TikTok
menjadi platform yang menjanjikan bagi UMKM memasarkan produk. Apalagi kini
terbuka peluang pengguna medsos menjadi affiliator.
Pelatihan Pemasaran berbasis AI
Ketua Umum Alisa Khadijah ICMI Ina Marlina menginisasi pelatihan konten TikTok bagi anggota dan terbuka untuk umum. Hal ini didasari, salah satunya, oleh kebiasaan berbelanja Ketum Alisa yang bergeser dari luring ke daring.
“Saya ini sering belanja di TikTok, tapi belanja saya tetap produk UMKM. Apa keuntungan bagi pedagang dan pembeli? Bagi saya yang tidak punya banyak waktu untuk jalan-jalan ke pasar dan mal, tidak mesti mengeluarkan bensin,” sebut Ina dalam pembukaan Pelatihan Digital Marketing “Strategi Konten TikTok dengan Bantuan AI untuk Marrketing UMKM”, Sabtu 10 Januari 2026, ICMI Center, Jakarta.
Pelatihan digital marketing ini menghadirkan dua narasumber yang masing-masing membagikan pengalamannya. Konten kreator dan Afiliator Arsuman (Kang Obenk) melatih para peserta membuat konten dan menjadi afiliator di TikTok.
Digital Product Tech Solution PT Telkom Muhammad Rovianto membeberkan kegunaan berbagai aplikasi dan peranti artificial intelligence. Sejumlah tools berbasis kecerdasan buatan ini dapat kita optimalkan untuk memoles konten, serta merencanakan dan meluncurkan strategi pemasaran produk secara kekinian.
Affiliate marketing merupakan model pemasaran berbasis kinerja di mana seseorang atau pihak (afiliasi) mempromosikan produk atau layanan milik perusahaan melalui tautan atau kode khusus, lalu memperoleh komisi tiap kali terjadi tindakan tertentu (penjualan, pendaftaran, atau klik) yang dihasilkan dari upaya promosi tersebut.
Sistem ini melibatkan tiga pihak utama: pemilik produk (merchant), afiliasi sebagai pemasar, dan konsumen, dengan keunggulan utama berupa efisiensi biaya bagi perusahaan karena komisi hanya dibayarkan atas hasil nyata, serta peluang bagi afiliasi untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus memiliki produk sendiri.
Peluang cuan dari affiliate marketing cukup besar, lantaran penghasilan ditentukan oleh kombinasi komisi, volume trafik, dan tingkat konversi. Contoh: jika sebuah produk seharga Rp500.000 menawarkan komisi 10%, maka afiliasi memperoleh Rp50.000 per penjualan; dengan trafik 10.000 pengunjung per bulan dan tingkat konversi 2% (200 pembeli), potensi pendapatan mencapai Rp10.000.000 per bulan.
Angka ini bisa meningkat signifikan jika produk bernilai lebih tinggi, komisi 20–50% (umum pada produk digital), atau konversi naik menjadi 3–5%, sehingga penghasilan bulanan dapat menembus puluhan hingga ratusan juta rupiah bagi afiliasi yang konsisten, memiliki audiens relevan, dan strategi konten yang tepat.
Kesehatan Mental Pelaku UMKM
Optimalisasi
platform berjualan seperti TikTok menonjol terutama di masa pandemi. Kondisi pageblug
berimbas pada banyaknya kios, dan gerai UMKM tutup di berbagai pusat
perbelanjaan.
Namun,
UMKM membuktikan sekali lagi, sebut Ketum Ina, aspek resiliensi mereka mampu
bertahan dan beradaptasi melakukan berbagai inovasi. Dari memindahkan toko
fisik ke toko daring hingga menekuni bidang afiliate marketing.
Alisa Khadijah ICMI juga melakukan inovasi dengan memberi kesempatan sejumlah mahasiswa jurusan psikologi untuk magang di asosiasi muslimah pengusaha ini. Ina Marlina mengungkapkan, kesehatan mental menjadi isu penting pasca pandemi untuk para muslimah pengusaha lebih tangguh dalam kegiata ekonomi.
Pelatihan digital marketing dirangkai Seminar “Membangun Mental Tangguh dan Memanfaatkan Media Sosial untuk Mengembangkan UMKM”. Seminar kesehatan mental menghadirkan narasumber mahasiswa profesi psikologi dari Universitas UPI YAI, antara lain Mukti Permana, Nabilah, Riefkia, Ayeshia, dan Alfian.

Posting Komentar untuk "UMKM Marak Jualan di TikTok, Alisa Khadijah ICMI Latih Affiliate Marketing"