Badan Bahasa Dorong Sanusi Pane Jadi Pahlawan Nasional

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si

Peran Sanusi Pane sangat penting dalan Kongres Pemuda I di Batavia (30 April-2 Mei 1926), dan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo (25-27 Juni 1938).

 

Cikal Bakal Badan Bahasa

Sebagai wakil Jong Bataks Bond di Kongres Pemuda I, Sanusi Pane (22 tahun) mengusulkan istilah "Bahasa Melayu" diganti menjadi "Bahasa Indonesia". Gagasan ini menjadi cikal bakal Sumpah Pemuda 1928. 

Dalam Kongres Bahasa Indonesia Pertama, Sanusi Pane menggagas pembentukan Institut Bahasa Indonesia yang menjadi cikal bakal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 

Ketika terjadi perdebatan di Kongres Pemuda I, Sanusi Pane mendukung pendirian Mohammad Tabrani perihal bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.  Sementara Mohammad Yamin bersikukuh bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. 

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si. menuturkan, berbicara Mohammad Tabrani, tidak dapat dipisahkan dari sosok Sanusi Pane sebagai tokoh yang turut terlibat dalam dinamika kebangsaan di masa itu. 

Untuk itu, Badan Bahasa mendorong penetapan Sanusi Pane sebagai pahlawan nasional, bersanding dengan Mohammad Tabrani yang resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2023. 

“Tentu peran beliau menjadi penting untuk kita lanjutkan. Badan Bahasa mendorong Sanusi Pane kita usulkan menjadi pahlawan nasional, mendampingi Mohammad Tabrani yang berjasa dalam pencetusan bahasa Indonesia,” tandas Hafidz dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Tahun 2026 “Menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda melalui 100 Tahun Gerakan Jiwa Kebangsaan Sanusi Pane”, Selasa 27 Oktober 2026, Aula Lantai 3 Graha Utama Gedung A, Kompleks Kemendikdasmen, Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta. 

Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, Hafidz melanjutkan, kita perlu kembali menengok proses panjang yang membentuk kesadaran kebangsaan Indonesia. 

Sumpah Pemuda bukan peristiwa yang hadir begitu saja secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari pemikiran, gagasan, dan perjuangan dalam perjumpaan antar kelompok, serta ikhtiar para pemuda, dan tokoh pergerakan.  

Tak hanya berupaya mengatasi tantangan perjuangan saat itu, para  tokoh muda ini, di antaranya Mohammad Tabrani dan Sanusi Pane, juga berpikir untuk arah perkembangan masa depan bangsa. 

Seminar Nasional Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Tahun 2026 menghadirkan narasumber utama Guru Besar Ilmu Sejarah FIB UI Prof. Dr. M.I. Djoko Marihandono, dan Wartawan/ Pegiat Komunitas Jejak Republik Priyantono Oemar.