.

"Sewu" artinya seribu. Konon, pelaku Ritual Rambut Sewu harus mengumpulkan rambut dari kepala sendiri selama berhari-hari — kadang minggu, kadang bulan — sampai terkumpul seribu helai atau lebih.

Rambut itu kemudian dibawa ke pematang sawah di malam tertentu — biasanya malam Jumat Kliwon atau malam Suro — dan dibakar bersama kemenyan, bunga tujuh rupa, dan darah dari jari manis tangan kiri.

Di sanalah perjanjian itu dibuat.

Dengan sesuatu yang tidak punya nama. 

Yang tinggal di antara hitam dan gelap. Di celah yang nggak kelihatan di bawah cahaya bulan.


Tujuan Ritual Rambut Sewu bermacam-macam — bisa buat mengikat seseorang agar tidak bisa pergi, bisa buat menghancurkan rumah tangga orang lain, bisa buat membuat seseorang terus kembali meski sudah jauh.

Tapi semua sumber yang aku baca bilang satu hal yang sama : Ritual Rambut Sewu tidak pernah gratis.

Selalu ada pembayaran.

Dan pembayarannya adalah bagian dari diri pelaku sendiri.

Setiap malam setelah ritual berhasil, sesuatu mengambil sedikit dari pelakunya. 

Energinya. Kesehatannya. Hidupnya.

Sedikit demi sedikit.

Sampai habis. 

 

Malam Ketujuh 

Aku udah mutusin pindah. Tapi malam sebelum angkat koper, aku terbangun pukul 2 dini hari karena ngerasa ada yang ganjil.

Kamarku bau kemenyan. Pekat banget. Kayak abunya ada di mana-mana.

Dan di lantai —

Di seluruh lantai kamar —

Ada rambut panjang.

Ribuan helai.

Berserakan dari bawah pintu sampai ke kaki tempat tidur.

 

Aku nggak berani gerak.

Cuma duduk di kasur, memeluk lutut, dan menatap ke depan.

Dan di situlah aku lihat —

Di pojok kamar — pojok yang dari hari pertama selalu terasa terlalu gelap — ada sesuatu yang berdiri.

 

Tinggi.

Hitam.

Penuh rambut panjang yang menjuntai sampai ke lantai, bercampur dengan rambut-rambut yang berserakan itu.

Makhluk itu tidak bergerak.

Tapi aku tahu —

Dia melihatku.

Dan di telinganya — kalau itu memang telinga — aku dengar suara bisikan yang sangat pelan.

Berbahasa Jawa.

Yang artinya kira-kira : "Kamu sudah tidur di atas namanya. Kamu sudah menghirup abunya. Kamu sudah menginjak rambutnya."

"Sekarang kamu bagian dari perjanjiannya." 

 

Setelah Itu

Aku pindah keesokan harinya. Nggak pamit ke siapapun. Nggak ke ibu kos. Nggak ke Wisnu.

Terutama nggak ke Wisnu. 

 

Tapi tiga hari setelah aku pindah —

Wisnu nelpon.

Aku nggak angkat.

Dia nelpon lagi.

Dan lagi. 

 

Sampai akhirnya dia kirim satu pesan yang sampai sekarang masih tersimpan di HP, dan belum pernah kuhapus karena aku takut kalau kuhapus, sesuatu bakal tahu —

Pesannya cuma satu baris : "Sari titip salam." 

 

Catatan Akhir 

Aku nggak tahu Sari ngelakuin Ritual Rambut Sewu beneran atau nggak.

Aku nggak tahu makhluk di pojok kamar itu nyata atau cuma pikiranku yang sudah terlalu lelah.

Tapi aku tahu satu hal —

 

Rambut Sewu bukan sekadar cerita.

Ritual Rambut Sewu adalah tentang obsesi yang sudah melampaui batas manusia. Tentang seseorang yang begitu takut kehilangan sampai rela menyerahkan dirinya pada sesuatu yang jauh lebih tua dari rasa sakit itu sendiri.

 

Dan hal paling menakutkan dari Ritual Rambut Sewu bukan makhluk yang datang setelahnya.

Bukan rambut yang berserakan di lantai.

Bukan bisikan di malam buta.

Yang paling menakutkan adalah —

Seseorang pernah tersakiti begitu dalam sampai mereka berjalan ke tengah sawah pada malam yang gelap, sendirian, dan dengan tangan gemetar —

Mereka tetap melakukannya.

 

Buat siapapun yang pernah nemu rambut panjang di lantai kamar, padahal kamu tinggal sendirian —

Sapu. Jangan ditanyain dari mana.

Dan jangan cari tahu nama penghuni sebelumnya.

Posting Komentar untuk "Ritual Rambut Sewu: Tujuh Malam di Kamar 307"