Featured Post

Hanya Satu Cara Lestarikan Bahasa Daerah: Wariskan!

Image
Bagi rekan pembaca yang pemerhati bahasa Indonesia, mungkin familiar dengan slogan Badan Bahasa Republik Indonesia: “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Mentok Tak Ketemu Ide? Ini Tips Jitu Tangkap Ide


bedah buku di perpustakaan nasional

Sedang kerjakan project, namun masih belum punya ide untuk mulai. Brainstorming, curah pendapat, rapat, semua sudah dilakukan. Tapi kok ya gagasan belum kunjung mantap. 

Ketika Buang Hajat

Padahal tenggat makin dekat. Bayangan klien tetiba minggat mulai menghantui. Resah dan gelisah. Duh, aku kudu piye? Tenang. Penulis buku laris Milennials Kill Everything, Yuswohady, beberkan tips sederhana untuk kita mampu menggali gagasan dengan cara yang mudah diterapkan siapa saja. 

Pengalaman bekerja di Mark Plus selama bertahun-tahun membekali Yuswohady dengan beragam proses kreatif yang unik di kala mengerjakan project bersama konsultan beken sekelas Hermawan Kartajaya.     

Salahsatunya, Hermawan Kartajaya seperti dikisahkan Yuswohady, butuh sparring partner dalam obrolan ringan memantik inspirasi. Jadi, percakapan tidak harus bermutu atau membahas tema penting. Obrolan tak jarang berlangsung ngalor-ngidul bin ngawur. Namun justru interaksi demikian mampu mendatangkan inspirasi. Sekali lagi, ide ternyata bisa datang di kala kita sedang rileks di tengah obrolan santai.

“Waktu bikin buku dengan Pak Hermawan, kadang kita tidak ada kontribusi. Yang mikir tetap dia. Tapi dia butuh sparing partner. Walau kita ngomong tidak keruan, tetiba bisa men-triggered; oh begini. Jadi, kadang kita mikir butuh feeding,” kenang Yuswohady dalam Up Close & Personal Talk: How to Write a Best Seller Book “The #MillennialsKILLeverything Case Study”, Perpustakaan Nasional, Sabtu 30  November 2019.         

Maka, menangkap ide memang bukan perkara mudah, lanjut Yushohady. Bahwa kita harus melalui proses pergulatan pemikiran itu memang betul. Tapi seringkali gagasan muncul tidak pada waktu tersebut. Kadang bisa datang esok hari atau beberapa minggu kemudian. 

Sudah lama kita mendengar anggapan, katanya ide kadang datang ketika kita sedang, maaf, buang air kecil atau buang air besar. Jadi, di saat terjadi proses sesuatu yang keluar berbarengan dengan proses sesuatu yang masuk. 

Makanya, banyak yang menganggap ide seringkali muncul justru ketika kita tidak sedang memikirkannya, salahsatunya ketika kita sedang buang hajat. Begitu intens otak diperas dalam berbagai latihan intelektual (intellectual exercise), tapi justru yang dicari-cari itu berkunjung ketika kita sedang rileks. 

Jadi itu tipsnya? Ciptakan obrolan ringan di sela mengerjakan project dari klien. Oh, bukan. Itu baru pembukaan. Ada tips yang lebih menarik. Justru metode ini ditemukan tidak sengaja oleh Yuswohady ketika dia mendapati kolesterolnya naik. Lho, kok bisa. Begini ceritanya.

“Tiga  tahun lalu, kolesterol saya 370. Tapi dokter bilang ini normal, walau paling tinggi 200. Aku memutuskan mulai hari itu aku jogging. Biasanya di taman joging depan La Piazza Kelapa Gading. Biasa lari 2 kali putaran dan 10 kali jalan,” beber penulis Marketing to the Middle Class Moslem.  

Hingga suatu hari Yuswohady membaca satu artikel yang menyebutkan bahwa berjalan kaki bisa merangsang kemunculan ide kreatif. Lebih sumringah lagi mendapati ternyata jalan kaki diterapkan tokoh terkenal mulai dari Beethoven hingga Steve Jobs.  

Melansir Stanford News (24 April 2014) "Stanford study finds walking improves creativity", Universitas Stanford menemukan, orang yang berjalan kaki lebih kreatif dibanding orang yang duduk diam ketika diminta melakukan aktivitas tertentu. Penelitian yang melibatkan 176 mahasiswa dan masyarakat umum itu mendapati, berjalan kaki meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk otak,  dan meningkatkan pemikiran kreatif.

Focus Mode & Difuse Mode   

Yuswohady mengutip,  A person creative output increased by 60% when they were walking. Artikel yang menyisipkan laporan lengkap riset itu mengungkapkan, kerja otak ada dua macam yakni focus mode, dan difuse mode. Focus mode adalah concentrated thought, yang terjadi ketika kita kondisikan suasana formal seperti meeting, dan brainstorming. Tapi ketika sedang berjalan kaki, otak manusia berada di difuse mode, kondisi yang lebih rileks hingga membentangkan big picture thought.

Steve Jobs selalu berkata proses kreatif adalah upaya connecting the dots. Boleh jadi, berjalan kaki adalah wahana kondusif mendukung proses menghubungkan satu titik gagas ke titik gagas lain hingga menemukan jawaban. Sambil santai menikmati suasana dan melihat pemandangan sekeliling, ide bisa datang kapan saja. Yuswohady  menyarankan agar kita segera mengikat momen eureka! itu dengan mencatatnya.

“Waktu ketemu, jelas idenya. Tapi, dua jam kemudian, ide itu hilang sama sekali. Makanya saya mesti catat esensinya agar tidak lupa,” tuturnya.

Eureka adalah kondisi yang mencerahkan dan membahagiakan, karena kita menemukan sesuatu yang baru. Namanya; ektase, ketika kita menemukan ide baru. Einstein menemukan teori E = MC2 bukan di laboratorium. Ia menemukan teori monumental tersebut justru setelah bertahun-tahun berpikir hingga nyaris mengabaikannya. Akhirnya, ia memutuskan tidak berpikir selama  2 minggu. Waktu yang dimanfaatkanya untuk berjalan laki dan bermain biola. Saat di mana ia menemukan teori masyur tersebut. Iya, otak Einstein sedang berada di difuse mode selama 14 hari lamanya. 

Jadi bagi sebagian besar pelaku di dunia kreatif, berjalan kaki menjadi momen kemewahan tersendiri, luxury time, yang memantik intuisi mendukung proses krreatif mereka. Tapi, untuk saat ini, di mana pandemi corona virus desease atau covid-19 sedang menerjang, mungkin kita perlu lebih telaten dan tepat mencari spot atau area berjalan kaki yang aman dan nyaman. Aktivitas berjalan kaki juga bisa dipadu dengan waktu baik kita berjemur di bawah sinar matahari langsung. Tapi ingat, tetap jaga jarak aman atau physical distancing untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.   

Diskusi interaktif ini juga mengupas proses penciptaan buku dengan studi kasus Millennials Kill Everything. Buku yang mendalami pola pikir kaum milenial yang patut menjadi perhatian para pelaku bisnis. Acara kerjasama Perpusnas RI dan Inventure ini memaparkan serba-serbi resep penulisan buku laris, mulai dari pencarian ide, pengambilan angle, perumusan konsep, penulisan, peluncuran buku, hingga strategi promosi.    

Popular posts from this blog

Kembalinya Satu Paket Kocak di Film Preman Pensiun

Rice Cooker Hilangkan Puluhan Kosa Kata Sunda