Risiko Perempuan Terkena Kusta, Meski Lebih Baik Dalam Kebersihan

 

Ketua Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa) Sulawesi Selatan, dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) Yuliati

Menurut Data Kementerian Kesehatan di 2014, laki-laki cenderung lebih sering terkena penyakit infeksi, dalam hal ini kusta, dibanding wanita. Rendahnya kasus kusta pada perempuan terjadi karena faktor lingkungan, biologis, dan gaya hidup. 

 

Kondisi Daya Tahan Tubuh 

Hal ini disampaikan Host Berita KBR Rizal Wijaya saat memandu  Ruang Publik KBR  ”Wanita dan Kusta”, Rabu 30 Agustus 2023, siaran langsung YouTube Berita KBR. Dijelaskan lebih lanjut, kaum Adam lebih berisiko terkena penyakit, salah satunya, karena lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Sehingga kita lebih mudah terkena infeksi. Apalagi kebiasaan sebagian lelaki yang tidak segera mandi dan ganti pakaian ketika usai berkegiatan. 

Menurut Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas (Tahun 2017), faktor risiko yang mempengaruhi kejadian kusta termasuk kondisi kebersihan perseorangan yang buruk, serta faktor lainnya yakni kontak serumah dengan penderita kusta, kontak tetangga, pengetahuan, jenis kelamin, status vaksinasi BCG, dan kondisi sosio-ekonomi. 

Jadi, perilaku sehari-hari dalam memelihara kebersihan juga memegang peranan krusial apakah seseorang terinfeksi kusta. Perempuan identik dengan kebiasan menjaga kebersihan diri yang lebih ekstra dibanding laki-laki. Umumnya, perempuan terbiasa lebih ekstra merawat diri, dan menjaga kesehatan.  Kendati demikian, kaum hawa tetap berisiko terkena kusta hingga perlu juga senantiasa berwaspada.   

Ketua Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa) Sulawesi Selatan, dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) Yuliati mengatakan, meski selalu menjaga kebersihan diri yang lebih baik, namun kondisi  ketahanan tubuh seseorang juga bisa menjadi pemicu utama tertular kusta. Yuliati membagikan pengalamannya.    

”saya juga menjaga kebersihan, tapi tetap saja, mungkin karena pengaruh imun,” imbuhnya ketika menjadi narasumber Ruang Publik KBR ”Wanita dan Kusta”.

Menurut Yulianti, penularan kusta terjadi, pertama karena ada sumber penularan, kedua,  kurangnya daya tahan tubuh, dan ketiga kontak lama dan erat. Yuliati tertular kusta dari salah seorang saudaranya.   

Lebih lanjut Yuliati menuturkan,  berdasarkan penelitian, dari 100 orang yang terpapar hanya 5 yang bisa tertular.  Itu pun hanya 2 orang yang perlu melakukan pengobatan intentif, sedang yang 3 orang lagi bisa sembuh karena daya tahan tubuh yang bagus.

 

Perempuan dan Kusta 

Perempuan dengan kusta memiliki tantangan tersendiri dalam melanjutkan kehidupan. Wabilkhusus terkait ketidakstabilan emosi yang dirasakan wanita ketika terinfeksi kusta. Mengingat kusta sangat menganggu penampilan dan kecantikan yang nota bene sangat penting bagi perempuan. 

Untuk itu Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa), dalam hal ini di wilayah cabang Sulawesi Selatan, hadir memberikan kesadaran di masyarakat terkait fakta dan mitos kusta, memperjuangkan hak dan kewajiban serta meningkatkan kapasitas penyandang kusta dan OYPMK. PerMata juga menjalin kolaborasi bersama NLR Indonesia. 

Sebagai yayasan nirlaba yang berfokus pada penanggulangan kusta, dan konsekuensinya di Indonesia. NLR Indonesia turut mendukung kegiatan PerMaTa Sulawesi Selatan. NLR memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas bagi OYPMK anggota PerMaTa Sulawesi Selatan. 

NLR Indonesia memberikan pelatihan bagi anggota PerMaTa Sulawesi Selatan menjadi tim penyuluh di kabupaten-kabupaten di mana mereka tinggal. Saat ini, khususnya di Sulawesi Selatan, NLR Indonesia mendukung program Desa Sahabat Kusta (Desaku) di Kabupaten Bulukumba, dan  proyek MARDIKA (Masyarakat Ramah Disabilitas dan Kusta) di Kabupaten Jeneponto. Kegiatan Ruang Publik KBR yang bertema Perempuan dengan Kusta ini juga merupakan salah satu kegiatan Kerjasam NLR Indonesia dengan KBR sebagai perluasan informasi yang valid dan kreribel terkait kusta dan penanganan kusta di Indonesia.