Skip to main content

Featured Post

Ordering Food is Like Choosing Netflix Show

Every company has this same question they asked themselves everyday: How can we provide the most unique offering to our costumers? How can we win our cuctomers’ mind and heart? The type of question Grab also have. The Singaporean transportation network company has been expanding in Indonesia eversince it’s appearance in 2014. 

Cobek Dapat Pengaruhi Rasa


festival pesona lokal


Banyak faktor pengaruhi rasa makanan. Mulai dari bahan baku hingga pemilihan alat masak. Termasuk cobek dan ulekan. Ya, ternyata pemilihan jenis cobek juga turut memengaruhi rasa. Demikian ungkap Brand Director Kaum, Lisa Virgiano dalam Talkshow Let’s Go Local!, Menara By Kibar, Raden Saleh, Jakarta (7/10/18).  


Dari Magelang Untuk Hongkong

Lisa bercerita soal pengalamannya menggelar workshop mengulek sambal bersama warga Hongkong dan media internasional. Lokalatih berlangsung meriah dan mengundang perhatian media sosial di Hongkong. 

Selama ini mereka hanya tahu sambal Indonesia adalah cabe merah diulek dengan bawang dikasih garam. Padahal ada banyak jenis sambal di nusantara. Salahsatunya sambal tempoyak yang terbuat dari fermentasi durian.

Selain memiliki beraneka ragam sambal, kuliner kita juga khas dengan peralatan masak tradisionalnya, termasuk cobek dan ulekan. Dalam acara tersebut, Lisa membawa sendiri cobek dan ulekan berbahan macam-macam batu itu dari Jakarta ke Hongkong.

Cobek dan ulekan dia datangkan khusus dari perajin cobek dan ulekan di Muntilan Magelang yang mewanti-wanti supaya ulekan jangan sampai pecah. Kerapkali Lisa lebih memperhatikan cobek dan ulekan bawaannya ketimbang bagasi pesawat.

“Saya hand carry ulekan batu karena saya tidak percaya handling. Saya bawa dari Magelang. Ada dari batu kali, batu gunung, batu oplosan, dan yang dari semen,” tuturnya.

Siapa nyana ternyata cobek dapat memperkaya cita rasa. Menurut Lisa, ada dua faktor mengapa cobek bisa pengaruhi rasa yakni material cobek dan tekanan ketika melumatkan cabai atau rempah.

Ketika mengulek, cobek yang memiliki pori-pori halus dan yang kasar akan menghasilkan tekanan berbeda, terlepas dari faktor tekanan tangan kita. Sehingga ada yang bisa membuat bahan makanan yang diulek cepat halus atau bisa juga lama halusnya.

Cara mengulek pun bermacam-macam dan menghasilkan rasa yang bervariasi. Ada yang mengulek dengan pola memutar dan menumbuk. Teknik terakhir biasa kita temukan di tanah Batak atau daerah Jawa. Namun Lisa sebutkan, semua kembali lagi ke penguleknya yang punya gaya masing-masing. Tidak ada aturan baku.

"Kembali lagi ke penguleknya, karena mereka punya gaya sendiri-sendiri, dan tekanan tidak bisa distandarkan. Jangan terlalu dipikirin, jangan masukin dalam mimpi, yang penting praktek terus," seloroh Lisa.  

Talkshow Let's Go Local!


Jangan Asal Pilih Cobek

Kemudian yang paling penting, lanjut Lisa, adalah kecermatan kita mengenali dan mebedakan kualitas cobek  dan ulekan yang asli. Banyak orang tertipu memilih cobek batu padahal terbuat dari cetakan semen.   

“Mereka bisa bikin seolah seperti batu, dibikin berat tapi sebenarnya dari semen. Pengaruh tidak hanya rasa tapi juga kesehatan, karena nanti partikel-partikel semen akan tergerus dalam bahan makanan,” tandasnya. 


Melansir kompas.com , tips memilih cobek bermutu baik menurut Lisa adalah warnanya bukan hitam, melainkan abu-abu seperti warna alami batu. Jika mendapati cobek berwarna hitam, patut diragukan keasliannya. Karena besar kemungkinan warna hitam didapat dari cat. Koki restoran KAUM, Rachmad Hidayat menambahkan, kalau beli cobek, bisa dites kualitas dengan menggesek cobek pakai benda keras. Jika ada garis warna putih, berarti itu dicat.

Lisa terkesan idealis bawa sendiri cobek dan ulekan dari daerah asal pembuatnya, karena dia ingin memberikan penghargaan kepada warisan budaya kuliner negeri sendiri. Lambat laun bisa saja teknologi akan menggiling cobek dan ulekan serta menggerus industri rumahan produsen cobek dan ulekan.

