Namaku Dara. Dua puluh tujuh tahun. Dan Aku baru menikah tujuh hari yang lalu. Harusnya ini minggu paling bahagia dalam hidup Aku. Harusnya.
Hari Pertama — Hari Pernikahan
Salon buka pukul lima pagi khusus untukku.
Tiga jam dirias. Rambutku di-blow, di-curling, disanggul setengah dengan hiasan melati yang wanginya membuatku ingin nangis karena terlalu indah.
Mas Bagus menunggu di pelaminan.
Waktu Aku jalan ke arahnya, waktu dia lihat Aku pertama
kali dalam gaun putih itu, matanya berkaca-kaca.
"Rambutmu paling indah di dunia, Dara."
Aku ketawa kecil. Rambutku waktu itu disanggul, tidak terlihat panjangnya, tidak terlihat bentuknya. Aneh untuk dipuji saat kondisinya seperti itu.
Tapi Aku tidak pikir panjang. Aku pikir itu adalah kata-kata laki-laki yang sedang jatuh cinta.
Aku dan Mas Bagus menginap di hotel, satu malam sebelum
besoknya terbang bulan madu. Malam itu indah. Aku tidak akan ceritakan
detailnya.
Yang Aku ceritakan adalah satu hal kecil yang Aku notice sebelum tidur.
Waktu Aku melepas sanggul, waktu kusisir rambutku yang
panjang sampai pinggang itu, Mas Bagus duduk di tepi kasur, dan menatapku
dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Bukan tatapan mesra. Bukan tatapan kagum.
Lebih seperti tatapan hitung. Seperti seseorang yang
sedang menilai sesuatu. Mengukur.
"Kenapa liatin Aku kayak gitu?" tanyaku sambil
senyum.
Mas Bagus balik senyum. Normal langsung.
"Cantik," katanya simpel.
Aku percaya. Waktu itu.
--
Hari Ketiga — Di Pesawat
Bulan madu ke Lombok. Di pesawat Aku tertidur di bahu Mas Bagus.
Aku tidak tahu sudah berapa lama tidur. Aku terbangun karena ada sesuatu yang terasa tidak enak di kepalaku.
Bukan sakit. Lebih seperti sensasi tarikan. Sangat pelan. Sangat halus. Seperti seseorang menarik helai rambutku satu per satu dengan sangat hati-hati supaya tidak terasa.
Aku buka mata. Mas Bagus tidak tidur. Dia duduk tegak menatap ke depan.
Dan tangannya, tangan kanannya yang tidak di posisi merangkulku, ada di pangkuannya. Terkepal. Dengan cara yang sedikit terlalu kencang untuk seseorang yang sedang santai di pesawat.
Aku pejamkan mata lagi pura-pura tidur. Aku perhatikan tangannya dari balik bulu mata.
Pelan-pelan, sangat pelan, tangannya membuka. Dan di telapak tangannya ada beberapa helai rambut panjang hitam.
Rambutku. Yang dia genggam. Aku tidak bergerak. Aku tidak bersuara. Aku pejamkan mata lebih rapat dan pura-pura masih tidur sampai pesawat mendarat.
Hari Keempat — Vila di Senggigi
Vila yang Mas Bagus pesan, indah. Menghadap laut. Kolam renang pribadi. Sarapan diantar ke kamar. Aku berusaha menikmati semuanya.
Tapi Aku tidak bisa berhenti memikirkan tangan Mas Bagus di pesawat. Aku coba rasionalisasi. Mungkin dia tidak sengaja. Mungkin rambutku memang rontok dan jatuh ke pangkuannya, dan dia pegang tanpa pikir panjang. Mungkin.
Tapi di hari keempat, Aku menemukan sesuatu di tas jinjing Mas Bagus. Aku tidak sengaja. Aku cari charger yang kupikir ada di tasnya.
