Gaji menjadi pertimbangan utama para diaspora ketika diajak kembali dan bekerja di tanah air.
Diaspora Bekerja di Tanah Air
Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Aris Marsudiyanto menuturkan upayanya mengajak para anak bangsa kembali dari rantau memberikan sumbangsih untuk Indonesia.
“Diaspora kita bagaimana untuk kita tarik. Permasalahannya, kerja di luar negeri, gajinya lebih gede daripada di dalam negeri,” ungkap Aris dalam Diskusi Kebangsaan Bappisus dan MRPTNI-CRISU (Chapter 1), Rabu 22 Juli 2026, BRIlian Club, Jakarta.
Untuk itu, imbuh Aris, Bappisus sedang berupaya mencari formula agar para diaspora tertarik dan antusias bekerja di tanah air.
Namun, Aris mengatakan, bekerja di Indonesia memiliki kelebihan yang tidak bisa dilakukan diaspora ketika bekerja di luar negeri, yakni mengambil peluang dari sumber penghasilan lain.
“Kalau Anda kerja di luar negeri, gaji 10 juta. Kalau kerja di Indonesia, gaji mungkin 4,5 juta. Tapi kalau kerja di Indonesia, walaupun pendapatan UMR, Anda bisa kerja apapun. Apalagi sekarang zaman online,” jelasnya.
Aris mengatakan, luar negeri memiliki peraturan ketat mengenai profesi, dan pekerjaan hingga tidak memungkinkan kita memiliki usaha sampingan.
Kemudian, Kepala Bappisus menekankan peran Bappisus
sebagai jembatan yamg mempertemukan MRPTNI-CRISU dengan kementerian dan lembaga
terkait.
“Bappisus mengakomodir, dan mewadahi MRPTNI-CRISU untuk kami follow-up. Secara kongkret, kami jembatani bertemu kementerian atau lembaga terkait. Sehingga timbul formula sistem yang bisa diimplementasikan dalam program Pemerintah supaya terukur, akurat dan valid,” jelasnya.
Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia - Council of Rectors of Indonesian State Universities (MRPTNI-CRISU) merupakan forum resmi para pimpinan atau rektor perguruan tinggi negeri.
Lima sorotan utama yang menjadi fokus pembahasan pada Chapter 1 antara lain:
- Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis melalui kolaborasi pendidikan spesialis oleh Kemendiktisaintek dan Kemenkes.
- Ketahanan Pangan dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mencakup aspek gizi, rantai pasok, dan pemberdayaan daerah.
- Tata kelola Perguruan Tinggi Negeri sebagai penerima manfaat dari pengelolaan sumber daya alam (tambang dan perkebunan) dengan skema Izin Usaha Pertambangan Khusus.
- Kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi yang lebih berkeadilan bagi mahasiswa program Sarjana.
- Pengembangan dan pelaksanaan riset Rute Peradaban Nusantara di bidang politik, hukum, ekonomi, dan sosial-budaya, sebagai bagian dari strategi pembangunan karakter bangsa khususnya bagi generasi muda.
.jpg)