Namaku Dira.
Dan aku nulis ini bukan buat
nakut-nakutin siapapun.
Aku nulis ini, karena kalau nggak aku
keluarin dari kepala, aku takut bakal gila duluan.
Awal kupindah ke Jakarta dua tahun lalu
buat kerja. Dapat kos di daerah Mampang. Bangunan lama, tapi murah. Kamar 307 —
lantai tiga, ujung koridor, tepat di pojok yang nggak kena angin sama sekali.
Waktu pertama masuk, ibu kos bilang
satu hal yang waktu itu kuanggap basa-basi orang tua.
"Mbak, kalau malem-malem nemu rambut di lantai, sapu aja. Jangan ditanyain dari mana."
Aku ketawa.
Aku bilang, "Siap, Bu."
Aku nggak tahu waktu itu bahwa kalimat itu adalah satu-satunya peringatan yang bakal kuterima.
Minggu pertama semua normal. Kerja,
pulang, makan, tidur.
Sampai hari keempat, aku mulai ngerasa
ada yang aneh.
Bukan aneh yang bisa kujelasin. Lebih ke… perasaan bahwa setiap kali aku mau tidur, ada yang duduk di pojok kamar.
Aku nggak pernah lihat wujudnya jelas.
Cuma bayangan yang terlalu gelap buat jadi bayangan biasa.
Dan setiap pagi, tanpa gagal, di lantai
depan kamar mandiku ada rambut panjang.
Bukan sehelai dua helai.
Puluhan helai. Hitam. Panjang.
Berserakan kayak sengaja ditaruh.
Aku pikir mungkin rambutku sendiri.
Rontok waktu keramas.
Tapi rambutku pendek sebahu. Rambut itu panjangnya hampir semeter.
Tentang Wisnu
Di lantai yang sama ada cowok namanya
Wisnu.
Kamarnya 301 — tepat di ujung lorong
sebelah sana.
Kami kenalan waktu sama-sama nunggu lift. Dia ramah. Terlalu ramah, mungkin. Dalam seminggu, dia udah sering ngajakin makan bareng, nganter aku pulang kerja, dan sesekali nongkrong di depan kamarku sambil ngobrol sampai tengah malam.
Aku nggak ngerasa terganggu. Wisnu
orangnya menyenangkan.
Tapi ada satu hal kecil yang aku notice
dari awal — Setiap kali kami ngobrol, sesekali matanya ke bawah, ke arah
lantai.
Kayak lagi ngecek sesuatu.
Dan setiap kali dia ngelakuin itu, ada
sesuatu di ekspresinya yang berubah.
Bukan tersenyum.
Bukan cemas.
Lebih ke… lega.
Telepon dari Ibu
Sekitar minggu kedua, Ibu nelpon dari kampung. Kami ngobrol biasa. Nanya kabar, nanya makan, nanya kerjaan. Tapi di akhir telepon, tiba-tiba Ibu bilang sesuatu yang aku nggak expect.
"Dira, kamu baik-baik aja kan? Ibu
tadi mimpi kamu berdiri di tengah sawah malem-malem. Sendirian. Dan rambut
kamu… panjang banget. Padahal rambut kamu kan pendek."
Aku diam.
"Mimpi aja, Bu."
"Iya… tapi di mimpi itu ada
perempuan duduk di pematang sawah. Mukanya nggak keliatan. Tangannya megang
sesuatu. Kayak… benang atau tali. Dan ujungnya… nyambung ke rambut kamu,
Dira."
Aku tutup telepon dengan alasan baterai mau habis. Malam itu aku nggak bisa tidur.
Yang Aku Temukan di Balik Lemari
Seminggu kemudian, aku nggak sengaja
nggeser lemari buat ambil charger yang jatuh ke belakang.
Dan di balik lemari itu —
Di dinding —
Ada goresan.
Bukan coretan biasa.
