Skip to main content

Featured Post

Kota Layak Anak, Kenali Ciri-cirinya

Hari ahad datang lagi. Saatnya seharian menikmati jalan raya bebas mobil lalu lalang(Car Free Day). Di jalan utama depan gerbang komplek kami sudah ada CFD. Tak perlu lagi ke Senayan atau Bundaran HI. Sayangnya, hari minggu ini tidak digelar. Ya sudah, terlanjur ke luar rumah, kami balik badan, main di lapangan komplek saja.

Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara: Lumbung Jumpa Indonesia dan Asia

literature seminar

Sastra Indonesia adalah sastra-sastra lokal yang berjumpa di rumah Bahasa Indonesia. Penulis dan guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Suminto A. Sayuti mengungkapkan dalam  Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara (SAKAT) ke-13: "Teori dan Kritik Sastra Loka (Sastera Tempatan)", Jakarta, (11/9/17). “Sastra Indonesia, walau masih sangat hipotetis, sebenarnya sastra lokal. Hampir semua pengarang berangkat dari lokalitas masing-masing. Dia dirumahkan dalam bahasa Indonesia jadi sastra Indonesia,” jelasnya.





Dari Indonesia ke Trans Nasional 

Suminto membawa makalah bertajuk "Lokalitas (dalam) Sastra Indonesia: Beberapa Kemungkinan". Disampaikan, Bahasa Indonesia memiliki dua fungsi. Pertama, menjaga kita dari telikung sosial budaya. Kedua, sebagai rumah bersama, lumbung perjumpaan  tiap lokalitas.  

“Bahasa Indonesia membebaskan kreator Indonesia modern dari telikung sosial budaya. Di sisi lain, dalam bahasa Agus Sarjono, sebagai lumbung perjumpaan, antara lokalitas satu dengan yang lain di seantero Nusantara,” tuturnya.  

Perjumpaan yang saling beririsan itu kemudian mewujud menuju Indonesia masa depan.

“Ketika terjadi irisan-irisan, itulah Indonesia masa depan. Indonesia yang kita perjuangkan,” imbuhnya.

Perjumpaan ini menjadi menarik, lanjut Suminto, ketika nasionalisme Indonesia melintas ke Asia Tenggara dan saling beririsan juga.

“Ini akan jadi menarik ketika nasionalisme Indonesia beririsan dengan nasionalisme Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan seterusnya. Lalu membentuk regionalisme Asean, Asia, dan akhirnya trans nasional,” bebernya.

literature seminar

Dari regionalisme meluas jadi trans nasional. Sinergi para kreator dalam panggung sastra pun kian strategis. 

“Jika cara demikian dilakukan, sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak hidup damai. Karena yang diperjuangkan pada dasarnya kemanusiaan. Masalahnya susastra selalu nomor ke sekian. Padahal dia amat strategis kalau diletakkan dalam perspektif strategi kebudayan,” pungkasnya.  

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggelar SAKAT ke-13 sebagai kelanjutan Musyawarah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Kuala lumpur, Malaysia, pada April 2012. Seminar dua hari ini didahului Musyawah Sekretariat Mastera (Maret 2017) dan program penulisan puisi Mastera (Agustus 2017). 

Comments

  1. Mempelajari budaya melalui bahasa dan sastra memang menarik sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat kak Farida. proses meng-indonesia kita lewat sastra itu seruu

      Delete

Post a Comment