Dan di dalam kantong kecil di sisi tas, tersembunyi tapi tidak terkunci, ada sebuah plastik ziplock kecil. Transparan. Isinya rambut. Banyak helai. Hitam panjang. Aku kenal rambut itu. Itu rambutku.
Hari Keempat — Malam
Aku tidak konfrontasi Mas Bagus langsung. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin Aku takut. Mungkin Aku tidak mau percaya. Mungkin Aku tidak mau merusak minggu yang harusnya paling indah ini dengan pertengkaran yang Aku bahkan tidak tahu bagaimana memulainya.
"Mas, aku ngumpulin rambut aku di plastik ya, kenapa?" Itu kalimat yang mau Aku ucapkan. Tapi setiap kali Aku mau bilang, ada sesuatu yang menahan. Bukan karena takut jawaban Mas Bagus.
Tapi karena setiap kali Aku tatap Mas Bagus malam itu, setiap
kali kulihat wajahnya yang tenang, senyumnya yang hangat, cara dia pegang
tanganku. Aku tidak bisa mengkombinasikan gambar laki-laki ini dengan gambar
tangan yang menggenggam rambut Aku di pesawat.
Tidak cocok. Dua gambar itu tidak bisa ada di kepala yang sama pada waktu yang sama.
Aku tidur dengan pertanyaan yang tidak kutanyakan. Dan bermimpi tentang sawah yang sangat luas, sangat gelap, dan seseorang berdiri di tengahnya dengan rambut yang terbakar, tapi tidak habis-habis.
---
Hari Kelima — Aku Mulai Cari Tahu
Aku punya waktu sendiri waktu Mas Bagus pergi snorkeling. Aku tidak ikut. Aku bilang mau istirahat. Aku duduk di tepi kolam vila dengan HP di tangan. Aku cari tentang “Ritual Rambut Sewu”. Aku baca. Lama. Teliti. Dan makin kubaca, makin perutku terasa seperti diisi air dingin.
Ritual pengikat. Rambut dikumpulkan dari target tanpa sepengetahuan target. Dibakar bersama sesuatu. Perjanjian dibuat. Hasil, target tidak bisa pergi, selalu kembali, selalu terikat.
Aku baca satu kalimat yang membuatku harus letakkan HP sebentar dan ambil napas.
"Dalam beberapa varian ritual, pengumpulan rambut dilakukan sebelum pernikahan, untuk memastikan pasangan tidak bisa memilih pergi setelah terikat secara hukum. Rambut yang sudah terkumpul cukup kemudian dibakar di malam yang ditentukan, biasanya malam sebelum atau sesudah akad."
Malam sebelum akad. Aku pikir keras. Malam sebelum pernikahan, Aku dan Mas Bagus tidak bertemu. Tradisi. Mas Bagus di rumah orang tuanya. Aku di rumah orang tuaku.
Tapi dua malam sebelum akad, Aku dan Mas Bagus makan malam berdua. Kencan terakhir sebelum jadi suami istri, katanya.
Setelah makan, Mas Bagus minta izin memegang rambut Aku. "Boleh aku pegang rambutmu sebentar? Biar aku ingat ini selalu."
Aku kira itu romantis. Aku izinkan.
---
Hari Keenam — Aku Tanya
Mas Bagus pulang dari snorkeling dengan wajah segar dan bersemangat. Aku tunggu sampai malam. Sampai kami sudah makan malam. Sampai situasinya cukup tenang. Lalu Aku tanya. Langsung.
"Mas, aku nemuin plastik berisi rambut aku di tas Mas. Itu apa?"
Mas Bagus diam. Satu detik. Dua detik. Tiga. Lalu dia menatapku dengan ekspresi yang Aku tidak bisa baca.
"Kamu sudah cari tahu?" tanyanya pelan. Bukan menyangkal. Bukan bingung. Langsung tanya itu.
Aku anggukkan kepala. Mas Bagus menghela napas panjang. Dia duduk lebih tegak. Dia pegang kedua tanganku. Dan dia cerita.