Itu tulisan. Kecil-kecil. Rapi. Tapi penuh. Memenuhi hampir seluruh permukaan dinding yang tertutup lemari.
Aku foto pakai HP.
Zoom-in. Sebagian besar tulisannya
nggak aku ngerti — campuran bahasa Jawa kuno, dan simbol yang nggak aku kenal.
Tapi ada satu kalimat yang jelas dan bisa terbaca : "Rambut Sewu sudah tertanam. Dia tidak akan pergi"
Dan di bawah kalimat itu —
Ada nama.
Nama perempuan.
Bukan namaku.
Aku Cari Nama Itu.
Malamnya Aku googling nama yang
tertulis di dinding itu. Nama lengkap. Ditambah kata "Jakarta" dan
"kos Mampang."
Hasil pencarian pertama yang keluar
adalah sebuah artikel berita lokal.
Judulnya: "Wanita Ditemukan
Meninggal di Kamar Kos, Diduga Sudah Tiga Hari"
Tanggalnya dua tahun lalu.
Kamarnya — 307.
Aku Tanya ke Ibu Kos
Paginya aku turun dan langsung tanya ke
ibu kos soal penghuni kamar 307 sebelumku. Ibu kos diam lama banget.
Mukanya berubah.
"Mbak tau dari mana?"
"Saya nemu artikel berita."
Ibu kos narik napas. Terus duduk.
Katanya, perempuan itu namanya Sari. Usianya 26 tahun waktu meninggal. Kerja di
perusahaan swasta, sama kayak aku.
Sari punya pacar — cowok yang tinggal
di lantai yang sama.
Kamar 301.
Nama cowok itu — Wisnu.
Ibu kos bilang, hubungan Sari dan Wisnu awalnya baik-baik aja. Tapi setengah tahun sebelum Sari meninggal, Wisnu mulai berubah. Dingin. Sering pulang malam. Dan katanya, Wisnu mulai dekat sama perempuan lain.
Sari hancur.
Katanya Sari sempat pulang ke
kampungnya di Jawa Tengah selama beberapa minggu.
Dan waktu Sari balik ke Jakarta —
Dia berubah.
Lebih cantik. Lebih tenang. Tapi matanya beda.
"Mbak tau yang paling bikin ibu
nggak bisa lupa?" kata ibu kos pelan.
"Waktu jenazah Sari ditemukan…
lantai kamarnya penuh rambut panjang. Bercampur sama abu kemenyan dan
bunga-bunga layu. Ibu sendiri yang lihat."
Aku ngerasa dingin menjalar dari kaki
sampai ke leher.
"Wisnu sekarang masih di sini,
Bu?"
Ibu kos menatapku aneh.
"Wisnu nggak pernah pergi, Mbak. Dari dulu sampai sekarang masih di kamar 301."
Ritual Rambut Sewu
Yang Aku Pelajari Setelahnya, malam aku
mulai cari tahu.
Ritual Rambut Sewu — dalam kepercayaan
Jawa kuno — adalah salah satu ritual pengikat paling gelap yang pernah ada.
"Sewu" artinya seribu. Konon,
pelaku Ritual Rambut Sewu harus mengumpulkan rambut dari kepala sendiri selama
berhari-hari — kadang minggu, kadang bulan — sampai terkumpul seribu helai atau
lebih.
Rambut itu kemudian dibawa ke pematang
sawah di malam tertentu — biasanya malam Jumat Kliwon atau malam Suro — dan
dibakar bersama kemenyan, bunga tujuh rupa, dan darah dari jari manis tangan
kiri.
Di sanalah perjanjian itu dibuat.
Dengan sesuatu yang tidak punya nama.
Yang tinggal di antara hitam dan gelap.
Di celah yang nggak kelihatan di bawah cahaya bulan.
Tujuan Ritual Rambut Sewu
bermacam-macam — bisa buat mengikat seseorang agar tidak bisa pergi, bisa buat
menghancurkan rumah tangga orang lain, bisa buat membuat seseorang terus
kembali meski sudah jauh.
