OYPMK Berdaya Tepis Stigma dan Buktikan Kinerja

 

nlr indonesia kusta oypmk


Sebuah konten dari akun Instagram NLR Indonesia itu sungguh mengesankan. Video berdurasi 56 detik bertajuk “Tutorial Perawatan Diri untuk Orang Kusta”. Selain sangat bermanfat, panduan praktis itu efektif mematahkan stigma kusta lewat medium strategis yang menjangkau banyak orang.


Program Kemenko PMK 

Tampak seorang petugas kesehatan telaten merawat dan membimbing seorang pasien muda kusta. Tanpa sekat dan penghalang, kegiatan pendampingan itu begitu organik hingga tak sadar menyunggingkan senyum semringah di wajah saya. Seperti inilah Indonesia yang saya kenal. Pribadi yang saling menopang dan mendukung hingga berdaya. Seketika membumbung optimistis saya akan peran Pemerintah dalam upaya peningkatan taraf hidup Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) berjalan dengan baik. 

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI Drg. Agus Suprapto, M.Kes., mengatakan, sebagai koordinator beberapa kementerian, kolaborasi Kemenko PMK tidak terbatas aspek klinis saja. Karena obat kusta tersedia gratis bagi masyarakat yang berkemauan mengikuti prosedur pengobatan hingga tuntas. Kendati demikian, tantangan yang sedang dihadapi Pemerintah salah satunya, meneliti temuan di Papua, di mana faktor genetika menyebabkan kondisi reaktif  pasien terhadap obat kusta.    

“Dampaknya berat juga di derah saudara-saudara kita di Papua. Karena ras tertentu menyebabkan alergi obat. Ini masalah terbesar kita, dan sedang terjadi penelitian di dunia,” ungkap Dokter Agus dalam Ruang Publik KBR “Peran Pemerintah Dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK”, Rabu 27 Juli 2022, Kanal Youtube KBR, Jakarta.            

Kunci dari penyembuhan kusta adalah faktor kebersihan, sebut Dokter Agus. Untuk itu, Kemenko PMK menggarap dari dimensi lain, yaitu melakukan program perbaikan kota menyasar daerah-daerah kumuh, yang kurang sinar matahari, dan bersanitasi rendah. Yang juga menyisakan pekerjaan rumah bersama adalah pasien-pasien kusta yang belum bisa kembali karena beberapa hal, termasuk belum bisa diterima keluarga. 


OYPMK Berdaya 

Kemudian, yang juga menjadi fokus kinerja lintas sektoral ini adalah bagaimana memberdayakan orang yang sudah sembuh dari kusta. Kemenko PMK berkolaborasi dan bersinergi bersama Kemensos, Kemenag, Kemendikbud, Kemen PPA, Kemendes, Kemenaker, dan Kemenkes. 

“Yang sudah sembuh ini harus ditangani; dengan Kemenaker, kehidupan sehari-harinya bagaimana, follow up dengan keluarga yang sudah kontak berat, dsb. Itu yang menjadi tanggung jawab kita,” tandas dokter Agus 

Dokter Agus mengakui, masih banyak kekhawatiran masyarakat terhadap OYPMK. Padahal OYPMK terbukti sehat dan kembali normal. OYPMK memiliki hak yang setara dalam memperoleh pekerjaan layak. Untuk itu, Dokter Agus mengajak, kita perlu senantiasa menguatkan literasi terkait kusta di tengah masyarakat. 

Dokter Agus pun menyambut gembira kepada narasumber berikutnya, Mahdis Mustafa, profil seorang OYPMK berdaya yang mendapat dukungan dari NLR Indonesia kini sukses berkarir di sebuah perusahaan di Makassar. Mahdis menuturkan pengalaman bekerja secara orsorsing di empat perusahaan berbeda hingga sekarang menjadi Supervisor Cleaning Service di PT Azaretha Hana Megatrading. Mahdis membuktikan, bahwa di balik keterbatasan, sepanjang diberi kesempatan, dia mampu menepis stigma dan keraguan. 

“Di balik keterbatasan, sepanjang kami diberi ruang, waktu, dan kesempatan, insya Allah anggapan itu bisa ditepis OYPMK sepanjang dia mau berusaha mencari, dan mau belajar,” ujarnya.       

Tantangan terbesar OYPMK untuk berdaya, menurut Mahdis, adalah pendidikan. Masa pengobatan pasien kusta yang cukup lama, yakni  6 bulan hingga satu tahun menyebabkan mereka terhambat meraih kesempatan menempuh pendidikan.  Maka, penting bagi OYPMK mengejar ketertinggalan dengan berinisiatif mengikuti program-program pemberdayaan hingga meningkatkan taraf hidupnya.