Ikhtiar IKRA Dalam Konservasi Air Bersih di Sumedang

Webinar Nasional ICMI Sehat dan Beriman Minus Air Bersih

Berawal dari kegiatan mengumpulkan dana mandiri yang disalurkan untuk infak, wakaf, dan zakat, sekumpulan dokter merambah ke pengembangkan konservasi air sebagai ikhtiar mengubah lahan kekeringan menjadi subur.     


Inspirasi Surat Saba 

Adalah gabungan 667 dokter muslim Alumni Fakultas Kedokteran  Universitas Padjadjaran yang tergerak mendirikan Yayasan Wakaf IKRA (Infak Kecil dan Regular) Padjadjaran pada 1 Oktober 2016. Saat ini, per November 2022, IKRA beranggotakan 667 dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

IKRA tergerak mengembangkan kegiatan konservasi air setelah mengalami kemarau  kemudian mentadaburi  kandungan Surat Saba yang masyur dengan istilah baldatun thayibun wa rabbun ghafur yang berarti negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun. Para mufasir menafsirkannya sebagai sebuah kondisi di mana suatu negeri mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. Gemah ripah loh jinawi. Tata Tentrem Kerta Raharja, kalau menurut filsafah Jawa. 

Namun surat Saba juga memberi peringatan, di mana negeri peradaban tinggi hancur, akibat mismanajemen air dengan jebolnya Bendungan Marib. Kita bisa memetik ibrah atau pelajaran bahwa dasar kemajuan bangsa adalah ketersediaan air bersih untuk kebutuhan terutama pertanian dan kesehatan. Air termasuk aspek kehidupan yang paling dasar. Sehingga keterampilan mengelola air menjadi salahsatu indikator majunya suatu bangsa. Pengelolaan air patut menjadi perhatian utama. Apalagi, belum lama ini terjadi gagal tanam dan panen di berbagai daerah kala musim kemarau pada 2019. 

Ketua Yayasan Wakaf (IKRA) Padjadjaran Ahmad Kadarsyah mengakui meski sama sekali tidak punya pengetahuan dan pengalaman di bidang engineering. IKRA gigih belajar dan mencari tahu dari internet.     

“Sama lah, kita tidak ada ilmunya. Tapi kita belajar dari mbah gugel. Misal kita cek seluruh sungai dan mata air. Kemudian kita coba pipanisasi, tarik pipa sampai 1 km,” bebernya dalam Webinar Nasional ICMI “Sehat dan Beriman Minus Air Bersih”, Jumat, 23 Desember 2022. Kadarsyah mempresentasikan “Ikhtiar Mengubah Kekeringan Menjadi Lahan Subur: Lesson Learned Konservasi Air Yayasan Wakaf IKRA Padjadjaran di Kabupaten Sumedang”. 

Upaya konservasi air digulirkan dengan memeriksa sumber air sungai, dan mata air, serta menarik air dengan pipanisasi dan pompa hidran. Kemudian menerapkan zero runoff system (ZROS) yang menampung air hujan dengan membuat sumur resapan, dan balongan. Selain itu juga dilakukan pengeboran sumur bersama masyarakat sekitar sedalam 40 meter tapi gagal.


konservasi air bersih di subang jawa barat

Gramin (Gratis Minum) 

Hingga ada insiyur muda yang menawarkan solusi dengan pemindaian (scanning) ke perut bumi menggunakan VES (Vertical Electric Sounding). Ternyata didapati, sampai kedalaman 70 meter pun tidak ada air. Perlu peralatan dan mesin besar yang lebih canggih untuk menggali lebih dalam. Namun daerah tersebut memang dikenal sebagai daerah kering dengan istilah patahan Subang. Tidak patah semangat, IKRA terus melakukan upaya konservasi. 

Kemudian mikir lagi. Semua kita lakukan, penanaman pohon, cagak air, tarik air, konservasi mata air, apa aja yang sebisanya,” imbuh Kadarsyah.   

Setelah sekitar 2-3 tahun mulai ada perubahan dan dirasakan kecukupan air hingga sekarang berlimpah. Problem kedua setelah berlimpah air, lanjut Kadarsyah, adalah apakah airnya bisa diminum? Karena banyak orang di kampung yang tidak puas dengan kualitas air yang ada. Keluhan mulai air sumur yang berwarna kuning, hingga layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang tidak optimal.  Kondisi tersebut menggerakkan IKRA menggulirkan program penjernihan air micro hydraulic yang dinamakan Gramin (Gratis Minum) bagi masyarakat. Adapun program ekosistem drinking station dalam skala besar sedang dalam persiapan. 

Memiliki misi Beri Makan, Beri Minum, Beri Ilmu, Ikra menjalakan beragam program masyarakat. Berawal dari lahan seluas 6,000 meter, IKRA berhasil menghadirkan 33.000 m2 tanah wakaf di Paseh, Sumedang, Jawa Barat yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif. Kegiatan tersebut di antaranya, Budidaya pertanian, perikanan, dan peternakan. IKRA juga menghasilkan produk pasca panen yakni nila crispy, dan keripik pisang. Selain itu, IKRA juga mengembangkan wisata edukasi dengan program Jelajah Tanaman, Distance learning, Webinar, dan Pelatihan. 

Webinar Nasional ICMI menghadirkan pengantar oleh Ketua Departemen Upaya Kesehatan Masyarakat – Majelis Pengurus Pusat ICMI  Zaenal Abidi, sambutan oleh Wakil Ketua Umum ICMI Riri Fitri Sari, serta Pembuka oleh Ketua Umum ICMI Arif Satria.  Narasumber webinar antara lain Ketua Bidang Kesehatan dan Water Hygiene Sanitation PP PMI/ Koodinator Bidang Kesehatan – Majelis Pengurus Pusat ICMI Fachmi Idris, dan LAPI ITB/ Penemu Teknologi Micro Hydraulic Water Treatment Rusnandi Gasardi.