---
Yang Mas Bagus Ceritakan
Mas Bagus cerita dengan tenang. Dengan cara orang yang sudah lama menyiapkan kalimat-kalimat ini.
Dia cerita bahwa dua tahun sebelum ketemu Aku, dia pernah hampir menikah dengan perempuan lain. Namanya Winda. Mereka sudah lamaran. Sudah tentukan tanggal. Sudah bayar gedung.
Tapi tiga bulan sebelum pernikahan, Winda pergi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pertengkaran besar. Hanya pergi. Blokir semua kontak. Pindah kota.
Mas Bagus hancur. Selama setahun dia tidak bisa bangkit.
Sampai seseorang — teman lama, dia tidak sebut nama, memberitahu dia tentang “Ritual Rambut Sewu”.
"Bukan untuk mengikat kamu supaya tidak bisa pergi," kata Mas Bagus pelan. Matanya menatap Aku langsung. "Aku tahu itu kedengarannya sama. Tapi bukan itu. Aku melakukannya supaya aku bisa mencintai kamu sepenuhnya. Supaya rasa takut ditinggal itu tidak membuat aku pergi duluan. Supaya aku tidak sabotase hubungan kita sendiri karena trauma."
Aku diam mendengarkan.
"Ritual ini aku lakukan untuk diriku sendiri, Dara.
Bukan untuk mengikat kamu. Untuk menyembuhkan aku."
Hening sangat panjang.
"Tapi rambut aku," kataku akhirnya. "Kenapa kamu perlu rambut aku?"
Mas Bagus menggenggam tangan Aku lebih erat.
"Karena medianya harus rambut dari orang yang aku cintai. Supaya ritualnya terhubung ke sesuatu yang nyata. Bukan abstrak."
Aku menatap Mas Bagus lama. Wajah yang sudah kukenal dua tahun. Yang Aku percaya. Yang Aku pilih untuk kuhabiskan hidup bersama.Dan Aku tidak tahu, sampai sekarang tidak tahu, apakah yang dia ceritakan itu jujur sepenuhnya.
Atau apakah ada bagian yang dia pilih untuk tidak selesaikan.
---
Hari Ketujuh — Hari Terakhir Bulan Madu
Kami tidak banyak bicara di hari terakhir. Bukan karena marah. Bukan karena dingin.
Tapi karena ada sesuatu yang berubah di antara kami — sesuatu yang tidak ada namanya tapi bisa kami berdua rasakan, dan kami belum tahu bagaimana cara membicarakannya lebih jauh.
Di bandara, menunggu boarding, Mas Bagus pegang tanganku.
"Aku minta maaf," katanya pelan.
"Untuk apa tepatnya?" tanya Aku.
Dia tidak langsung menjawab. "Untuk tidak bilang dari awal."
Aku anggukkan kepala.
Pesawat boarding.
Kami duduk berdampingan. Mas Bagus tertidur di kursinya dua puluh menit setelah take off. Aku tidak tidur. Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku bahkan dalam tidur.
Dan Aku pikir tentang semua yang dia ceritakan. Tentang ritual yang katanya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Tentang trauma yang dia bawa dari hubungan sebelumnya.Tentang rambutku yang dia kumpulkan tanpa izin.
Aku pikir apakah Aku percaya ceritanya. Aku pikir apakah ceritanya masuk akal. Aku pikir apakah ada bagian dariku yang merasa semuanya baik-baik saja karena Aku memang memaafkan, atau karena sesuatu yang mengalir dari ritual itu membuat Aku tidak bisa tidak memaafkan.
Aku tidak bisa menemukan jawabannya. Dan itu yang paling menakutkan.
---
Yang Aku Temukan Setelah Pulang
Kami sampai rumah malam hari. Rumah kami, rumah baru yang kami beli bersama, yang kami renovasi bersama, yang kami isi perabot bersama selama setahun terakhir.
Mas Bagus langsung mandi karena kelelahan perjalanan.Aku duduk di kasur. Aku lihat sekeliling kamar yang sudah sangat kukenal.
