Skip to main content

Featured Post

Ordering Food is Like Choosing Netflix Show

Every company has this same question that is asked by themselves everyday: How can we provide the most unique offering to our costumers? How can we win our cuctomers’ mind and heart? The type of question Grab also have. The Singaporean transportation network company has been expanding in Indonesia eversince it’s appearance in 2014. 

Inovasi Sepenuh Hati Grasindo


ulang tahun grasindo kompas gramedia

Untuk mengajukan pinjaman, nasabah harus datang ke bank membawa setumpuk persyaratan. Itu dulu. Kini lewat ponsel, sambil tidur-tiduran di kamar, dana segar mendarat di rekening dalam hitungan menit. 


Destruksi Kreatif

Makin sering ditemui mal berfasilitas parkir tanpa petugas. Cukup tap-in and out di mesin pintar. Transaksi non tunai juga kian marak seiring promo cashback yang ditawarkan tiap gerai.

Ini sekadar menyebut beberapa fenomena yang menandakan sedang berlangsung era creative destruction. Apa tuh? Bukan, bukan judul album Guns and Roses. Ia adalah teori inovasi ekonomi dan siklus bisnis yang digulirkan lebih dari seabad lalu oleh ekonom asal Austria Joseph A. Schumpeter. Pada 1950-an, Schumpeter sudah bicara esensi dari dinamika perkembangan ekonomi ke depan.

Tarik ke belakang, sekitar seabad lalu, pada 1911, Peter Drucker sudah bahas creatively destruct sebagai salahsatu fungsi kepemimpinan (leadership). Buku “Rethinking The Future” (1998) juga bicara hal sama soal kedatangan abad baru ekonomi. Kegiatan bisnis tidak lagi bersifat linear dan kontinyu, melainkan diskontinuitas. Terjadi ketidaksinambungan di mana kondisi suatu saat bisa berganti secara mengejutkan di luar prediksi. 

Alih-alih mengembangkan secara berkelanjutan, geliat creative destruction justru mengganti dan merombak skema bisnis secara cepat dan tak terduga. Ojek pangkalan tak mengira bakal disalip ojek daring. Ketangguhan perbankan mesti berhadapan dengan gempuran teknologi finansial (fintech). 

Agen perjalanan dan bisnis perhotelan harus mengimbangi kemunculan jasa layanan daring yang menyediakan servis serupa dengan pilihan yang lebih menarik.

Informasi berfaedah ini saya dapatkan dari Publishing and Education Director PT Gramedia Asri Media Suwandi S. Brata. Seperti biasa, di tiap kesempatan, Pak Wandi selalu sampaikan pencerahan untuk narablog seperti saya bisa senantiasa aktual. Bahwa paradigma pengembangan bisnis yang berkelanjutan sudah out of date dan perlu ditinjau ulang.  

“Pengembangan terus-menerus tidak cukup, sudah kedaluwarsa. Kata kuncinya creative destruction. Maka, passionately innovating cocok sekali jadi tema, karena itu yang bikin relevan,” ungkap Pak Wandi dalam sambutan di perayaan 29 Tahun Grasindo “Passionately Innovating”, Kompas Gramedia Building, Jakarta, Selasa, 24 September 2019.  

Beliau berharap, Passionately Innovating atau Inovasi Sepenuh Hati dan Cinta tidak sebatas tema, melainkan juga menjadi value proposition untuk harapan ke depan yang akan membuat  Grasindo tetap relevan di zamannya. Tantangan kini lebih kompleks dari sekadar kompetitor yang menawarkan layanan sama.

“Kita lihat sekarang, pesaing kita bukan penerbit. Pesaing kita adalah yang kemarin tidak kita anggap pesaing,” pungkas Pak Wandi. 


grasindo kompas gramedia building

leson.id

Inovasi bukanlah kata asing bagi Grasindo. General Manager Publishing Grasino R. Suhartono sampaikan, eksistensi Grasindo sudah inovatif sejak pertamakali berdiri. Berkhidmat pada penerbitan buku-buku sekolah, Grasindo melengkapi kebutuhan materi ajar. 

Anak-anak 90an pasti pernah punya buku Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Salahsatu produk unggulan Grasindo yang lengkap satu paket kurikulum.

Seiring waktu, berupaya konsisten di penerbitan buku-buku sekolah, Grasindo harus menghadapi dinamika peraturan kurikulum sekolah yang kerap berubah. 

Grasindo kembali berinovasi dengan menerbitkan buku-buku fiksi dan non fiksi, selain buku pegangan siswa. Hasilnya, buku laris terjemahan karya Mark Manson “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” (The Subtle Art of Not Giving a F*ck) sukses nangkring di rak buku anak-anak milenial. 

Buku-buku tryout keluaran Grasindo juga sudah luas beredar dari Sumatera hingga Papua. Tak heran, buah dari inovasi ini mengantarkan Grasindo menempati posisi 5 besar supplier di toko buku. 

Menyambut tren destruksi kreatif, Grasindo baru saja melepas inovasi teranyar bernama leson.id yang menggandeng perusahaan rintisan yang bergerak di bidang tutorial belajar asal Hongkong; Snap Ask. 

“Leson jadi andalan Grasindo di masa depan. kolaborasi adalah rumusan kami ke depan,” sebut Suhartono.

leson.id merupakan layanan sistem manajemen belajar yang sudah mendapat kepercayan dari 32 pemerintah provinsi  dan lebih dari 326 kota dan kabupaten di Indonesia. 

leson.id juga menyediakan video berlangganan untuk pelajar, bursa kerja bagi guru les privat, layanan bimbingan belajar sesuai permintaan (on-demand), tryout, ujian online dan masih banyak lagi.   

Comments