Skip to main content

Serunya Belajar Ekonomi Syariah dan Jurnalistik Bersama AMITRA


gustav aulia anchor

Islam adalah rahmatan lil ‘alamin; membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Maka, ekonomi syariah tidak hanya untuk umat Islam semata. Ia juga membuka peluang kerjasama dengan umat agama lain. Demikian Sub Departemen Head AMITRA Syariah Financing Rasidin Ali Firmansyah ungkapkan dalam One Day Seminar “Perkembangan Ekonomi Syariah & Jurnalistik Kreatif Zaman Now”, Auditorium Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat (9/3/18).   



Subur di London

“Ekonomi syariah sifatnya universal. Batasan muamalah; selama tidak ada larangan maka boleh dilakukan. Kita tidak membatasi nasabah kita muslim semua. Selama dia mau ikut aturan yang sudah ditentukan,” jelas Rasidin.
  
Menguatkan pernyataan tersebut, mari simak apa kata Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sondang Martha Samosir di Kompas (4/10/17)

Ia ungkapkan, banyak masyarakat non Muslim senang menggunakan produk syariah karena tidak ada unsur riba. Untuk itu, Sondang menyarankan, sampaikanlah ekonomi syariah dengan bahasa user-friendly,  supaya lebih banyak lagi masyarakat paham akan produk-produk yang ditawarkan.

Jika rekan narablog melancong, sempatkan bertualang ke Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Lokasi di mana Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (KSPPS BMT) Bina Ummat Sejahtera berkantor pusat. Selain melayani nasabah muslim, BMT yang didirikan 21 tahun lalu oleh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) ini juga memiliki nasabah non muslim.  

Jadi ada intonasi yang sama ketika berbicara sistem ekonomi syariah yaitu RIBA. Riba sama dipahami bersama sebagai praktik yang tidak adil. Ia memberatkan sepihak dari suatu jalinan interaksi ekonomi. Bahkan jika ditelusuri lebih dalam, agama-agama lain pun melarang riba. 

Maka di sinilah peran para pegiat untuk membumikan ekonomi syariah. Memadankan bahasa yang mudah dimengerti seluruh lapisan masyarakat. Bahwa ekonomI syariah sebagai solusi mengokohkan harmonisasi sendi-sendi kehidupan. Nilai-nilai islami sangat kompatibel dengan semangat kehidupan masyarakat Indonesia. Yakni tolong-menolong, gotong royong, tepa selira, menjauhi kemaksiatan, dan tidak spekulatif. 
  
Keberhasilan menyelaraskan ini ternyata terlihat di bumi Eropa. Telaten menanam dan menyemai, ekonomi Islam tumbuh subur di negara yang notabene bukan negara muslim. Mengutip Republika (30/5/17), kota London makin menguatkan posisinya sebagai pusat keuangan Islam. Pada 1982, Bank Islam pertama lahir di Inggris. 

Hampir dua puluh tahun kemudian, Pemerintah Inggris menghapus penghalang pajak untuk produk yang sesuai dengan syariah, yang bertindak sebagai insentif bagi investor dan penjamin emisi.

Walhasil, pada 2004, OJK versi Inggris: Financial Services Authority (FSA) menyetujui bank Inggris pertama yang benar-benar Islami. Pada 2017, dibandingkan negara Barat lainnya, Inggris memiliki lebih banyak bank dan kreditur Islam. 


AMITRA

Sebagian besar masyarakar sudah lama mengenal FIFGROUP sebagai penyedia layanan pembiayaan kendaraan roda dua (FIFASTRA). Selain itu, ada SPEKTRA untuk pembiayaan multigunaMerespon perkembangan teknologi finansial, sudah tersedia aplikasi online DANASTRA untuk kemudahan  konsumen dalam mengajukan pembiayaan multiguna.

Kini juga telah hadir AMITRA Syariah Financing. Salah satu layanan pembiayaan FIFGROUP yang merupakan anak perusahaan ASTRA. AMITRA merupakan pembiayaan yang dikelola untuk menciptakan dan menggarap potensi pasar syariah.

Produk AMITRA Syariah Financing di antaranya pembiayaan haji reguler dan haji plus serta umrah reguler dan umrah plus. AMITRA juga melayani pembiayaan logam mulia sebagai investasi di masa depan. Pembiayaan ini mengunakan akad murabahah. Layanan lainnya adalah pembiayaan hewan dan/ atau paket aqiqah dengan akad murabahah.


Pelatihan Jurnalistik

Usai dibekali pengetahuan mengenai ekonomi syariah, pelatihan jurnalistik pun digelar. Peserta yang didominasi mahasiswa ini antusias mengikuti jalannya kegiatan. Ilmu demi ilmu mereka dapatkan dalam sehari penuh 

Media massa adalah media yang menjangkau banyak orang. Ia juga memiliki keterbatasan ruang dan waktu yang harus diisi sebanyak mungkin informasi berguna bagi khalayak. Selain itu, perkembangan pesat teknologi digital memperluas arena persaingan antar media untuk memenangkan hati pengguna. 

