Skip to main content

Featured Post

Yang Pemimpin Harus Prioritaskan

Padahal semua pekerjaan pagi sudah beres. Rampung bersih-bersih. Minuman sedia di tiap meja. Tapi pramukantor kami masih wara-wiri tak menentu. Sampai sempat kami bertabrakan di pintu masuk. Tampak gelisah menggelayut wajah. Tak sulit menebak ada yang mengganggu pikiran Sugiono.

Bahasa Indonesia Bukan Bahasa Persatuan, Kalau Tidak Ada Tokoh Ini

badan bahasa kemendikbud ri

Sebagai narablog yang turut mendukung perkembangan literasi, saya merasa bersalah karena baru mengetahui profil orang ini. Namun tak apa, ternyata sebagian besar pakar dan praktisi kompeten di bidang bahasa juga mengaku baru-baru saja menelusuri sepak terjangnya.

Muhammad Yamin

Siapa yang tidak kenal Muhammad Yamin? Sosok yang versatile; sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum. Salah satu perintis puisi modern Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda ini pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman Indonesia (1951), Menteri Pendidikan dan kebudayaan Indonesia (1953-1955), dan Menteri Penerangan Indonesia (1962) di era kepemimpinan Sukarno. 

Muhammad Yamin dikenal sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Penggagas ilustrasi wajah Gajah Mada ini merupakan tokoh sentral dalam Kongres Pemuda II yang menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Butir-butir keputusan kongres ini menjadi salahsatu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia:

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.    

Rumusan itu ditulis dalam secarik kertas yang disodorkan Yamin kepada Pemimpin Kongres Sugondo Djojopuspito ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Ikrar Sumpah Pemuda dibacakan Soegondo dan dijelaskan Yamin. Sampai di sini masih biasa saja, karena informasi ini dipelajari di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah umum . Hingga hari ini...


badan pengembangan bahasa dan perbukuan

Seminar Badan Bahasa

Saya berkesempatan mengikuti kegiatan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI Seminar dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik: Perkuat Pengawasan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 6 Agustus 2019. 

Salahsatu seminar paralel yang menarik adalah sesi yang mengangkat profil penggagas Bahasa Indonesia. Ternyata ada semacam prekuel sebelum kita sampai pada momentum Sumpah Pemuda. Deklarasi itu tidak serta merta tersusun dan disepakati bersama dalam Kongres Pemuda II. Ada debat hebat pada Kongres Pemuda I yang menentukan isi butir ketiga yang final menyangkut bahasa persatuan. 

Menurut salahsatu pembicara, Thahir Djawahir Asmadi yang membawa makalah berjudul "Penggagas Bahasa 'Ajaib' ", istilah Sumpah Pemuda belum ada hingga Sutan Takdir Alisjahbana mempopulerkan pada 1931. Sumpah Pemuda awalnya hanya disebut sebagai "Hasil Kongres Pemuda II". Mari simak penuturan lebih lanjut.

Pada 2 Mei 1926, terjadi diskusi alot menjelang putusan hasil Kongres Pemuda Pertama antara anggota empat tim penyusun rekomendasi. Muhammad Yamin berdebat sengit dengan anggota tim yang juga ketua Kongres, Muhammad Tabrani. 

Cikal bakal naskah Sumpah Pemuda sebenarnya sudah ada dalam Kongres Pemuda I. Hanya saja terdapat satu butir yang menjadi sumber perdebatan antara pemuda Minang dan pemuda Madura ini.

Yamin bersikukuh mempertahankan “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Melajoe”. Sementara Tabrani menolak dan ngotot mengganti “bahasa Melajoe” menjadi “bahasa Indonesia”. Tabrani nyaris kalah suara kalau saja Sanusi Pane tidak datang dan mendukungnya, karena anggota lainnya, Djamaluddin Adinegoro menyokong pendapat Yamin.

Perdebatan kelihatan sederhana. Hanya mengganti kata. Dalam dua butir sebelumnya sudah menegaskan kata “Indonesia”. Memang baiknya, merujuk estetika, sekalian saja konsisten pakai kata “Indonesia” menjiwai ketiga butir tersebut. Jadi tidak ada satu kosa kata yang berbeda.

kementerian pendidikan dan kebudayaan republik indonesia

Bahasa Melayu

Namun sejatinya tidak sesimpel itu. Yamin sampai menyebut Tabrani sedang melamun saat melontarkan ide "Bahasa Indonesia" sebagai bahasa persatuan. Pasalnya, konsep Bahasa Indonesia itu tidak ada. Atau setidaknya, belum ada. Bahasa yang populer digunakan saat itu selain bahasa Belanda ya bahasa Melayu. 

Gagasan tokoh jurnalistik generasi awal ini jadi terdengar asing, absurd, dan berbeda sendiri menyembul di kerumunan umum. 

Tapi, hey, bukankah salahsatu ciri khas seorang pendobrak memang demikian? Dianggap ganjil di awal tapi dielu-elukan karena kini aktual. Lihatlah sekarang. Saya dan ratusan peserta sampai menyempatkan waktu dan mencurahkan pikiran bersama membahas sosok M. Tabrani.

Kita bersama mengupas tokoh yang pernah bikin geger kolonial Belanda lewat "Insiden Loji" (1923). Tabrani nyaris mendekam di hotel prodeo gegara tidak ikut bernyanyi lagu Wilhilmus dalam perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina di sekolah yang dipimpinnya di Pamekasan. Alih-alih, bersama temannya, Tabrani malah suka-cita mengibarkan bendera merah-putih.

Indonesia terdiri dari berbagai suku dan bahasa daerah. Jika ada kata yang identik hanya mewakili satu unsur saja dalam ikrar monumental tersebut, tentu tidak kondusif di tengah upaya persatuan bangsa. Lagipula, "Bahasa Indonesia" lebih terdengar integral ketimbang "Bahasa Melayu". Suatu pesan yang kokoh menopang gelora cita-cita kemerdekaan saat itu. 

Mungkin alasan itu juga yang membuat Tabrani mempertahankan gagasannya, hingga penentuan suara berimbang. Ikrar Sumpah Pemuda tidak jadi masuk dalam hasil Kongres Pemuda Pertama. 

Selanjutnya, Muhammad Yamin-lah yang membawa konsep yang disempurnakan itu dalam Kongres Pemuda Kedua. Ke mana Tabrani? Saat itu dia sedang menimba ilmu jurnalistik di Universität zu Köln. Sebagian beranggapan ini cara devide et impera Belanda memisahkan duet maut Yamin-Tabrani.   

Hadir pembicara lainnya; Slamet Samsoerizal membawakan makalah "Mohammad Tabrani Soerjowitjitro: Sang Penggagas Bahasa Indonesia", Asri Wijayanti dengan makalah "Pemikiran-Pemikiran M. Tabrani, Penggagas Bahasa Indonesia, yang Perlu Diketahui Para Generasi Muda", dan Yebqi Farhan memaparkan makalah "Sang Pemancar, Kiprah Moh. Tabrani dalam Pergerakan dan Jurnalistik Tahun 1923-1939".  

Dalam pembukaan Seminar dan Lokakarya tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy berkesempatan memberikan penghargaan bagi M. Tabrani sebagai tokoh penggagas bahasa persatuan Indonesia. 

Disaksikan Kepala Badan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar dan Dirut TMII, Tanribali Lamo,  Mendikbud memberikan penghargaan kepada Mohammad Tabrani Pengharhaan diberikan kepada perwakilan keluarga M. Tabrani, Dr. Ami Primarni Tabrani.


Comments