Dan Aku lihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan. Di bawah kasur, di sisi Mas Bagus, ada sesuatu yang tersembunyi di antara rangka kasur dan lantai. Aku berlutut. Aku raih.
Sebuah kotak kecil dari kayu. Tidak terkunci. Di dalamnya; rambut. Banyak. Hitam panjang. Disusun rapi melingkar di atas abu yang sudah mengering. Jumlahnya, Aku tidak bisa hitung tepat. Tapi banyak.
Jauh lebih banyak dari yang ada di plastik ziplock di tas Mas Bagus. Ini bukan rambut yang baru dikumpulkan. Ini rambut yang sudah lama. Yang sudah berkali-kali dibakar. Yang abunya sudah berlapis-lapis.
Aku berdiri. Aku pikir tentang apa yang Mas Bagus bilang. Ritual ini aku lakukan untuk diriku sendiri. Untuk menyembuhkan aku. Aku pikir tentang kapan kami pertama kali ketemu. Dua tahun lalu.
Aku pikir tentang usia abu di kotak itu.Yang terlihat jauh lebih tua dari dua tahun. Aku dengar suara shower di kamar mandi berhenti. Aku taruh kotak itu kembali ke bawah kasur. Aku duduk di tepi kasur.
Dan waktu Mas Bagus keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang dan senyum lelah yang hangat dan berkata: "Kamu kenapa, sayang? Mukamu pucat."
Aku tersenyum kembali. "Nggak apa-apa, Mas. Capek."
Aku berbohong dengan sangat mulus. Dan Aku baru menyadari bahwa Aku tidak pernah berbohong semulus itu kepada siapapun sebelumnya. Tidak kepada orang tua Aku. Tidak kepada sahabat Aku. Tidak kepada siapapun.
Kecuali kepada Mas Bagus. Yang selalu bisa kubohongi. Yang tidak pernah bisa membaca Aku. Yang padahal sudah dua tahun bersama. Yang padahal katanya mencintai Aku lebih dari apapun.
Aku berbaring di kasur. Mas Bagus matikan lampu. Dan dalam gelap itu, dalam ketenangan rumah baru kami di malam pertama setelah bulan madu.
Aku baru menyadari sesuatu yang seharusnya Aku sadari sejak hari pertama. Sejak hari pernikahan. Sejak Mas Bagus bisik di telinga Aku di pelaminan itu.
"Rambutmu paling indah di dunia, Dara."
Bukan pujian. Itu bukan pujian. Itu penilaian. Itu seseorang yang sudah sangat lama, jauh lebih lama dari dua tahun, mengincar satu hal dariku. Dan sadar bahwa akhirnya dia mendapatkannya.
---
Dara masih tidur di sebelah Mas Bagus malam ini. Besok pagi dia akan bangun. Menyiapkan sarapan. Mencium pipi suaminya. Tersenyum.
Dan tidak akan bilang apapun tentang kotak kayu di bawah kasur. Bukan karena takut. Bukan karena tidak tahu harus bilang apa. Tapi karena sejak tujuh hari lalu. Sejak malam akad itu, ada sesuatu yang mengalir masuk ke dalam dirinya. Pelan. Konstan.
Yang membuat semua pertanyaan terasa tidak penting. Yang membuat semua kekhawatiran terasa berlebihan. Yang membuat Mas Bagus selalu terlihat benar. Selalu terlihat baik. Selalu terlihat seperti orang yang paling layak untuk dipercaya.
Dan Dara, yang dua puluh tujuh tahun hidupnya selalu kritis, selalu mempertanyakan, selalu tidak mudah percaya, tidak bisa lagi menemukan dalam dirinya sendiri, keinginan untuk tidak percaya.
Ritual Rambut Sewu yang Mas Bagus jalankan, sudah sempurna. Bukan karena Dara tidak bisa pergi. Tapi karena Dara tidak lagi ingin.