Tapi semua sumber yang aku baca bilang
satu hal yang sama : Ritual Rambut Sewu tidak pernah gratis.
Selalu ada pembayaran.
Dan pembayarannya adalah bagian dari
diri pelaku sendiri.
Setiap malam setelah ritual berhasil, sesuatu mengambil sedikit dari pelakunya.
Energinya. Kesehatannya. Hidupnya.
Sedikit demi sedikit.
Sampai habis.
Malam Ketujuh
Aku udah mutusin pindah. Tapi malam
sebelum angkat koper, aku terbangun pukul 2 dini hari karena ngerasa ada yang
ganjil.
Kamarku bau kemenyan. Pekat banget.
Kayak abunya ada di mana-mana.
Dan di lantai —
Di seluruh lantai kamar —
Ada rambut panjang.
Ribuan helai.
Berserakan dari bawah pintu sampai ke
kaki tempat tidur.
Aku nggak berani gerak.
Cuma duduk di kasur, memeluk lutut, dan
menatap ke depan.
Dan di situlah aku lihat —
Di pojok kamar — pojok yang dari hari
pertama selalu terasa terlalu gelap — ada sesuatu yang berdiri.
Tinggi.
Hitam.
Penuh rambut panjang yang menjuntai
sampai ke lantai, bercampur dengan rambut-rambut yang berserakan itu.
Makhluk itu tidak bergerak.
Tapi aku tahu —
Dia melihatku.
Dan di telinganya — kalau itu memang
telinga — aku dengar suara bisikan yang sangat pelan.
Berbahasa Jawa.
Yang artinya kira-kira : "Kamu
sudah tidur di atas namanya. Kamu sudah menghirup abunya. Kamu sudah menginjak
rambutnya."
"Sekarang kamu bagian dari perjanjiannya."
Setelah Itu
Aku pindah keesokan harinya. Nggak
pamit ke siapapun. Nggak ke ibu kos. Nggak ke Wisnu.
Terutama nggak ke Wisnu.
Tapi tiga hari setelah aku pindah —
Wisnu nelpon.
Aku nggak angkat.
Dia nelpon lagi.
Dan lagi.
Sampai akhirnya dia kirim satu pesan
yang sampai sekarang masih tersimpan di HP, dan belum pernah kuhapus karena aku
takut kalau kuhapus, sesuatu bakal tahu —
Pesannya cuma satu baris : "Sari titip salam."
Catatan Akhir
Aku nggak tahu Sari ngelakuin Ritual
Rambut Sewu beneran atau nggak.
Aku nggak tahu makhluk di pojok kamar
itu nyata atau cuma pikiranku yang sudah terlalu lelah.
Tapi aku tahu satu hal —
Rambut Sewu bukan sekadar cerita.
Ritual Rambut Sewu adalah tentang
obsesi yang sudah melampaui batas manusia. Tentang seseorang yang begitu takut
kehilangan sampai rela menyerahkan dirinya pada sesuatu yang jauh lebih tua
dari rasa sakit itu sendiri.
Dan hal paling menakutkan dari Ritual
Rambut Sewu bukan makhluk yang datang setelahnya.
Bukan rambut yang berserakan di lantai.
Bukan bisikan di malam buta.
Yang paling menakutkan adalah —
Seseorang pernah tersakiti begitu dalam
sampai mereka berjalan ke tengah sawah pada malam yang gelap, sendirian, dan
dengan tangan gemetar —
Mereka tetap melakukannya.
Buat siapapun yang pernah nemu rambut
panjang di lantai kamar, padahal kamu tinggal sendirian —
Sapu. Jangan ditanyain dari mana.
Dan jangan cari tahu nama penghuni sebelumnya.

Posting Komentar untuk "Ritual Rambut Sewu: Tujuh Malam di Kamar 307"