![]() |
| dok. Perpusnas RI | |
Para pendiri bangsa memiliki konsep jelas perihal arah mau ke mana negara kita dibawa dalam arsitektur pembangunan.
Ingatan Kolektif Nasional
Hal ini ditunjukkan, salah satunya, dalam keputusan TAP MPRS nomor 1 tahun 1960 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), dan TAP MPRS nomor 2 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana
Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka menyoroti pentingnya buku sebagai sumber pustaka yang memuat landasan pemikiran para founding fathers mengenai literasi dan perpustakaan.
Rieke menunjukkan sejumlah buku GBHN yang berhasil diperjuangkannya bersama Bappenas, hingga berhasil diakui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai ingatan kolektif nasional.
“Besti-besti Indonesia, ini buku, jangan sembarangan sama buku. Tidak ada buku ini, tidak ada kementerian negara seluruh Indonesia, tidak ada sistem desentralisasi. Ini semuanya konsep ada di sini,” cetus Rieke dalam Seminar Nasional “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”, Selasa 12 Mei 2026, Perpustakaan Nasional Salemba Jakarta.
Sebelum berganti nama menjadi Bappenas pada 1963, Depernas (Dewan Perancang Nasional) merupakan lembaga negara yang dibentuk pada 15 Agustus 1959 berdasarkan UU No. 80 Tahun 1958 untuk merencanakan pembangunan ekonomi nasional yang menyeluruh.
Lembaga ini berfokus menyusun cetak biru pembangunan semesta berencana. Dari berbagai proyek yang dirancang Depernas, diringkas menjadi Kertas Kerja: Perencanaan Pembangunan Semesta.
![]() |
| dok. Perpusnas RI |
Dalam konsep yang terbit di tahun 1960 itu, tersebut Perpustakaan Nasional yang masuk program prioritas bertajuk Pola Projek Bidang Mental/ Agama/ Kerohanian/ Penelitian. Dengan Key Performance Index (KPI): terpenuhinya kebutuhan rakyat akan bacaan, himpunan kerja intelek bangsa Indonesia, dan pendidikan ahli perpustakaan.
Adapun saat itu, target Perpusnas memiliki kapasitas 4
juta buku. Dimulai tahun pertama rencana I, dan selesai akhir rencana I.
“Dimulai tahun pertama, rencana I. Bayangkan, waktu itu saja targetnya 4 juta. Sekarang, setelah dari 1960
ke 2026. Berapa? 9 juta? Ya, ampun,” tandas Rieke.
Rieke mengusulkan, target
tersebut bisa ditingkatkan dengan menerapkan sistem satu data perpustakaan. Pembangunan
perpustakaan perlu diperluas hingga tingkat desa melalui penguatan perpustakaan desa,
sekolah rakyat, dan ruang baca masyarakat.
Langkah ini dinilai penting agar
akses terhadap pengetahuan dapat makin merata di seluruh wilayah Indonesia.
Seminar menyambut Hari Buku Nasional 2026
dibuka secara resmi oleh Kepala Perpusnas RI E. Aminudin Aziz. Hadir juga narasumber
Director Indonesia Doctoral Training Partnership dari University of Nottingham
Bagus P. Muljadi, Presiden ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN)
Chaerul Umam, dan Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha.