Berdasarkan ciri umum media massa tersebut, paling tidak ada tiga poin untuk memenuhi  syarat Bahasa Indonesia Jurnalistik (BIJ). Akurat dan udah dipahami, singkat dan padat, serta menarik.

Sering kita menemukan wartawan melaporkan “Banjir sepinggang orang dewasa...” atau “Banjir surut tinggal semata kaki...”Tahukah kawan, hal tersebut menyalahi satu dari tiga syarat  BIJ? Founder dan CEO Gustav Aulia Private Presenting Course, Gustav Aulia  membagi kiat menulis cerdas.  

Menurut Gustav, penggunaan kalimat yang menjelaskan volume banjir tersebut tidak akurat, karena tidak sesuai ukuran yang baku.   

“Hindari menulis ukuran yang tidak baku. ‘Ketinggian mencapai sepinggang orang dewasa’. Harusnya kalau tinggi: sentimeter atau meter. Kemudian ‘jarak tempuh 30 menit’. Jarak itu kilometer atau meter. Kalau menit berarti waktu tempuh,” jelas mantan presenter Seputar Indonesia.

Gustav juga mengingatkan agar jurnalis atau reporter menghindari berkesimpulan secara induktif. Induksi adalah penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlakukan secara umum.

“Contoh, BBM naik hari ini. Anda mau menulis mengenai dampaknya bagi pedagang. Anda hanya tanya dua orang. Bagaimana penjualan hari ini? Menurun. Kemudian Anda tulis ‘Pedagang Pasar Ciputat mengeluh karena penjualan menurun akibat kenaikan harga BBM’,” jelasnya.

Hal ini mengesankan seluruh pedagang di Ciputat mengeluhkan kenaikan. Padahal kita baru mewawancarai 2 orang. Kesimpulan ini disebut induktif. 

Seminar sehari yang digelar AMITRA Syariah Finance tergolong unik dan istimewa.  Ada dua ilmu yang dibagikan gratis dalam satu acara. Road show ke berbagai kampus ternama se –Jabodetabek ini menyampaikan perkembangan keuangan syariah. Seminar juga membekali para peserta dengan ilmu dasar jurnalistik bersama para pakar di bidangnya.

Program ini sekaligus menjadi salahsatu ajang AMITRA Writing Competition. Yaitu lomba menulis tentang perkembangan ekonomi syariah di tanah air. Lomba blog ini memperebutkan hadiah total 10 juta rupiah.    




Comments

  1. Wah, baru eungeuh kalo bank syariah pertama di Eropa, berkembangnya di Inggris.

    ReplyDelete
  2. Kalau dilihat dari kemudahannya, mending yang syariah atau konvensional mba?

    ReplyDelete
  3. Sudah saatnya sekarang semua beralih ke syariah .hehe..

    ReplyDelete
  4. Mau banget nih ikutan lomba writing competition-nya AMITRA, siapa tahu menang 😁😂

    ReplyDelete
  5. Duh senangnya dapat ilmu jurnalistik dari Amitra

    ReplyDelete
  6. Pasti seru banget bisa belajar ilmu jurnalistik dan dapat pengetahuan tentangvperbankan syariah sekaligus. Jangan lupa ilmunya dibagiin ya mas

    ReplyDelete
  7. Sepertinya sekarang setiap bank memiliki program syariah ya, lebih amanah

    ReplyDelete
  8. Wah kalau hidup di Inggris tenang ya soalnya udah ada bank yg kenal sistem syariah/ islami :D
    pengen banget umroh pakai AMitra. Seru kyknya acaranya ya, dapat ilmu jurnalistik pula :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Inggris saja tenang, apalagi di sini ya kak. Benar, seru sangat hari itu.Beruntung bisa berkesempatan :)

      Delete
  9. Seru sekali dapat ilmu jurnalistik. Saya baru tahu kalau justru di Inggris bank syariah berkembang lebih dahulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, aku pun demikian. Baru tahu. Jadi makin semangat mendukung keuangan syariah ya :)

      Delete
  10. Ingin juga umroh pakai AMITRA agar tenang ibadahanya dan juga sebelum berangkat tenang pembayarannya.

    ReplyDelete
  11. Pembiayaan syariah sekarang sudah lebih implementif ya. Jaman sy kuliah dulu, masih sebatas teori dan wacana. Semoga lembaga pembiayaan berbasis syariah ini konsisten dalam pengaplikasian ilmu muamalah dan dalam bimbingan DSN selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pembiayaan syariah di tanah air sudah berdenyut di awal 90an , bahkan sebelumnya.sebagian besar berdegup di pelosok kampung dengan hadirnya bmt-bmt.Di tataran mainstream memang merekah sejak lahirnya BMI..

      Delete

Post a Comment