Pentingnya Curhat Sebagai Healing OYPMK

 

talkshow Orang Yang pernah Mengalami Kusta (OYPMK)

Rekan pembaca, healing menjadi kosakata yang akrab bagi orang yang mengalami luka batin. Healing identik dengan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Padahal healing bisa dilakukan secara mudah. Misal, dengan mencurahkan isi hati.

 

Profil OYPMK Berdaya 

Kendati demikian, proses healing lewat curhat sungguh berat, terutama bagi Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Sikap OYPMK cenderung tertutup dan menyembunyikan diri meski sudah dinyatakan sembuh. Takut membuka diri dan bercerita hanya akan membuat OYPMK makin tertekan dan merasakan stigma.   

OYPMK dan Wakil Ketua Konsorsium Pelita Indonesia Ardiansyah menyampaikan, penting bagi OYPMK mencurahkan isi hati sebagai terapi. 

“Saya kira itulah terapi yang diberikan kepada OYPMK. Bagaimana dia punya teman yang mau mendengarkan. Dia merasa ringan; ternyata ada yang mau mendengarkan, men-support saya. Sehingga dia tidak merasa sendiri,” ungkapnya dalam Talkshow Ruang Publik KBR “Chilling-Healing bagi OYPMK, Perlukah?”, Rabu, 14 Desember 2022, Live Youtube KBR bersama Host Rizal Wijaya. 

Ardiansyah menuturkan bagaimana ia mengalami perlakuan tidak mengenakkan yang datang justru dari orang tua. Namun tantangan tersebut menjadi tekad dia untuk bangkit dan berkarya. Ardiansyah aktif berkecimpung di gerakan untuk kebutuhan OYPMK dan disabilitas. Percaya dirinya kian kuat seiring bertemu dan berkolaborasi dengan orang-orang baru, terutama dengan yang memiliki kondisi sama seperti dirinya. 

“Saya mencari jalan bagaimana bisa bangkit. Saya bertemu teman-teman di organisasi Permata, dan bermitra dengan NLR yang banyak memberi penguatan kapasitas kepada saya,” bebernya. 

Walhasil, sejak 2018, Ardiansyah fokus berkegiatan di Konsorsium Pelita Indonesia. Sebelum aktif secara penuh di organisasi kusta dan disabilitas, Ardiansyah pernah bekerja di konsultan perencanaan selama satu tahun. Di sana dia belajar untuk kembali bersosialisasi di dunia kerja serta mengasah dan mengembalikan rasa percaya diri.      

“Jika bukan saya sendiri yang mengubah diri, maka saya tidak bisa berubah. Walau  ada tekanan dari keluarga, saya harus tetap melangkah ke depan. Bahkan, saya pelan-pelan memberi nasihat untuk tidak memperlakukan saya seperti itu,” sebutnya.    

 

Kembalikan Percaya Diri 

Talkshow Ruang Publik KBR juga menghadirkan Executive Director Institute of Women Empowerment (IWE) Donna Swita. Donna  mengatakan, IWE mengenalkan konsep healing yang tidak harus identik berwisata dan berbayar. Ada banyak metode healing yang mudah ditemukan di internet. Misal, meditasi, journaling, dan healing dance. Namun, sebelum memilih metode healing, Donna ingatkan kita untuk membangun nilai-nilai tertentu di awal proses. Nilai-nilai tersebut antara lain mengenali diri sendiri, tidak diskriminatif, tidak menghakimi, melepaskan (let go), dan yang paling pertama: mengembalikan rasa percaya diri. 

“Teman-teman OYPMK banyak yang  kepercayaan dirinya hancur. Maka yang pertamakali dilakukan Mas Ardiansyah adalah mengembalikan kepercayaan diri,” imbuhnya. 

Jadi, kepercayaan diri harus dibangun lebih dulu sebelum menentukan rencana dan melangkah. Tiap OYPMK dan disabilitas memiliki latar belakang dan pengalaman pribadi yang berbeda satu sama lain. Maka, keberadaan KBR, NLR, Konsorsium Pelita Indonesia, dan IWE penting sebagai support system bagi OYPMK dan penyandang disabilitas untuk bangkit dan berkarya.   

Donna menuturkan, IWE memiliki kegiatan-kegiatan yang melibatkan kelompok-kelompok teemasuk OYPMK dan DIsabilitas. Dari situ mereka bisa saling mengenal dan berbagi informasi terkait kemungkinan kolaborasi. Saat ini, IWE belum memiliki program khusus yang menangani OYPMK dan Disabilitas. Namun, setelah diskusi yang intens ini, Donna mengatakan, IWE akan berkoordinasi dengan Ardiansyah guna menjajaki kemungkinan program strategis bersama ke depan.