Skip to main content

Featured Post

Kota Layak Anak, Kenali Ciri-cirinya

Hari ahad datang lagi. Saatnya seharian menikmati jalan raya bebas mobil lalu lalang(Car Free Day). Di jalan utama depan gerbang komplek kami sudah ada CFD. Tak perlu lagi ke Senayan atau Bundaran HI. Sayangnya, hari minggu ini tidak digelar. Ya sudah, terlanjur ke luar rumah, kami balik badan, main di lapangan komplek saja.

Traveling Hemat Ala Pelancong Beken Indonesia


traveling murah ala traveler hits indonesia

Bepergian itu baik terutama untuk menimba pengalaman dan memperluas pandangan. Apalagi kalau berkesempatan mengunjungi negara-negara tujuan wisata dunia. Wah, bakal jadi momen tak terlupakan seumur hidup. 

Rencana Matang

Yang terbayang pertamakali adalah kita bisa punya koleksi foto ciamik di lini masa akun instagram untuk orang-orang bisa berikan lusinan cinta dan komentar.     

Tapi ada sesuatu yang harus diingat. tidak semua cerita perjalanan para traveler berakhir dengan sepenuhnya menyenangkan. Dari foto-foto para pelancong yang kita sematkan love dan komentar itu, bukan berarti tanpa senarai sendu di dalamnya. 

Saya pernah baca pengalaman yang tidak mengenakkan dari pelancong selama bepergian. Sejatinya, nasihat adalah otobiografi si penasihat itu sendiri. Ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik, salahsatunya agar kita tidak mengalami apa yang mereka sudah rasakan.

Di balik foto-foto di destinasi memikat dan cerita yang menarik untuk dibagi, ada tahapan langkah yang telah direncanakan secara matang sebelumnya. Seperti satu ungkapan masyur: if you fail to plan then you plan to fail. 

Nah bagaimana agar perjalanan kita menyenangkan atau setidaknya meminimalisir kemungkinan terhinggap hal-hal yang mengganggu ketidaknyamanan di tengah perjalanan?

Gramedia Writers and Readers Forum 2019 menghadirkan banyak kelas inspirasi selama tiga hari. Di hari ke-2, Sabtu 3 Agustus 2019, ada penulis seri the Naked Traveler, Trinity, Hendra Fu (Hola Spanyol! Pelesir Ceria ke Tujuh Kota Espana) dan Travel Consultant Claudia Kaunang yang menjadi pembicara di kelas pagi dengan tajuk “It’s Not Destination, It’s a Journey”. 

Para traveler terkenal asal tanah air ini hadir membeberkan semua yang dibutuhkan pelancong sebelum berniat keliling dunia.

Menurut Claudia, kalau mau bepergian tidak usah dibebani dengan kekhawatiran hingga berujung drama. Yang terpenting adalah jangan memaksakan dan tahu kemampuan diri baik secara fisik maupun aspek keuangan.

“Kalau saat ini baru mampu ke negara-negara di Asean, go ahead. Kalau target mau ke Jepang, Korea, Taiwan, negara-negara Asia bagian utara, berarti harus menabung setahun-dua tahun,” ujarnya.  


Claudia kemudian membagi tips budgeting yang efektif dan efisien dengan memperhatikan kurs dolar yang dinamis, inflasi, hingga kondisi negara yang ingin didatangi. 
  
Dengan hadirnya konsultan perjalan dan aplikasi, kita dimudahkan dalam merencanakan perjalanan dengan informasi seputar akomodasi dan transportasi. Claudia beri contoh, kalau kita mau ke Bangkok selama 4 hari 3 malam, perkiraan biaya bisa dari 5 sampai 30 juta, tergantung pilihan hotel, dan mau sewa mobil atau naik angkutan umum.

“Kalau kita mau nabung 5 juta, hitung pendapatan kita ambil 10%. Kita bisa menambung 500 ribu selama 10 bulan. Di bulan ke sepuluh atau sebelas, kita sudah bisa pergi ke Bangkok,” tutur penulis 2 Juta Keliling Thailand, Malaysia dan Singapura (2009).

Bagaimana jika ternyata setiba di sana, anggaran kita meleset dari perencanaan. Claudia menceritakan pengalamannya selama membuka proyek Open Trip “Trip Bareng CK”. Menurut Claudia, hal tersebut terjadi akibat dari melanggar janji diri sendiri untuk tidak berbelanja. Padahal saat brifing di Indonesia, para klien bertekad untuk tidak berbelanja selama menjelajahi destinasi.     

Namun tergoda berbelanja kadang bukan karena untuk memenuhi hasrat diri sendiri. Tak jarang kita merogoh kocek dan mengeluarkan uang demi bisa bawa buah tangan sepulang traveling ke mancanegara. Maksud hati ingin kesohor tapi yang terjadi malah tekor. Apalagi jika oleh-oleh yang kita berikan tidak disambut apresiasi selayaknya.

“Yang membuat biaya traveling membengkak adalah belanja. Kadang ironis, belanja bukan buat diri sendiri. Kita kasih magnet mereka akan bilang magnet doang, kenapa tidak kaos. Begitu juga kalau ngasih coklat atau permen,” sebut perempuan berdarah Manado ini yang disambut anggukan para peserta.

Maka Claudia ingatkan untuk lebih prioritaskan hal-hal yang bersifat darurat (emergency) sebagai antisipasi skenario terburuk.

Salahsatunya selalu siapkan dana taktis berbentuk dolar. Apalagi anjungan tunai mandiri/ automatic teller machine (ATM) dari bank-bank Indonesia sudah bisa diakses di luar negeri. Siapkan dana segar paling tidak sekitar 50-100 dolar, atau kalau bisa 200-300 dolar lebih baik lagi.

“Jadi kalau menabung 5 juta, bisa beli 100-200 dolar. Emergency misal kita harus mendadak beli tiket pulang on the spot atau kita harus pindah hotel. Pakai uang emergency tapi bukan untuk belanja,” pungkasnya.

Comments