Itu baru dari cobek, belum dari bahan baku makanan. Perlukah anak milenial mengenal  gembili, gembolo, kimpul, suweg, ganyong, atau garut? Kalau bukan kita yang memperhatikan potensi lokal, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

“Kalau kita perhatikan mendetil dengan daya kritis  kuat, kita bisa menggali banyak sekali unsur yang akhirnya bisa berikan reward ekonomi untuk warga lokal,” pungkas Lisa.  

Temuwicara juga menghadirkan Founder of Cameo Productions and Cameo Project, Martin Anugrah, Manajer Perjalanan dan Eksplorasi Spektakel.id Suryo Sumarahadi, dan Head of Business Development Region Grab Indonesia, Igel Zibriel, bersama Vice deputy hubungan internasional ICCN Felencia Hutabarat sebagai moderator.

Talkshow digelar dalam rangka sosialisasi Festival Pesonan Lokal. Festival Pesona Lokal adalah program CSR bersama Adira Finance, Kementerian Pariwisata (Pesona Indonesia) dan iNews yang didukung Adira Insurance. Festival  bertujuan untuk mempromosikan potensi budaya, pariwisata dan kearifan lokal suatu daerah.

Festival diselenggarakan dalam rangka HUT Adira Finance yang ke-28 Tahun. Kegiatan Festival Pesona Lokal diadakan di Bandung, Solo Raya, Bali, Makassar, Medan, Pontianak, Malang, Palembang, dan Jakarta mulai dari September hingga November 2018.








Comments

  1. Wah wah ternyata pemilihan cobek juga ngaruh ke rasa yah, ckckck saya ga pernah mikir sampe situ hihih kirain sama aja, eh di Bandung udah belum?

    ReplyDelete
  2. Ya ampun ternyata urusan cobek aja panjang ya kak. Nice info

    ReplyDelete
  3. Pantesan mama paling suka ngulek dibanding blender, karena mempengaruhi rasa ya, termasuk cobeknya

    ReplyDelete
  4. sambal tempoyak itu kesukaan aku lhooo hehe.. aku baru tau cobek bisa mempengaruhi rasa, pantes kalau sambal ulek lebih berasa dibandingkan yg di blender XD

    ReplyDelete
  5. Nah pantes ya ibuku dulu kalau pilih cobek juga lama hahaha sumpah akhirnya tahu juga ada pengaruhnya juga dirasa ya

    ReplyDelete
  6. Ternyata pemilihan cobek dan cara mengulek mempengaruhi rasa.

    Duh coba deh cobek di rumahku nanti aku gesek pakai benda tajam. Mana tau palsu dari semen ya. Duh sedih sih kalo emang iya.

    ReplyDelete
  7. Uwaw. Ternyata cobek tidak sesederhana itu ya mas. Wkwk keren euy Mbak Lisa mempromosikan kuliner dan cara membuat kuliner tradisional ke mancanegara!

    Btw, gembili, gembolo, kimpul, suweg, ganyong, atau garut itu apa ya mas? Sebagai anak milenial aku belum tahu nih wkwk

    ReplyDelete
  8. Baru paham daku dobel pun bisa memengaruhi rasa. Selama ini mah lihat kakak iparku dengan cobek masih enak aja sambal yang dibuatnya 😊

    ReplyDelete
  9. Baru tahu saya klo cobek dan ulekannya punya peran untuk memberikan citarasa pada sambel ulekan menjadi nikmat, ntar klo saya beli cobek beli yang dari batu saja klo begitu. Makasih Mas Infonya :)

    ReplyDelete
  10. Yang aku tahu dari dulu beda memang rasanya bumbu yg di ulek sama d blender.. pilih cobek juga mempengaruhi ya.. dpt oleh2 batu Malang..

    ReplyDelete
  11. Nah iya kadang suka ketipu sama cobek yang terbuat dari semen. Biar gimanapun lebih awet yang terbuat dari batu asli yaaa. Hasilnya lebih halus ulekan di cobek batu juga malah.. hehehe

    ReplyDelete
  12. Bikin sambal...emang enak pakai cobek sih..., Aroma dari rempah keluar sempurna ..
    Dibanding pakai blender...

    ReplyDelete
  13. Baru tau nih...yg kutahu nyambel pake cobek jauh lbh enak daripada pakai blender, klo sesama cobek berpengaruh juga baru tau ..nice info kaka hehe.

    ReplyDelete
  14. Oh ternyata beda ya? Baru tau nih saya jika tergantung pada cobek yg dipakai, kl saya menggunakan cobek yg terbuat dari batu. Lebih enak dipakai daripada yg terbuat dari kayu

    ReplyDelete
  15. Iyah dong apalagi kalo di cobek pakai cinta rasanya beda banget. Dekat rumah aku banyak kok pengrajin batu giling, nama lain untuk cobek kalo di Bengkulu

    ReplyDelete

Post a Comment