Skip to main content

Featured Post

Ordering Food is Like Choosing Netflix Show

Every company has this same question that is asked by themselves everyday: How can we provide the most unique offering to our costumers? How can we win our cuctomers’ mind and heart? The type of question Grab also have. The Singaporean transportation network company has been expanding in Indonesia eversince it’s appearance in 2014. 

Gramedia Writers and Readers Forum Rawat Keragaman Budaya

perpustakaan nasional ri

Dalam Sapiens – A Brief History of Humankind (2011), Yuval Noah Harari menyiratkan pengaruh tindakan domestikasi terhadap tumbuhan dan hewan liar . Perilaku ini mengubah ekosistem yang tadinya berjalan alamiah, dibawa pulang sebagian dan menjadi sepenuhnya tanggungjawab manusia. Keragaman hayati (biodiversity) mampu menjaga keberlangsungannya sendiri hingga datang campurtangan anak cucu adam.

Literasi Dalam Keragaman

Dalam tatanan kehidupan, manusia juga memiliki keragaman yakni keragaman budaya (cultural diversity). Berbeda dengan keragaman hayati yang sudah saling berinteraksi harmonis dan solid, keragaman budaya butuh pengelolaan dan pemeliharaan sebagai ikhtiar bersama para penduduk bumi.

Biodiversity di hutan bisa didiamkan saja dan sustainable ratusan bahkan jutaan tahun. Sedangkan cultural diversity tidak bisa didiamkan begitu saja. Kita perlu menciptakan bersama, satu kesatuan ekosistem yang solid dan harmonis, serta saling menghargai.

Indonesia dikenal dunia sebagai salahsatu negara yang mempunyai tingkat peorbedaan suku, budaya, dan bahasa tertinggi. Indonesia memiliki 16.056 pulau pada 2017 (Buku Statistik Indonesia 2018). Hingga saat ini, Badan Bahasa baru mengidentifikasi 668 bahasa dari 2.468 daerah di Indonesia (Media Indonesia, Feb 2019).

Maka tugas merawat keragaman budaya, bagi Indonesia menjadi upaya yang sangat sungguh-sungguh melibatkan berbagai elemen bangsa, khususnya para pegiat di dunia literasi. Guna menjaga persatuan dalam kebergaman ini, perlu tingkat literasi yang baik.

Hal tersebut juga menjadi kegelisahan salahsatu penerbit terkemuka tanah air, Gramedia bersama Perpustakaan Nasional RI menggelar Gramedia Writers and Readers Forum. Forum bertemu, berinteraksi, diskusi dan berbagi antara penulis dan pembaca ini digelar  pada Jumat sampai dengan Ahad, 02-04 Agustus 2019 di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka eatan No. 11, Jakarta Pusat.

Forum yang kali kedua diselenggarakan Gramedia bersama Perpusnas RI ini mengusung tema “Literacy in Diversity”. Kata kunci ini bergayung sambut dengan ikhtiar merawat keberagaman budaya lewat perayaan literasi sebagai ajang anak bangsa saling memahami satu sama lain.   

“Bagaimana kita bisa memahami saudara kita dari suku dan bahasa lain, kalau tidak pernah tersekspos ke sana dan memahami. Entah dalam bahasa mereka atau bahasa nasional, karena para penulis kita mengungkapkan hal itu,” tutur Publishing & Education Director PT Gramedia Asri Media Suwandi S. Brata dalam Konfrensi Pers Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2019, Perpusnas RI, Jakarta (01/8/19). 

Di tengah kondisi bangsa yang mudah sekali terjadi gesekan, salah mengerti, dan salah paham, para pegiat literasi dapat turut berperan menghidupkan wahana pemersatu lewat aktivitas yang produktif. Gramedia Writers and Reader Forum akan diisi kelas-kelas inspiratif, mulai dari talkshow, workshop, editor’s clinic, short film award festival, pertunjukan musik, ulasan film terbaru, hingga bazaar buku murah. 

Dengan begitu, harap Suwandi,  lewat keragaman literasi, cultural diversity yang kita miliki  ini betul-betul menjadi anugrah hingga ada sesuatu yang kita syukuri bersama.
  
“Ayo para penulis, mulai sekarang, ketika menulis, ada perspekstif tambahan yang penting untuk NKRI. Untuk sumbangan riil kita lewat pembentukan persepsi penyadaran akan pengetahuan di mana keterbukaan hati tercurah di sana," pungkas Suwandi.

Gramedia Witers and Readers Forum 2019 diramaikan Fiersa Besari, Ayu & Ditto, Aan Mansyur, Sapardi Djoko Damono, Rintik Sedu, Ahmad Fuadi, Budiman Sudjatmiko, Maman Suherman, Naela Ali, Ayu Utami, Claudia Kaunang, dan masih banyak lagi yang lainnya.



Klinik Editor

Corporate Secretary Gramedia Yosep Adityo sampaikan antusiasme masyarakat untuk perhelatan tahunan penulis dan pembaca kali ini. Pemesanan tiket secara online melalui aplikasi MyValue lagsung diserbu dalam waktu singkat. Aplikasi menawarkan diskon menarik untuk pembelian buku Gramedia. Voucher yang didapat tiap membeli tiket, bisa langsung dipakai saat membeli di booth Gramedia, di selasar Perpustakaan Nasional selama acara forum berlangsung.

Tahun lalu, Gramedia Forum hanya diselenggarakan 2 hari. Tahun ini, menyambut hari kemerdekaan RI, acara digelar penuh dari pagi hingga sore selama 3 hari berturut-turut. Jumlah pendaftar untuk forum tahunan kedua ini juga meningkat.      

“Tahun lalu, yang hadir sekitar 1500 orang. Tahun ini,  dengan panel 45 orang pembicara, kita menyediakan 2800 kursi. Yang sudah mendaftar hingga semalam ada 2560 orang. Untuk editor’s clinic sudah 360 sekian pendaftar, “ungkap Yosep.  

Artinya, ada sekitar 360an naskah penulis baru yang berpotensi menjadi Ahmad Fuadi, Ayu Utami, atau Maman Suherman berikutnya. Klinik editor merupakan salahsatu sesi yang ditunggu-tunggu terutama oleh para penulis pemula. Di kelas tersebut, mereka akan mendapat kesempatan langka berkonsultasi mengenai hasil karyanya yang dibaca para penulis-penulis andal dan kompeten. 

Hadir juga dalam konfrensi pers; Arwan Subakti (Public Relation Sub Division Perpusnas RI), Maman Suherman (Jurnalis Kini Penulis dan Mentor), Valerie Patkar (Penulis Novel Best Seller 'Claires'), dan Luluk HF (Novelis beken wattpad).

Comments