Genetically Modified Organism (GMO) dan Genome Editing, Apa Bedanya?

 

Acara Webinar berjudul Teknologi CRISPR dan GMO  untuk Mengatasi Krisis Pangan
[sumber: unsplash]

Perdebatan panjang mengenai penerapan Genetically Modified Organism (GMO) dalam meningkatkan produksi pangan mungkin bisa berakhir dengan kehadiran Genome Editing.

  

Ilustrasi Batu Bata 

Pengaplikasian Genome Editing dianggap lebih cepat, baik, dan sederhana. Ketua Komite Keamanan Hayati-Produk Rekayasa Genetik Bambang Prasetya mengilustasikan perbedaan antara GMO dengan Genome Editing lewat penyusunan batu bata.    

Peneliti Ahli Utama-Pusribang SDM-BSN ini menggambarkan  perbedaan antara GE dan GMO lewat perbandingan yang sederhana. Dia mengambil contoh salahsatu efek Genome Editing yakni memotong dengan presisi.   

Misal, kita berada dalam bunker batu bata sebagai sebuah kotak pandora yang  gelap. Kemudian, kita ingin mendapatkan cahaya dengan melubangi dindingnya. Bagaimana caranya? Setidaknya, kita memilki tiga cara. 

“Cara pertama dengan mencopot satu-dua bata. Cara kedua, saya ganti bata yang lebih cantik. Bahan sama dengan model berbeda. Atau cara ketiga, (beberapa bata-red) saya ganti dengan glass box,” bebernya dalam Webinar ICMI TALK “Teknologi Clusteres Regularly InterspacedShort Palindromic Repeats (CRISPR) dan GMO (Genetically Modified Organism)untuk Mengatasi Krisis Pangan, Selasa, 30 Agustus 2022.  

Cara kedua dilakukan dengan teknologi GMO. Pun cara yang ketiga dengan menggunakan gen atau spesies dari luar. Cara ketiga memiliki fungsi tidak hanya untuk memperoleh sinar matahari, tapi juga untuk menahan angin. Cara pertama yakni lewat penerapan genome editing dinilai lebih simpel, dan murah.   

Untuk sekadar memotong dan membuat lubang, bisa saja lewat bombardir tembakan. Tapi, imbuh Bambang, dalam teknologi CRISPR, pemotongan menggunting dengan an sich dituntun suatu RNA yang bisa disetel. Meneluri aspek historisnya, teknik ini meniru proses alam, sebut Bambang. Kita mencermati sedemikian rupa proses bakteri terinfeksi virus. Ternyata ada mekanisme pertahanan dari bakteri terhadap virus. Inilah yang menginspirasi penerapan bioteknologi 

teknologi GMO untuk meningkatkan produksi pangan

 

Harus Didukung Regulasi 

Selanjutnya, untuk penerapan genome editing pada tanaman harus didukung regulasi yang juga simpel. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama.Bambang menjelaskan, sebagai regulator, sebagai pemberi rekomendasi teknis kepada kementerian, minimal kementerian pertanian, Kementerian LHK dan Kementerian KKP, pihaknya mengambil, sikap terkait regulasi genome editing. 

Setelah melakukan berbagai diskusi dan Focus Group Discussion (FGD) / Diskusi Grup Terpumpun mengundang berbagai ahli, berkesimpulan, kalau dalam produk akhir tidak mengandung gen asing, maka dikecualikan dari regulasi GE. Dikecualikan seperti apa? Saat ini, poin penting tersebut sedang disusun menjadi guideline untuk protokol kegiatan genome editing. 

Sementara itu, Bambang sarankan, rekan-rekan yang berkecimpung di CRISPR bisa bermitra dengan negara-negara ketiga (Pakistan, Bangladesh, India, dsb) yang memiliki penelitian lebih maju. Dirinya sangat yakin dengan kapasitas SDM perguruan tinggi di Indonesia yang memilki banyak sekali penelitian GMO. Apalagi kini ditambah teknologi genome editing yang lebih simpel membuat perkembangan penerapan teknologinya lebih pesat.    

Seyogyanya penerapan bioteknologi harus memenuhi tiga syarat utama:

1. Bioethics (Bioetika). Menjamin kelancaran adopsi berdasarkan pertimbangan etika moral

2. Biosafety (keamanan hayati). Produk Rekayasa Genetik (PRG). Mejamin keamanan masyarakat sekaligus memberikan kepastian riset dan inovasi

3. Comformity Assesment (Penilaian Kesesuaian) a.I standar, akreditasi, kalibrasi. Menjamin ketelusuran-saling pengakuan hasil analisis laboratorium dan green house   

Webinar Nasional ICMI dibuka Ketua Umum ICMI Arif Satria. Webinar juga menghadirkan narasumber antara ain Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia Fadel Muhammad, Kepala Pusat Hortikultura dan Perkebunan (PRHTP) BRIN Dwinita Wikan Utami, Head-Rice Genetic Design and Validation Unit IRRI Philipines Inez Slamet-Loedin, dan Head of Seed Business Syngenta Indonesia Fauzi Tubat serta Moderator Wakil Sekretaris Jenderal ICMI Maxdeyul Sola.